Arsip | romance RSS feed for this section

Spell for Love

18 Jul

“Minggu depan kau pergi ke acara reuni tidak?” tanya Lee Donghae untuk ke sekian kalinya mengajukan pertanyaan yang sama, melalui seberang telepon.
“–hei, Monkey! Apa kau mendengarkanku!?” teriaknya lagi kemudian, sudah tak sabar.
“Damn you, Fishy! Kau bisa membuatku tuli, kau tahu!”
Lee Hyuk Jae mengumpat seraya berteriak dengan sama tidak sabarnya pada sahabatnya itu. Suaranya membuatnya tersentak kaget hingga ia harus menjauhkan ponselnya beberapa senti dari telinganya.
Bukannya ia tak mendengarkan semua ucapan Lee Donghae tadi, hanya saja saat ini pikirannya benar – benar tengah terfokuskan pada berkas – berkas laporan yang berserakan di atas mejanya yang harus segera diselesaikannya. Apa Lee Donghae tak sadar diri kalau panggilan teleponnya itu mengganggu pekerjaannya?
Ia dengar Lee Donghae berulang kali membicarakan perihal reuni akbar sekolah dasarnya. Tapi ia belum tahu apakah minggu depan ia bisa memiliki waktu senggang, mengingat ia baru setahun dinobatkan sebagai manajer perencanaan oleh Ayahnya yang terbilang ketat dalam berbisnis sekalipun terhadap putranya sendiri.
“Jadi kau akan datang atau tidak?” kali ini suara Lee Donghae kembali melembut, seolah – seolah ia tengah berbicara dengan kekasihnya. “Apa kau tahu Kim Yoo Rin juga akan datang? Kau masih ingat dia, bukan? Dia benar – benar berbeda sekarang. Dan yang terpenting adalah… dia belum menikah!”
Mendengar Lee Donghae menyebut nama Kim Yoo Rin, ingatan masa kecil Lee Hyuk Jae tiba – tiba berkelebatan dalam otaknya. Satu persatu kenangan masa kecilnya berputar bagaikan menonton sebuah film. Banyak kenangan yang tak mengenakan antara dirinya dan gadis teman sekelasnya itu.
“Hei, cepol berjalan!” ledek Lee Hyuk Jae saat mendapati Kim Yoo Rin menggulung rambutnya menjadi 2 bagian berbentuk cepolan tinggi di kepalanya begitu gadis itu baru saja datang, melewati bangkunya dan duduk dikursinya dimana teman sebangkunya sudah lebih dulu datang. “Putri duyung bercepol? Hahaha… mana ada putri duyung dicepol?”
Lee Hyuk Jae tahu benar teman sekelasnya itu begitu menyukai dongeng putri duyung yang kerapkali diceritakannya pada teman sebangkunya, Gong Hee Jin, yang membuatnya bosan tiap kali mendengar mereka berdua bercerita yang tak ada habis – habisnya. Oleh sebab itu untuk menghentikannya berdongeng, Lee Hyuk Jae sering menjadikannya bahan ejekan dengan memberinya gelar putri duyung, entah itu putri duyung yang tersesat, putri duyung yang tertukar, putri duyung ingusan dan sekarang ia menyebutnya putri duyung bercepol.
Sayangnya, sekalipun ia sudah melontarkan berbagai macam ejekan untuk gadis itu, nyatanya itu tak menghentikannya bergosip. Bahkan tak jarang Kim Yoo Rin dan Gong Hee Jin hanya terdiam mengabaikan kata – katanya dan semakin menggebu jika membicarakan kisah puteri – puteri dari negeri Disney tersebut.
“Aku tidak terlalu suka akhir kisah dari putri duyung. Dia menjadi buih di lautan karena pangeran tak mencintainya,” cerita Kim Yoo Rin pada Gong Hee Jin seraya memamerkan ekspresi sedihnya yang segera diamini oleh teman sebangkunya itu tanpa menghiraukan ejekan Lee Hyuk Jae yang duduk di belakangnya.
“Putri Duyung bercepol, kau tak perlu mengkhawatirkan nasibmu sendiri. Kau takkan menjadi buih, tapi cepolan raksasa. Ya, kan, Donghae hahaha…”
Lee Donghae yang duduk di sebelah Lee Hyuk Jae hanya berusaha menahan tawanya, berulangkali menyikutkan sikunya padanya, mengingatkannya agar tak terus – menerus mengganggu Kim Yoo Rin. Sahabatnya itu cemas jika saja Kim Yoo Rin akan melemparinya lagi dengan buku tulisnya yang mungkin bisa lebih parah dari buku, mungkin tasnya yang berat, yang tak bisa dibayangkannya.
Lee Hyuk Jae mulai merasakan perubahan ekspresi wajah Kim Yoo Rin yang menoleh ke arahnya begitu ia melontarkan ejekannya. Sepertinya gadis itu siap untuk balas memaki – makinya dan ia hanya memasang senyuman termanisnya, berpura – pura tak mengerti.
Kim Yoo Rin melotot ke arahnya, membuka mulutnya seraya berkata, “Kau, Lee Hyuk Jae, manusia jelek, kukutuk kau akan menjadi budakku suatu saat nanti.”
“Hei, Hyukkie, berjanjilah kau akan datang bersamaku ke acara reuni minggu depan.”
kata – kata Lee Donghae membuyarkan lamunan Lee Hyuk Jae seketika. Segala ingatan tentang masa kanak – kanaknya tak lagi bercokol dalam otaknya. Bahkan beberapa kali pertanyaan Lee Donghae hanya ditimpalinya dengan sebuah gumaman. Ia tak terlalu mendengarkan kata – katanya, jadi cara tercepat menjawabnya hanyalah bergumam yang berarti ‘Ya’.
“Bagus! Kalau begitu aku akan menjemputmu di Apartmentmu minggu depan. Bye.”
Klik. Sambungan telepon pun segera terputus. Lee Hyuk Jae baru saja menyadari ucapan Lee Donghae tadi begitu sahabatnya itu menutup teleponnya sepihak, beranggapan bahwa ia setuju untuk datang minggu depan.
Astaga, Fishy idiot itu salah paham! Ia belum memutuskannya! Bagaimana ini!?
Lee Hyuk Jae masih menggenggam ponselnya erat. Bahkan ponsel itu dipelototinya dengan jengkel seolah emosinya itu mungkin bisa terhubung langsung pada Lee Donghae melalui telepati agar lelaki itu kembali menghubunginya. Tapi sayangnya itu tak berhasil dan ia hanya bisa menghela napas berat sebelum akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar.

★★★

Pekerjaan kantor Lee Hyuk Jae masih menumpuk saat Lee Donghae berulang kali menghubunginya, mengingatkannya untuk pulang cepat sebelum pukul 4 sore. Hal itu membuat Lee Hyuk Jae jengah hingga mau tak mau ia terpaksa menghentikan pekerjaannya saat jarum jam baru saja menunjuk ke angka 2.
Sebenarnya masih dua jam lagi sebelum Lee Donghae datang ke rumahnya. Tapi daripada ia terus menerus kesal mendengar ponselnya tak henti – hentinya berbunyi saat Lee Donghae terus menghubunginya karena ia tak segera mengangkatnya, ia lebih baik pulang dan bersiap – siap sekarang juga.
Tak lupa Lee Hyuk Jae meninggalkan pesan pada sekretarisnya, Lee Ji Eun untuk mengabarkannya bila Ayahnya mencarinya. Ia tahu pasti Ayahnya itu seringkali mengunjungi kantornya setiap sabtu untuk mengevaluasi kembali pekerjaannya.
Terdengar kekanak – kanakan memang. Tapi seperti itulah Ayahnya. Alasannya adalah agar Ayahnya itu tak ragu melepas jabatannya untuknya kelak di tahun depan. Oleh sebab itulah ia dipaksa kembali ke korea dan melepaskan pekerjaannya sebagai penari sekaligus koreografer profesional di Jepang.
Lee Hyuk Jae baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh tubuh masih setengah basah dan handuk yang melilit pinggangnya saat tiba – tiba saja terdengar bunyi klik di pintunya yang menandakan seseorang telah memasukkan kode rumahnya untuk membuka pintunya. Hanya keluarga, asisten rumah tangga dan Lee Donghae-lah yang mengetahui kode rumahnya.
Ia sudah tahu pasti jika yang datang adalah Lee Donghae. Dan benar saja, sahabatnya itu langsung menyapanya begitu melihatnya berdiri di ruang TV seraya menyuruhnya untuk cepat – cepat berpakaian agar mereka bisa segera pergi.
Tak perlu waktu lama bagi Lee Hyuk Jae untuk berdandan. Walau sebenarnya mereka masih punya waktu 1 jam lagi sebelum acaranya dimulai pada pukul 5 sore, tapi Lee Donghae menyarankan agar mereka lebih baik datang satu jam lebih awal.
“Memangnya kenapa kita harus datang sejam lebih awal?” tanya Lee Hyuk Jae penasaran.
“Itu karena aku ditunjuk sebagai MC.”
Lee Hyuk Jae hanya bisa mengernyitkan dahinya tak percaya. Sebelumnya Lee Donghae tak pernah mengatakan hal itu padanya. Tapi sudahlah, itu juga tak terlalu penting baginya untuk mengetahuinya. Setidaknya dalam rencananya semula, ia tak ingin berlama – lama di acara tersebut dan bisa mencari alasan untuk pergi, apalagi harus menunggui Lee Donghae.
“Kau tak bawa mobil?” tanya Lee Hyuk Jae saat menyadari Lee Donghae hanya berjalan mengikutinya di belakangnya menuju mobilnya yang terparkir.
“Tidak.” ujar Lee Donghae yang menggeleng cepat. “Jadi kau harus menungguiku hingga acara selesai, oke?”
Sialan! Lee Hyuk Jae hanya bisa mengumpat di dalam hatinya. Entah sepertinya Lee Donghae bisa membaca pikirannya atau bagaimana. Sahabatnya itu biasanya tak pernah membuang waktunya untuk tebar pesona dengan memamerkan mobil mewahnya bila datang ke sebuah acara bersamanya, dimana ia selalu dipaksanya untuk ikut mobilnya dan berakhir pulang dengan naik taksi bila manusia idiot itu berhasil mendapatkan teman kencan pada saat pulangnya. Padahal kemarin di telepon mereka sepakat untuk membawa mobil masing – masing, tapi ternyata lagi – lagi Lee Donghae menggunakan akal bulusnya.
Lee Hyuk Jae sesekali menggerutu kesal saat ia tengah mengemudikan mobil sedan berwarna hitamnya ke daerah Itaewon, lebih tepatnya ke sekolah dasar mereka dulu, bersama Lee Donghae yang duduk santai di kursi penumpang sembari sesekali bersiul riang. Sementara dalam otaknya, Lee Hyuk Jae ingin sekali menendang makhluk itu ke jalanan saat itu juga karena berhasil menipunya untuk kesekian kalinya.
Beruntung tak perlu waktu lama bagi mereka untuk bisa sampai di Itaewon yang hanya memakan waktu setengah jam perjalanan. Jadi Lee Hyuk Jae tak perlu berlama – lama mendengarkan celotehannya mengenai gadis – gadis yang tengah dikencaninya.
“Kita sudah sampai!” seru Lee Donghae yang segera bergegas turun dari mobil Lee Hyuk Jae. “Kau parkirkan saja dulu mobilmu. Aku akan menunggumu di dalam.”
Astaga, dia sudah seperti bosku saja! Awas kau Lee Donghae! Aku akan membuat perhitungan nanti!
Lee Hyuk Jae segera mencari tempat parkir yang kosong. Saat menemukannya, ia pun tak perlu membuang – buang waktu lagi. Namun saat ia hendak berbelok, dimana ia akan memarkirkan mobilnya di sebelah kiri, sebuah volvo mungil berwarna merah juga hendak menyerobot masuk ke parkiran kosong yang telah diincarnya.
Kaca jendela mobil tersebut diturunkan seluruhnya dan si pengemudi yang ternyata seorang wanita melongokkan kepalanya seraya berteriak, “Hei, aku dulu yang akan masuk!”
Lee Hyuk Jae tak ingin mengalah, lalu buru – buru menurunkan kaca jendela mobilnya juga dan melongokkan kepalanya ke luar jendela sembari berkata, “Maaf, tapi aku dulu yang menemukannya!”
Akhirnya karena jarak mobil Lee Hyuk Jae yang lebih dekat dari lahan kosong tempat parkir tersebut, mau tak mau si wanita pemilik volvo merah itu terpaksa mengalah dan memundurkan mobilnya. Lagipula seorang sekuriti tiba – tiba muncul di areal parkir itu, yang tentu saja tak akan tinggal diam dan mungkin saja akan menggelandang mereka berdua ke pos keamanan jika tak ada salah satu dari mereka yang mengalah.
Tentunya Lee Hyuk Jae bisa segera bernapas lega saat wanita itu mengalah dan pergi mencari tempat parkir lainnya. Ia pun segera berjalan memasuki gedung sekolahnya, mencari Lee Donghae di suatu tempat.
“Hyukkie, aku disini!” panggil Lee Donghae saat menyadari kemunculan Lee Hyuk Jae yang tengah celingukan seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
Lee Donghae sedang berbicara dengan seorang gadis berambut panjang bercatkan coklat terang. Gadis yang cantik, namun sedikit bergaya tomboy dengan dress mini berwarna merah dipadukan boot hitam selutut. Gadis itu lalu meneriakkan sebuah nama seraya melambaikan tangannya ke arah belakang punggung Lee Hyuk Jae.
“Yoo Rin!”
Tunggu dulu, siapa nama yang dipanggilnya itu? Yoo Rin? Aku harap itu bukan Kim Yoo Rin, teman sekelasnya yang sering dipanggilnya putri duyung. Tapi bukankah ada banyak Yoo Rin di angkatannya dulu?
Lee Hyuk Jae segera memutar kepalanya dengan gerakan melambat seperti dalam film Matrix. Ia hanya sedikit cemas atau lebih tepatnya dikatakan gugup. Sudah sekian lama ia tak pernah bertemu dengan teman – teman sekolah dasarnya, kecuali Lee Donghae yang selalu berkeliaran di sekitarnya, yang sudah 17 tahun lamanya, terutama bertemu Kim Yoo Rin.
Dan Lee Hyuk Jae pun dibuat terkejut oleh seorang gadis cantik berambut hitam panjang yang sedikit bergombang, berpenampilan feminin dengan dress terusan selutut tanpa lengan berwarna jingga yang dipadu padankan high heels berwarna senada dan lipstik nude yang memoles bibir tipisnya, tengah berjalan mendekat. Ia mengenali wajah gadis itu sebagai gadis pemilik volvo merah yang ingin menyerobot tempat parkirnya.
Gadis itu berjalan melewati Lee Hyuk Jae yang menatapnya intens. Aroma parfumnya yang lembut dan manis dengan segera menggelitik hidungnya, membuatnya ingin menghujamkan kepalanya di bahunya untuk memeluknya. Dengan cepat otaknya buru – buru mengusir pikiran bodoh yang baru saja terlintas di kepalanya tersebut dan segera membuang mukanya ke arah lain, seakan – akan ia baru saja terbebas dari mantra sihir akan pesona gadis itu.
“Lee Hyuk Jae, kenapa kau berdiri saja disitu?” seru Lee Donghae yang membuatnya segera menoleh ke arahnya.
“Lee Hyuk Jae?” celetuk gadis cantik berambut hitam panjang tersebut.
Lee Hyuk Jae hanya memasang senyum simpul di wajahnya, berusaha memamerkan sikap ramahnya seraya membungkukkan badannya sekilas. Sementara Lee Donghae segera melingkarkan tangan kirinya di bahu Lee Hyuk Jae seraya mengiyakan ucapan gadis itu.
“Oh, musuh kita datang juga rupanya, Yoo Rin.” ucap gadis berambut coklat. “Kau masih ingat padaku, Lee Hyuk Jae? Aku Gong Hee Jin dan ini Kim Yoo Rin.”
“Oh astaga, kalian putri – putri dari negeri dongeng rupanya! Putri Duyung bercepol dan Putri Es Balok.” ledek Lee Hyuk Jae yang berpura – pura terkejut walau sebenarnya ia sudah bisa menebaknya sejak awal jika itu adalah mereka.
Walaupun wajah Kim Yoo Rin dan Gong Hee Jin banyak berubah, tapi ada sisi dari wajah kanak – kanak mereka yang masih tertinggal, terutama Kim Yoo Rin yang memiliki mata bulat. Bukan hanya itu, lesung pipi sebelah kanannya saat tersenyum membalas sapaan Gong Hee Jin dan Lee Donghae tadi yang membuatnya segera mengenalinya.
“Beraninya kau masih memanggil kami seperti itu!”
“Hee Jin,” sergah Kim Yoo Rin seraya menarik lengan Gong Hee Jin dan menyunggingkan senyum. “Dia hanya bercanda.”
“Aku tahu. Untung saja kau sekarang tampan Lee Hyuk Jae, sehingga kami tak bisa memukulimu habis – habisan.”
“Sudah, kalian jangan mempermasalahkan saja masa lalu. Hee Jin, sudah waktunya kita check sound. Sebentar lagi acara akan dimulai.”
Lee Donghae dan Gong Hee Jin segera meninggalkan Lee Hyuk Jae bersama Kim Yoo Rin. Ia sepertinya berpartner dengan Gong Hee Jin sebagai pembawa acara untuk reuni akbar yang akan berlangsung cukup lama itu.
Lee Hyuk Jae mulai mengajak bicara Kim Yoo Rin. Ia memulai pembicaraan mereka dengan meminta maaf mengenai apa yang telah terjadi di antara mereka dulu dan Kim Yoo Rin hanya tersenyum sembari berkata jika dirinya tak pernah mempermasalahkannya lagi sekarang.
Gadis itu masih tetap sama, tak banyak berubah, selalu ramah, bersikap baik dan riang. Bahkan saat beberapa teman datang menghampiri dan menyapa mereka berdua, senyuman di bibirnya tak pernah lepas. Hingga tanpa sadar Lee Hyuk Jae sesekali menatapnya lekat.
Hingga akhir acara, semuanya berlangsung dengan lancar dan cukup meriah. Acaranya diisi dengan beberapa permainan seru yang membuat sebagian dari mereka yang hadir menunjukkan kebolehan masing – masing di atas panggung, termasuk Lee Hyuk Jae yang menari dengan lincahnya.
Sejak duduk di sekolah menengah pertama, ia memang gemar menari yang hingga kini masih ditekuninya sesekali di akhir pekan bersama teman – temannya Bboy-nya dulu, sebelum ia direkrut oleh sebuah manajemen tari yang membawanya ke Jepang 11 tahun lalu. Jadi bila ia didaulat untuk menunjukkan bakatnya, maka menarilah jawabannya.
Lee Donghae yang terlalu malas untuk pulang ke Apartmentnya sendiri, memilih menginap di rumah Lee Hyuk Jae hingga keesokan harinya sembari menghabiskan malam bersama dengan minum – minum berdua dan membicarkan hal – hal seputar acara reuni yang tadi mereka datangi. Lee Hyuk Jae tak pernah keberatan akan hal itu, mengingat sudah lamanya mereka berteman. Lagipula tak jarang ia juga melakukan hal yang sama.

★★★

“Pesan dari siapa itu?” tanya Lee Donghae yang kebetulan siang itu sedang mampir di kantor Lee Hyuk Jae setelah hampir beberapa bulan tak bertemu karena sibuk dengan pekerjaan masing – masing, menyipit curiga saat mendapati Lee Hyuk Jae yang menyingkir darinya saat menerima sebuah pesan singkat di ponselnya seraya tersenyum penuh arti. “Apa itu Yoo Rin? Hubunganmu semakin membaik semenjak acara reuni waktu itu rupanya.”
Memang benar hubungan Lee Hyuk Jae dan Kim Yoo Rin semakin membaik, bahkan bisa dikatakan sudah akrab sekarang. Mereka juga kerapkali bertemu, entah itu hanya untuk sekedar ngopi – ngopi, makan siang, atau jalan – jalan bersama.
Selain itu Lee Hyuk Jae juga sering menemuinya di kantornya, membawakan makan siang atau apapun itu yang bisa dijadikannya alasan untuk sekedar melihatnya. Bahkan sesekali Kim Yoo Rin meminta tolong pada Lee Hyuk Jae untuk melakukan hal kecil seperti membantunya memasang lampu di Apartmentnya dan hal kecil lainnya yang tak bisa ditolaknya.
“Kau sudah diperbudak.”
Sekalipun kata sindiran yang seringkali dilontarkan Lee Donghae itu memang terdengar benar adanya, Lee Hyuk Jae tak mengindahkannya. Baginya, asalkan ia bisa melakukan apapun untuk membantunya, ia sudah senang. Hingga akhirnya Lee Hyuk Jae menyadari satu hal, yaitu ‘kutukan Kim Yoo Rin dulu mulai bekerja padanya’.
Walau begitu Kim Yoo Rin tak benar – benar memperbudaknya. Gadis itu juga sering melakukan hal kecil yang membuat hati Lee Hyuk Jae berbunga – bunga, seperti membuatkan bekal makan siang yang diantarnya ke kantor Lee Hyuk Jae, mengundangnya makan malam di Apartmentnya, hingga mengajaknya menikmati es krim di pinggir jalan saat udara sedang panas – panasnya. Hal itu tentu saja membuat Lee Hyuk Jae menaruh harapan tinggi jika gadis itu juga menyukainya.
“Maaf sudah membuatmu menunggu lama.”
“Tidak apa – apa. Aku juga baru saja datang.” sahut Lee Hyuk Jae berbohong yang sebenarnya sudah menunggu sekitar sepuluh menit.
Lee Hyuk Jae sengaja mengajak Kim Yoo Rin untuk makan malam bersama hari ini. Ia sudah merencanakan sesuatu dimana ia akan menyatakan cintanya pada gadis itu. Harapannya yang teramat besar adalah agar cintanya diterima olehnya.
Begitu Kim Yoo Rin datang, Lee Hyuk Jae segera memesankan menu spesial yang disediakan oleh restoran Perancis ‘Bon Apetit yang merupakan restoran langganannya itu. Beruntung gadis itu tak pemilih soal makanan sehingga Lee Hyuk Jae tak perlu bingung memilihkan menu untuknya.
Dan disaat mereka berdua tengah menikmati makan malam mereka berdua, ponsel Kim Yoo Rin berdering pelan. Gadis itu pun segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas tangannya, melihat nama si penelepon yang tertera di layarnya sekilas sebelum akhirnya menggeser layar sentuh ponselnya untuk menjawabnya.
“Sudah sampai? Iya baiklah.” jawabnya singkat sebelum kemudian segera menutup panggilan teleponnya dan kembali melahap makanannya.
Lee Hyuk Jae sudah membuka mulutnya, hendak menanyakan siapa penelepon barusan. Tapi kemudian ia mengurungkan niatnya dan kembali mengatupkan mulutnya rapat.
“Aku ingin mengenalkan seseorang padamu,” bisik Kim Yoo Rin seraya menatap Lee Hyuk Jae sekilas dan kembali menatap piringnya.
“Siapa?”
Belum sempat Lee Hyuk Jae mendapatkan jawaban yang diinginkannya dari Kim Yoo Rin, gadis itu sudah lebih dulu melambaikan tangannya ke belakang punggungnya. Lee Hyuk Jae pun dengan spontan memutar kepalanya, mengikuti pandangan mata Kim Yoo Rin.
“Perkenalkan ini tunanganku, Choi Siwon. Dia baru saja kembali dari Macau setelah meninggalkanku berbulan – bulan untuk bekerja disana.” celoteh Kim Yoo Rin yang segera bangkit berdiri lalu merangkulkan sebelah tangannya pada pinggang Pria tampan bertubuh tinggi dan atletis yang sudah berdiri di depan meja mereka berdua dimana aura wajah gadis itu berubah menjadi lebih berseri – seri. “Oppa, perkenalkan ini temanku semasa SD, Lee Hyuk Jae.”
Kaki Lee Hyuk Jae tiba – tiba seolah melemas seakan – akan tulang – tulangnya baru saja dikeluarkan secara paksa dari tubuhnya. Hatinya remuk redam seketika. Ia patah hati. Benar – benar patah hati.
Lee Hyuk Jae tak pernah mengetahui sebelumnya jika Kim Yoo Rin telah memiliki tunangan yang sebentar lagi akan dinikahinya. Gadis itu bahkan tak pernah memajang foto mereka berdua di Apartmentnya yang seringkali dikunjunginya.
Selain itu Kim Yoo Rin juga tak pernah sekalipun membahas kehidupan asmaranya, kecuali masalah pekerjaan yang menurutnya membutuhkan pendapatnya. Lagipula gadis itu juga jarang mendapatkan panggilan telepon dari pria lain saat mereka tengah bersamaOleh sebab itu ia tak pernah tahu.
Salahnya yang tak pernah menanyakan hal itu pada Kim Yoo Rin. Salahnya juga yang tak peka terhadap cara gadis itu dalam memperlakukannya maupun dalam mengartikan hubungan mereka beberapa bulan belakangan ini. Dan disaat semuanya sudah terlambat, Lee Hyuk Jae hanya bisa terluka.
Ada sesuatu yang akhirnya Lee Hyuk Jae sadari kini. Sebuah dongeng putri duyung yang begitu disukai Kim Yoo Rin sejak kecil, sepertinya lebih cocok diperankan olehnya. Ia mencintai sang putri cantik yang tak membalas cintanya. Hingga akhirnya ia harus menerima takdirnya untuk menjadi buih di tengah lautan.

Iklan

[ONESHOT] TVXQ – JJ

16 Jun

jj

Kim Tae In sedang berjalan pulang menuju rumahnya setelah seharian bekerja. Jalannya tampak gontai dan langkahnya agak berat. Begitu hampir sampai di depan rumahnya, Tae In pun segera melepas sepatu hak tingginya, yang seharian menyiksanya. Kemudian dia masuk ke dalam rumahnya. “Eomma, aku pulang!”, ucap Tae In pelan. “Oh kamu sudah pulang. Ayo cepat bersihkan dirimu, lalu makan malam dulu”, sahut Ibu Tae In yang langsung keluar dari kamarnya begitu mendapati Tae In pulang kerja. “Aku malas makan, Eomma. Aku mau mandi dan langsung tidur saja”, jawabnya. “Eh, tidak biasanya kamu malas makan”, ujar Ibu Tae In. “Aku sedang tidak mood, Eomma”, Tae In menyahut dan langsung masuk ke kamarnya.
Ditaruhnya tasnya diatas meja belajarnya. Dibukanya Cardigan yang dipakainya dan ditaruh diatas punggung kursi. Lalu saat hendak membuka lemari pakaiannya, Tae In terkejut bukan main mendapati Kim Jaejoong sedang berbaring diatas tempat tidurnya dengan menatap Tae In tanpa berkata apa-apa. “Yah~kamu mengagetkanku saja! Aku pikir hantu!”, teriak Tae In. “Aku capek menunggumu sejak tadi”, sahut Jaejoong. “Tidak bisakah kamu menunggu diluar, kenapa harus dikamarku! Lagipula aku tidak menyuruhmu untuk datang kemari!”, omel Tae In. “Lalu sms yang aku terima kemarin lusa itu apa yang isinya miss you?”, ujar Jaejoong pura-pura tak mengerti. “Yang mana? Aku tidak merasa mengirim sms”, Tae In mengelak dan memasang tampang polos. Jaejoong beranjak dari tidurnya dan berdiri disebelah Tae In, lalu berbisik, “Kamu itu benar-benar tidak pandai berbohong”. “Aku tidak bohong. Sudahlah, aku mau mandi dan tidur. Sebaiknya kamu cepat pulang sebelum Manajermu mencarimu. Lagipula aku khawatir sasaeng fansmu akan mengikutimu sampai kemari, lalu membunuhku”, ujar Tae In yang langsung keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi, Tae In kembali masuk ke kamarnya. Dia mendapati Jaejoong yang sudah tidak ada dikamarnya. Tae In segera keluar kamar untuk mencari Jaejoong. “Eomma, apa dia benar-benar sudah pulang?”, tanya Tae In pada ibunya. Sementara itu ibu Tae In hanya diam saja tak menjawab pertanyaan anaknya itu. “Kamu mencariku ternyata hahaha..”, ujar Jaejoong yang tiba-tiba muncul dihadapannya sambil membawa segelas air minum. “Tidak, aku tidak mencarimu”, elak Tae In. “Noona memang selalu berbohong. Padahal dia selalu berkata kalau dia rindu padamu, Hyung”, celetuk Tae Jun, adik Tae In. “Anak kecil tahu apa! Cepat tidur sana, ini sudah hampir jam 10 malam!”, teriak Tae In.
***
Jaejoong mengajak Tae In keluar untuk menghirup udara malam. Sudah hampir setengah tahun mereka tidak bertemu karena tuntutan pekerjaan Jaejoong yang padat sebagai kpop idol. Tae In tidak pernah ingin bertemu Jaejoong, karena khawatir pertemuan mereka terekspos wartawan. Tae In lebih senang hanya dengan mengetahui kalau Jaejoong baik-baik saja. Namun Jaejoong tidak berpikir seperti itu, dia rela diam-diam kabur saat libur hanya untuk mendatangi Tae In.
“Apa benar-benar tidak ada yang mengenalimu saat kamu keluar?”, tanya Tae In cemas. “Aku rasa tidak ada”, sahut Jaejoong. “Jawabanmu sangat tidak meyakinkan”, komentar Tae In. “Jawabanku sudah benar”, ucap Jaejoong.
Kaki Tae In sebenarnya masih terasa capek setelah bekerja seharian pekerjaan mondar-mandir dikantor. Tapi karena Jaejoong mengajaknya jalan-jalan, dia tak kuasa menolaknya. Apalagi sangat jarang baginya untuk bisa bertemu dengannya. Jaejoong menghentikan langkahnya dan berkata, “Kita makan dulu. Kamu belum makan malam bukan?”. “Aku sedang malas makan. Itu~kita makan ramen saja!”, seru Tae In seraya menunjuk pedagang mie di pinggir jalan. “Malas makan apanya, bilang saja kamu lapar!”, sindir Jaejoong. “Iya aku lapar, Eomma. Ayo kita makan ramen!”, rengek Tae In. “Ya baiklah!”, Jaejoong setuju. “Eomma baik sekali haha..”. “Berhenti memanggilku begitu!”, sungut Jaejoong, sementara itu Tae In hanya tertawa.
Mereka pun menghampiri pedagang ramen yang hanya berjualan dimalam hari itu. Tae In memesan cola untuk dirinya sendiri, sedangkan Jaejoong memesan teh. Awalnya Jaejoong ingin memesan soju, tetapi Tae In melarangnya. “Kamu ingin minum cola-ku?”, tanya Tae In pada Jaejoong. “Kamu meledekku, hah!”, seru Jaejoong. “Hahaha..tenang saja, kamu tidak akan pingsan lagi”, ledek Tae In. “Aish~jauhkan minuman itu dariku!”, teriaknya. Tae In hanya tertawa melihat ekspresi Jaejoong yang ketakutan dengan Cola. Jaejoong memang mempunyai phobia terhadap Cola. Dulu dia pernah mengikuti kompetisi minum Coca Cola, tetapi dia jatuh pingsan setelah meminumnya. Sejak saat itu dia jadi phobia terhadap Cola.
“Hah hah hah.. Kenapa ramenku pedas sekali!?”, teriak Tae In begitu memakan ramen yang ada dihadapannya. Jaejoong yang melihat Tae In kepedasan hanya tertawa saja. “Kamu yang menukarnya ya! Sialan! Aku kan tidak suka pedas! Kamu ingin membunuhku, hah!”, sewot Tae In. “Hahaha.. Ini tidak pedas”, ujar Jaejoong yang langsung menukar kembali ramennya. “Kamu itu maniak pedas, sedangkan aku tidak, dasar bodoh!”, omel Tae In.
Selesai makan ramen, Jaejoong kembali mengantar Tae In pulang kerumahnya. Mereka berjalan kaki menuju rumah Tae In yang letaknya tak terlalu jauh. “Apa kakimu sakit?”, tanya Jaejoong. “Tidak, aku baik-baik saja”, jawab Tae In. “Kamu berbohong lagi”, kata Jaejoong. “Hehehe..sebenarnya sedikit capek saja. Kalau begitu gendong aku sampai rumah”, pinta Tae In. “Aish, tubuhmu itu berat”, sindir Jaejoong. “Tidak, aku ini langsing. Jadi tentu saja ringan!”, protes Tae In. Tae In merengek minta digendong sambil berupaya naik ke atas punggung Jaejoong. Akhirnya Jaejoong pun mengalah, “Ya baiklah, cepat naik!”. Kemudian Jaejoong menggendong Tae In ke punggungnya. Tae In tertawa senang bisa membodohi Jaejoong. “Kamu benar-benar berat, kamu tahu!”, omel Jaejoong. “Jangan berisik, cepat jalan!”, perintah Tae In. Jaejoong hanya mendengus kesal. “Joongie~”, gumam Tae In pelan. “Hmm~ apa?”. “Bernyanyilah untukku”. “Eh? Sekarang?”. “Tidak, tahun depan! Tentu saja sekarang!”. “Kamu harus membayarku dulu! Aku ini idol paling tampan se-korea dengan suara paling indah, kamu tahu!”. “Kamu ini narsis sekali! Aku mengantuk, aku ingin kamu bernyanyi agar aku cepat tidur haha..”. “Enak saja! Kamu menyuruhku bernyanyi hanya untuk meninabobokanmu!”. “Kamu ini benar-benar cerewet seperti ibu-ibu! Ya sudah jangan bernyanyi! Suara Junsu masih lebih bagus darimu!”. Kemudian tiba-tiba Jaejoong bernyanyi. Dia menyanyikan lagu soundtrack drama yang pernah dibintanginya, lagu yang menjadi lagu favorit Tae In, I’ll Protect You. Tae In segera ikut terhanyut begitu mendengar suara Jaejoong yang lembut. Dia terdiam mendengarkan baik-baik saat Jaejoong bernyanyi. “Kyaaa~bagus sekali! Aku suka!”, seru Tae In sambil bertepuk tangan begitu Jaejoong selesai bernyanyi. “Tentu saja! Itulah sebabnya aku menjadi idola nomor satumu”, sahut Jaejoong tertawa. “Biasa, narsismu kambuh!”, ujar Tae In mencela Jaejoong. “Tae In-ah, terima kasih kamu selalu mengerti aku selama ini. Punggungku ini akan selalu kusediakan untukmu, kapanpun kamu mau. Dan aku ingin selalu bernyanyi untukmu, kapanpun kamu memintanya”.

Mission Unbelievable Chapter 3

12 Jun

donghae_and_eunhyuk_bicycle_shirts-7706

Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, Eunhyuk mulai terlihat cemas. Waktu menunjukkan pukul 03.00 pm dan Hana belum juga datang. Eunhyuk cemas kalau gadis itu tidak akan datang. Dia tampak mondar-mandir di depan gedung Lotte World sambil sesekali melihat ke arah jalan, memastikan kedatangan Hana. Tak berapa lama yang ditunggu pun datang dengan tergesa-gesa. Eunhyuk tersenyum saat melihat gadis itu dari kejauhan. Gadis itu hanya melambaikan tangannya saat melihat Eunhyuk yang tersenyum ke arahnya.
“Eunhyuk-ssi, maaf aku datang terlambat. Apa kau sudah menunggu lama?”, ujar Hana begitu tiba didepan Eunhyuk dengan napas tersengal-sengal. “Tidak apa-apa. Aku juga baru saja datang”, sahut Eunhyuk tersenyum dan sedikit berbohong karena sebetulnya dia sudah menunggu Hana sejak 30 menit lalu, bahkan dia sempat bersembunyi saat melihat kedatangan Donghae dan Haneul 5 menit lalu. Eunhyuk lalu menyodorkan jam tangan milik Hana yang ada padanya. “Ah, terima kasih. Aku pikir aku telah menghilangkannya hehe..”, sahut Hana. Eunhyuk tersenyum dan berkata, “Kau terburu-buru sekali kemarin, hingga meninggalkannya begitu saja!”. Hana tersenyum lagi, “Iya, aku benar-benar lupa!”. Eunhyuk hanya tersenyum sambil menatap wajah Hana dan berpikir, “Gadis kecil ini manis sekali”. “Umm~Eunhyuk-ssi, apa kita tidak akan masuk ke dalam dan bersenang-senang?”, tanya Hana berusaha mengusir kecanggungan diantara mereka. “Ah~ya, ayo kita masuk!”, ajak Eunhyuk kemudian. Sebelumnya mereka membeli tiket masuk terlebih dahulu. Setelah tiket ditangan, mereka pun masuk ke dalam. Karena hari ini akhir pekan, suasana di dalam arena pun sangat ramai. Setiap pengunjung datang bersama dengan pasangannya masing-masing. Namun ada juga yang datang sekeluarga dengan anak-anak mereka.
“Umm~pagi tadi Haneul berkata padaku kalau dia juga akan kemari bersama Donghae-ssi, apa kau tahu itu?”, tanya Hana tiba-tiba. “Benarkah? Aku tidak tahu itu, Donghae tidak memberitahuku”, sahut Eunhyuk berbohong, padahal sebenarnya dia sudah tahu akan hal itu pagi tadi. “Oh~begitu”, ucap Hana singkat. “Memangnya kenapa?”, ujar Eunhyuk balik bertanya. “Tidak apa-apa. Hanya saja kalau kau tahu sebelumnya mungkin kita bisa berangkat bersama”, jawab Hana. “Bagaimana kalau kita hubungi mereka agar bisa menemukan mereka dengan mudah? Karena tempat ini begitu luas akan lebih sulit kalau mencarinya. Aku akan menghubungi Donghae”, usul Eunhyuk. Hana segera menyetujuinya, namun dia berkata agar tidak memberitahu keberadaannya pada Haneul. Eunhyuk mengiyakan, lalu dia langsung menghubungi Donghae dan menanyakan keberadaannya. Donghae memberitahu kalau dia dan Haneul sedang makan es krim di Amusement Park Magic Island and Adventure. Eunhyuk dan Hana pun segera menuju ke tempat itu.
“Donghae-ssi, terima kasih sudah mengajakku kemari. Aku senang sekali”, ujar Haneul yang terus memamerkan senyuman manisnya sambil sesekali memakan es krimnya. “Iya, aku juga senang bisa berjalan-jalan denganmu. Umm~Haneul-ssi…”, ucap Donghae menggantungkan kalimatnya. “Ah~ya, Donghae-ssi?”, tanya Haneul tak mengerti. Donghae memberi tanda dengan menunjuk bibirnya sendiri dan berkata, “Itu~di bibirmu. Sini, biar aku ber…”. “Kalau makan es krim yang benar, jangan belepotan seperti itu! Kau jorok sekali!”, kata Hana yang tiba-tiba muncul disamping Haneul sambil menempelkan tisu di bibir Haneul dengan agak menekannya. “Aish, apa-apaan ini! Kau!”, pekik Haneul saat melihat Hana di depannya yang tersenyum lebar. “Hai..Donghae-ssi, senang bertemu kembali denganmu. Dan kau, apa kau merindukanku, gadis tengik!?”, ujar Hana tersenyum. “Hai Hana-ssi. Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi. Duduklah, mari bergabung dengan kami”, sahut Donghae mengiyakan. Haneul tersenyum dan menyapa Eunhyuk, lalu dia menatap sengit pada Hana. Saat Hana hendak duduk disamping Eunhyuk yang juga berhadapan dengan Haneul, tiba-tiba Haneul malah memegang tangan Hana. “Aku ingin ke toilet. Bisa kau temani aku sebentar Hana-ya? Donghae-ssi Eunhyuk-ssi, kami tinggal dulu sebentar ya!”, ucap Haneul yang langsung menarik tangan Hana. “Aku permisi dulu sebentar ya, Eunhyuk-ssi Donghae-ssi!”, ujar Hana seraya tersenyum kepada kedua pria itu.
Haneul membawa Hana ke tempat yang agak jauh dari pandangan kedua pria itu. “Sialan, kau benar-benar mengganggu tadi! Padahal Donghae-ssi hampir saja mengusap bibirku yang penuh es krim! Apa kau tidak bisa melihat situasi terlebih dahulu dan muncul begitu saja!”, omel Haneul. “Hahaha aku rasa aku datang disaat yang tepat!”, sahut Hana. “Bukkk~”, Haneul memukul kepala Hana. “Hei, sakit, bodoh!”, sewot Hana. “Rasakan! Aku sedang berusaha mendapatkannya, tapi kau mengganggu saja, gadis tengik!”. “Aku sudah tahu rencana busukmu! Kau ingin mendapatkan kecupannya, dasar menjijikkan, otak mesum!”. “Biar saja! Yang penting aku bisa mendapatkannya!”. “Donghae-ssi sepertinya sedang sial karena bertemu denganmu! Sudahlah ayo kita kembali ke tempat mereka! Tidak enak membuat mereka menunggu!”.
Eunhyuk dan Donghae terlihat sedang asyik mengobrol sambil sesekali tertawa bersama. Mereka tampak akur bagaikan saudara kembar. “Maaf membuat kalian menunggu!”, ujar Haneul pada Donghae dan Eunhyuk. “Oh tidak apa-apa”, sahut Eunhyuk. “Hei, bagaimana kalau kita naik kereta gantung?”, celetuk Donghae tiba-tiba. “Ah ide bagus, ayo!”, ucap Haneul. “Kereta gantung? Apakah aman?”, tanya Hana agak khawatir. “Apa kau takut ketinggian?”, Eunhyuk balik bertanya. Hana hanya mengangguk pelan. “Tidak apa-apa, itu aman. Kau tenang saja, selama ada Eunhyuk disampingmu, kau aman. Tapi berhati-hatilah padanya sedikit. Mungkin dia akan memelukmu atau bahkan lebih, mengingat banyaknya koleksi blue film-nya, mungkin dia akan mempraktekkannya hahaha..!”, kata Donghae membuka aib Eunhyuk. “Apa!?”, ujar Hana dan Haneul bersamaan dengan tampang terkejut, lalu saling berpandangan. “Bukkk..”, Eunhyuk memukul kepala Donghae. Donghae mengaduh kesakitan sambil tertawa dan mengusap-usap kepalanya. “Itu tidak benar! Jangan percaya pada ucapannya! Aku bukan pria semacam itu!”, Eunhyuk membela diri. Hana menatap mata Eunhyuk, dia melihatnya berkata jujur. “Kau berkata sembarangan, Donghae-ssi. Aku tidak percaya itu hahaha..”, ucap Hana seraya tertawa demi mencairkan suasana. Eunhyuk hanya tersenyum mendengar ucapan Hana. “Ayo kita kesana sekarang!”, teriak Haneul bersemangat.
Ternyata antrian untuk menaiki kereta gantung cukup panjang. Mereka pun harus sabar mengantri. Sambil menunggu, Eunhyuk pun pergi membeli cemilan dan minuman untuk dimakan nanti. Donghae mengusulkan agar menaiki kereta yang terpisah, katanya takut kelebihan beban, padahal itu hanya alasan saja. Sebelumnya mereka telah merencanakan agar bisa berkencan berdua dengan pasangan masing-masing. Akhirnya setelah mengantri selama 30 menit, mereka pun mendapatkan giliran masuk ke kereta gantung tersebut. Haneul dan Donghae sudah terlebih dahulu masuk ke keretanya, kemudian giliran Hana dan Eunhyuk.
“Wah, pemandangannya indah sekali! Kota Seoul tampak kecil jika dilihat dari atas sini!”, seru Hana. Eunhyuk hanya mengangguk dan mengiyakan sambil tersenyum melihat Hana yang tampak senang. Lalu tiba-tiba kereta itu pun bergerak maju. “Keretanya bergerak! Apa ini aman? Sungguh tidak apa-apa bukan? Kapan kita akan turun?”, ujar Hana yang mulai ketakutan. “Tidak apa-apa, ini aman. Kau tidak usah khawatir. Kau duduk saja!”, sahut Eunhyuk. “Kepalaku jadi pusing saat melihat ke bawah”, ucap Hana yang tertatih-tatih saat ingin duduk. Tiba-tiba saja keretanya bergoyang dan membuat Hana kehilangan keseimbangan. “Hati-ha…” Brukk! Mereka berdua kehilangan keseimbangan dan terjatuh di lantai kereta. Tangan Eunhyuk menahan kepala Hana, akan tetapi karena tak sengaja bibir mereka bertemu. Dalam beberapa detik pula mata mereka bertatapan. Setelah menyadari terjadinya kecelakaan kecil itu, mereka segera bangkit berdiri dan duduk berhadapan, bukan bersebelahan. Wajah mereka tampak memerah hingga mereka tak sanggup berkata apa-apa.

posted by Iyagi

JYJ [ONESHOT] – Yoochun – Because I’m In Love

11 Jun

yoochun-mickyfan-MPM-MickyHousey-4

Han Suji atau yang biasa dipanggil Suzy, sedang asik menikmati makan malamnya dengan semangkuk ramen disebuah minimart 24 jam sambil sesekali menatap hujan ke arah luar jendela. Suzy baru saja pulang mengajar di SMA Inha. Namun karena ditengah jalan hujan turun dengan derasnya dan dia tidak membawa payung, dia pun mampir ke sebuah minimart untuk berteduh. Hari ini cukup melelahkan baginya. Menghadapi murid-murid SMA bukanlah pekerjaan mudah, yang hanya seorang guru baru yang masih belum berpengalaman. Salah seorang muridnya yang bernama Park Yoohwan adalah salah satu dari sekian murid yang seringkali membuat kepalanya berdenyut karena ulahnya. Anak itu seringkali menyatakan cintanya pada Suzy, bahkan mengajaknya menikah setelah dia lulus. Bahkan dia juga kerapkali mengajak Suzy untuk kencan dengannya, yang tentunya selalu dia tolak.
Suzy menghela napasnya dengan berat. Hujan belum berhenti dan masih menyisakan gerimis. Dilihatnya jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya, hampir menunjukkan pukul 8 malam. Ramennya sudah habis sejak tadi, tapi dirinya masih tertahan di minimart. Diteguknya secangkir teh hangat didepannya hingga habis. Lalu dia pun beranjak pergi dari situ. Saat hendak berjalan keluar pintu minimart, tubuhnya bertabrakan dengan seorang pria yang hendak masuk ke dalam minimart, hingga ponsel keduanya terjatuh dilantai. Pria tersebut menutup mulut dan hidungnya dengan syal hitam. “Apa Nona baik-baik saja? Maaf, aku tidak sengaja”, ucapnya pelan. “Tidak apa-apa. Aku yang minta maaf karena tak melihat anda masuk”, sahut Suzy. Lalu Suzy mengambil ponselnya yang terjatuh itu dan segera keluar dari minimart.
***
“Selamat pagi, Noona!”, sapa Yoohwan tersenyum cerah pada Suzy yang sedang menuju sekolah. “Anak bodoh, berhentilah memanggilku Noona! Ini disekolah!”, omel Suzy. “Tapi aku menyukainya. Noona Noona Noona jadilah kekasihku”, ujar Yoohwan dengan nada bernyanyi. Suzy pun hendak melayangkan tangannya untuk memukul kepala Yoohwan, yang kemudian ditangkapnya dan diciumnya tangan Suzy. Segera saja Suzy menghempaskan tangannya dari genggaman Yoohwan dan berjalan mendahuluinya. Dia bergegas menuju ruang kantornya. Kemudian tiba-tiba ponselnya berdering dan Suzy merasa ringtone hp-nya berbeda dari sebelumnya. Lalu dilihatnya layar ponsel tersebut untuk melihat siapa yang menghubunginya. Dan tertera angka-angka yang sepertinya tak asing baginya. Ini nomorku, pekiknya dalam hati. Suzy berpikir berarti ponsel ini bukanlah miliknya. Bagaimana bisa tertukar, pikirnya. Dia pun segera mengangkat telpon itu. “Halo.. Ah, akhirnya tersambung juga!”, seru suara seorang pria diujung telpon. “Halo..”, sahut Suzy. “Sejak semalam saya berusaha untuk menghubungi anda, tapi selalu tidak aktif. Maaf Nona, sepertinya anda telah membawa ponsel saya, sementara ponsel anda ada pada saya”, ujarnya. “Ah maafkan saya. Saya tidak sengaja”, ucap Suzy. “Tidak apa-apa, Nona. Bisakah anda memberitahukan alamat anda agar saya dapat mengembalikan ponsel anda?”, tanyanya. “Tapi saya sedang mengajar. Bagaimana kalau kita bertemu saat jam makan siang saja?”, kata Suzy. “Baiklah kalau begitu. Saya akan sms-kan alamat dimana kita akan bertemu nanti ya? Terima kasih, Nona”, ujarnya. “Saya yang seharusnya berterima kasih dan maaf karena saya telah membawa ponsel anda”, jawab Suzy. Pria itu hanya berkata tidak apa-apa dan lalu menutup pembicaraan.
***
Suzy menemui pria itu disebuah restoran daging didaerah yongsan. Saat Suzy masuk, pria itu segera melambaikan tangannya memberitahukan keberadaannya. Lalu Suzy menghampirinya dan duduk dihadapannya. “Ini ponsel anda”, ujar Suzy yang langsung menyerahkan ponsel pria itu. Dia mengucapkan terima kasih seraya tersenyum menerimanya dan juga menyodorkan ponsel Suzy. Suzy pun berterima kasih sambil menerimanya dan hendak beranjak pergi sebelum ditahannya. “Ehm~bukankah ini sudah jam makan siang? Sebaiknya anda makan saja dulu. Aku sudah memesan dua porsi”, ucapnya. Kemudian seorang pelayan datang membawakan sup daging yang dipesan pria itu. “Ayo duduklah Nona Han! Tenang saja, biar saya yang mentraktirmu”, ujarnya. Suzy hanya diam termangu. “Duduklah, kumohon”, pintanya. Akhirnya Suzy duduk kembali di kursinya. Lalu dia mengenalkan dirinya yang bernama Park Yoochun dan bekerja sebagai seorang arsitek. Mereka mengobrol banyak dan sesekali mereka tertawa saat merasa obrolan mereka tersebut lucu. Walaupun ini merupakan pertemuan pertama mereka, tapi karena sifat dasar Yoochun yang atraktif dan ramah, itu membuat Suzy merasa nyaman.
***
Suzy merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya sambil membuka galeri ponselnya. Namun tiba-tiba dia menemukan foto Yoochun yang sedang tertidur dengan mulut menganga lebar. Suzy pun tertawa melihatnya. “Aku baru saja menemukan ini”, Suzy mengirim pesan pada Yoochun disertai foto tersebut. Yoochun pun segera membalas pesan Suzy dan mengatakan kalau itu pasti ulah adiknya. Yoochun pernah berkata kalau dia ingin mengenalkannya pada adiknya. Setelah beberapa bulan berkenalan, mereka akhirnya menjadi sepasang kekasih. Yoochun menyatakan perasaannya saat kencan peratama mereka di taman di daerah myeonggi-dong. Yoochun berkata kalau ia ingin mengenalkannya pada adiknya esok hari, dimana mereka janji bertemu di kafe Cojje.
Keesokkan harinya seperti yang dijanjikan, Suzy pun datang ke kafe Cojjee, tempat favorit mereka berdua. Suzy masuk ke kafe dan Yoochun sudah menunggunya disana sendirian. Suzy bertanya apakah adiknya tidak jadi datang. Yoochun menjawab kalau dia sedang dalam perjalanan. “Maaf hyung, aku terlambat. Miss Han!”, celetuk seseorang. Suzy agak terkejut mengetahui kalau Yoohwan adalah adik Yoochun. “Hyung, jadi.. Kenapa kau merebut wanita yang kusuka, Hyung! Aku tidak bisa menerimanya!”, teriak Yoohwan yang segera pergi dari situ.
Semenjak hari itu Suzy dilema. Bahkan sudah beberapa hari ini Yoohwan pun berubah sikap padanya, dingin. Begitu pula sikap Suzy yang berubah menjadi pendiam dan sering melamun, karena sudah seminggu tidak menghubunginya. Yoohwan yang melihat Suzy seperti itu jadi merasa bersalah.
“Aku akan kembali ke California besok pagi. Aku ada pekerjaan disana dan mungkin aku tidak akan kembali lagi kesini. Kalau kau mencintai Suzy, aku akan merelakannya untukmu”, ujar Yoochun pada Yoohwan dari balik pintu kamarnya, yang baru saja masuk ke kamar. Yoohwan mendengarnya,tapi dia pura-pura tak mendengar.
***
“Dia akan pergi ke California hari ini dan aku tidak tahu apa dia akan kembali lagi atau tidak. Apa kau tidak ingin mengejarnya? Waktumu hanya satu jam dari sekarang”, beritahu Yoohwan. Tentu saja ini membuat Suzy terhenyak. “Sepertinya kau puas memisahkan kami”, gumam Suzy dengan mata berkaca-kaca. “Aku minta maaf. Aku terlalu egois. Ayo cepat kita susul kakakku! Aku akan mengantarmu!”, seru Yoohwan. Yoohwan mengantar Suzy hingga bandara. Begitu sampai di bandara, Suzy segera berlari mencari Yoochun. Dia berteriak memanggil-manggil namanya. Akhirnya Suzy menemukan Yoochun, yang hampir saja masuk ke gate entrace. Suzy meneriaki namanya hingga Yoochun menghentikan langkahnya dan menoleh. “Jangan pergi! Kumohon jangan pergi! Aku tak ingin kau pergi!”, ucap Suzy dengan suara bergetar. Yoohwan berdiri tak jauh dibelakang Suzy dan menatap kakaknya itu dengan tersenyum menganggukkan kepalanya pelan. Yoochun yang mengerti maksud adiknya itu hanya tersenyum dan kemudian berlari memeluk Suzy. “Aku harus pergi. Aku ada pekerjaan disana. Aku tidak akan kembali..dalam sebulan. Jadi kau tunggulah aku selama sebulan”, ujar Yoochun tersenyum. “Selama itukah? Bagaimana kalau seminggu saja?”, Suzy menyahut. “Sepertinya ada yang tidak tahan ditinggal lama-lama, seperti anak kecil saja!”, celetuk Yoohwan menimpali. “Kenapa kau mengganggu kemesraan kami, pergi sana!”, ujar Suzy pura-pura mengusir Yoohwan sambil tertawa. “Ya baiklah, aku akan pergi”, kata Yoohwan yang pergi menjauh. “Aku akan kembali setelah pekerjaanku selesai. Kau tunggu aku dan jangan coba-coba mengencani pria lain, seperti Minho! Atau aku akan menceraikanmu!”, ancam Yoochun. “Tapi aku suka Minho. Dia lebih tampan darimu haha..”, sahut Suzy. “Apa kau bilang!? Aish, aku marah!”, sungut Yoochun. “Tapi kaulah yang kucintai”, bisik Suzy yang kemudian mengecup pipi Yoochun. Dan panggilan untuk segera memasuki pesawat pun berkumandang, Yoochun pun segera berpamitan pada Suzy dan mengecupnya singkat.
“Oh iya, hari ini kita tidak usah kembali ke sekolah. Kita pulang ke rumahmu saja, Miss!”, kata Yoohwan yang berjalan disebelah Suzy dan akan mengantarnya pulang. “Mau apa kau ingin kerumahku?”, tanya Suzy. “Mengencani Chaerin, adikmu hahaha..”, sahutnya tertawa. “Apa!? Kau anak bandel, tak akan kubiarkan kau mendekatinya!”, teriak Suzy.

posted by Iyagi

Mission Unbelievable Chapter 2

29 Mei

donghae_and_eunhyuk_bicycle_shirts-7706

Minggu pukul 7 pagi Ha Na masih bergumul dengan selimut dan gulingnya. Dia selalu ingin bangun siang tiap hari minggu. Namun, Ha Neul seringkali mengusik kesenangannya di akhir pekannya, sehingga ia tidak pernah bisa menikmati akhir pekannya sesuai keinginannya. Biasanya pagi-pagi Ha Neul sudah menerobos masuk kamar Ha Na, lalu menariknya dari tempat tidur dan mengajaknya jalan-jalan dan hanya sekedar joging ditaman. Walau sebenarnya niatnya adalah cuci mata untuk melihat para pria yang juga sedang berolahraga. Dan Ha Na tak pernah bisa menolak ajakan paksa dari sahabatnya itu.

Ponsel Ha Na tiba-tiba saja berdering. Dia meraba-raba meja kecil disampingnya, dimana dia meletakkan ponselnya. Matanya masih sedikit terpejam saat dijawabnya panggilan telponnya. “Halo..”, jawab Ha Na lirih dengan mata yang masih mengantuk dan seperti sulit untuk dibuka. “Ha Na-ya, hari ini aku akan berkencan dengan Donghae!”, teriak Ha Neul dari ujung telpon dengan nada yang sangat girangnya. “Pagi-pagi kau menelponku hanya untuk mengatakan itu! Aku masih mengantuk, jangan ganggu aku! Tapi cepat sekali aksimu, kau benar-benar berusaha keras!”, ucap Ha Na yang langsung membelalakkan matanya begitu mendengar Ha Neul mengoceh. “Tentu. Kau jangan iri kalau aku akan segera mendapatkannya lebih cepat darimu ya! Kau pasti kalah hahaha..!”, seru Ha Neul memamerkan diri dan tertawa. “Aish, kau ini! Tenang saja, aku juga tidak akan kalah! Aku juga pasti akan mendapatkan Eunhyuk! Sudahlah, tutup telponnya, aku mau tidur lagi!”, omel Ha Na. “Kau datanglah ke Lotte World jam 3 sore ini. Aku akan memperlihatkan kemesraan kami berdua padamu hahaha..”, ujar Ha Neul lagi yang tak lepas dari tawanya. “Aish, kau menjijikan sekali, aku malas! Memangnya aku tidak punya pekerjaan lain selain menonton kalian! Kau berisik sekali, aku tutup telponnya!”, teriak Ha Na yang langsung memutuskan pembicaraan dan menaruh kembali ponselnya diatas meja. Ha Na merasa kecolongan start dari Ha Neul. Anak itu ternyata jauh lebih gesit. Ha Na hendak memejamkan matanya kembali untuk tidur. Namun baru saja Ha Na memejamkan matanya beberapa detik, lagi-lagi ponselnya berdering. Ha Na kesal karena Ha Neul terus saja mengganggunya. “Halo. Apa lagi? Kau ingin menyuruhku untuk datang kesana dan menonton kalian yang sedang bermesraan, hah!? Aku ingin tidur lagi, jangan ganggu aku!”, Ha Na mengomel panjang lebar. “Halo. Apa ini Kim Ha Na?”, tanya seorang pria di ujung telpon yang terdengar sedikit tertawa. Ha Na terdiam dan berpikir, “Astaga, ini suara pria. Aku pikir Ha Neul. Memalukan sekali”. “Ah, iya. Kau siapa?”, jawab Ha Na yang sedang menahan malu, walau tak terlihat oleh pria diseberang telpon itu. “Aku eunhyuk. Apa kau masih ingat?” “Ah ya, Eunhyuk-ssi. Aku minta maaf tadi, aku pikir Ha Neul menelponku lagi hehehe..”, ucap Ha Na berusaha untuk menjelaskan. “Tidak apa-apa. Aku mengerti”, sahut Eunhyuk yang terdengar tertawa disela-sela ucapannya. “Iya. Ada apa, Eunhyuk-ssi?”, tanya Ha Na kemudian. “Apa kau tidak kehilangan sesuatu? Kemarin kau meninggalkan jam tanganmu, apa kau tidak ingat?”, jawab Eunhyuk. “Jam tangan?! Ah iya, aku kehilangan jamku! Apa tertinggal ditempat karaoke?”, Ha Na bertanya. “Iya, aku menemukannya tergeletak dimeja saat kau sudah pulang. Apa kau ingin aku untuk mengantarkannya kerumahmu?”, Eunhyuk menawarkan diri. “Ah tidak perlu. Kita bertemu diluar saja, bagaimana?” “Baiklah. Bagaimana kalau kita bertemu di Lotte World sore ini jam 3?”, usul Eunhyuk. “Iya baiklah kalau begitu. Kita bertemu disana saja”, jawab Ha Na. “Oke, aku akan menunggumu di depan gedung!”, ucap Eunhyuk. “Ne”, sahut Ha Na singkat. “Sampai  ketemu nanti sore ya! Bye..”, ucapnya. “Bye..”, balas Ha Na mengakhiri pembicaraan. Eunhyuk pun langsung menutup telponnya. Ha Na tampak tersenyum dan berteriak riang, “Ini benar-benar suatu kebetulan yang menguntungkan bagiku! Senangnya! Ha Neul, aku akan datang! Kau lihat saja, aku akan merusak acaramu nanti! Memangnya kau saja yang bisa hahaha..!”. Karena begitu girangnya Ha Na pun segera mengirimi Ha Neul pesan singkat yang berisi “Ha Neul-ah, aku juga akan pergi berkencan dengan Eunhyuk hahaha..”. Dan dengan cepat Ha Na mendapat balasan pesan dari Ha Neul. Dia menanyakan tempatnya, namun Ha Na hanya menjawab “Itu rahasia, aku takut kau hanya akan mengganggu hahaha..”. Ha Neul membalas pesan Ha Na lagi dengan isi, “Kau gadis tengik, aku tidak akan kalah darimu! Kita lihat saja nanti hahaha..!”. Ha Na tidak membalas pesan Ha Neul lagi, dia hanya tertawa dan segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.

* * *

setelah menutup telponnya, Eunhyuk tersenyum sendiri sambil menatap jam tangan yang sedan dipegangnya. lalu tiba-tiba Donghae masuk ke kamar dan memrgokinya yang sedang bertingkah aneh. “Kenapa kau senyum-senyum sendiri seperti itu? apa itu jam tangan milik Ha Na?”, tanya Donghae heran pada Eunhyuk. Eunhyuk hanya menjawab dengan anggukan dan tersenyum. “Apa kau benar-benar tidak ingin ikut denganku nanti sore? Kau ajak saja Ha Na pergi bersamamu, kita Double Date haha..”, ujar Donghae. “Aku akan pergi kesana bersamanya”, ucap Eunhyuk pelan. “Kesana kemana? Maksudmu ke Lotte World juga? Kau benar-benar sudah mengajak Ha Na rupanya! Hahaha…baiklah!”, Donghae tertawa. “Kita bertemu disana saja! Kau pura-puralah ini suatu kebetulan hahaha…”, ucap Eunhyuk ikut tertawa. “”Ya baiklah aku mengerti!”, sahut Donghae.

Posted by Iyagi

Mission Unbelievable Chapter 1

26 Mei

 

 

donghae_and_eunhyuk_bicycle_shirts-7706

Kim Ha Na dan Park Ha Neul, dua sahabat karib sejak kecil, sedang menikmati malam minggu mereka dg berkaraoke bersama. Mereka selalu pergi berdua sambil sesekali mengadu peruntungan mereka untuk menemukan pria tampan saat sedang berjalan-jalan. Mereka seperti dua orang gadis aneh yang selalu berbuat gila dan onar dimanapun tanpa mengenal tempat. Mereka bersekolah di sekolah khusus wanita, sehingga pria tampan ibarat guci antik bagi mereka. Tak jarang seorang pria sebayanya dari sekolah asrama pria selalu lari ketakutan karena diperebutkan oleh mereka berdua. Karena mereka kerap kali berlomba untuk mendapatkan kekasih dan sialnya pria yang dijadikan rebutan seringkali pria yang sama.
“Hei, kali ini giliranmu yang membayar!”, ujar Ha Neul. “Ya baiklah, tak usah khawatir!”, sahut Ha Na. “Aku mau ke toilet dulu sebentar. Aku akan menyusulmu diruang biasa”, ucap Ha Neul yang langsung berlalu pergi, sementara Ha Na reservasi tempat. Dan ternyata ruangan yang biasa mereka tempati sudah dipesan oleh orang lain. Pegawai karaoke tersebut tidak mungkin memindahkan tamu yang sudah menyewa tempat itu lebih dulu dari mereka. Mau tak mau Ha Na harus menerimanya, lalu memesan ruangan lain yang masih tersedia. Ha Na segera keruangan tersebut. Sambil menunggu Ha Neul datang, dia pun bernyanyi-nyanyi sendiri. Ha Na sudah menyanyikan 2 buah lagu kesukaannya, tapi Ha Neul tak kunjung datang. Padahal Ha Na sudah mengiriminya sms kalau ruangannya bernomor 201, bukan ruang yang biasa mereka tempati yang bernomor 213. Akhirnya karena tak sabar menunggu, Ha Na pun menyusulnya ke toilet. Ha Na mencarinya ke dalam toilet, tapi ternyata Ha Neul tak ada. Di telponnya Ha Neul, namun dia tidak juga menjawab panggilan Ha Na. Ha Na bingung, dia khawatir Ha Neul menghilang atau pergi begitu saja. Ha Na berjalan melewati ruang 213 dan dia mendengar suara Ha Neul yang sedang bernyanyi sambil sesekali tertawa riang. Tanpa pikir panjang, Ha Na pun masuk ke ruangan itu.
“Park Ha Neul!!! Bagaimana bisa kau berada disini! Aku menunggumu disana dan mencarimu kemana-mana!”, teriak Ha Na begitu melihat Ha Neul yang sedang bernyanyi-nyanyi. “Oh,kau sudah datang!”, sapa Ha Neul dengan santainya.
Ha Na tak menyadari ada dua pria yang sedari tadi memperhatikan mereka.
“Ehem..”, salah satu dari pria itu berdehem pelan.
Ha Na menoleh, dilihatnya dua orang pria sedang duduk memperhatikan dirinya dan Ha Neul berdebat seraya tersenyum manis padanya. Ha Na tampak kikuk dan diapun balas tersenyum pada mereka. Lalu tanpa pikir panjang Ha Na segera menarik tangan Ha Neul untuk membawanya keluar ruangan.
“Ayo ikut aku!”, ucap Ha Na pada Ha Neul. “Aku akan segera kembali! Tunggu ya!”, ujar Ha Neul dengan penuh semangat ke arah kedua pria itu. Sementara itu keduanya hanya tersenyum dan saling memandang dengan heran tanpa berkata apa-apa.
“Kau mengganggu saja!”, omel Ha Neul. Ha Na memukul kepala Ha Neul dan Ha Neul pun mengusap-usap kepalanya. “Ya baiklah, ayo kita kejar mereka bersama-sama!”, ujar Ha Neul lagi. “Bodoh, seenaknya saja kau meninggalkanku disana dan bersenang-senang sendiri disini! Kau sengaja tak mengangkat telpon dan kau juga tak membaca pesanku, hah!”, omel Ha Na. Sementara itu Ha Na malah tertawa senang dan berkata, “Tapi sekarang kau sudah menemukanku, jadi ayo kita kembali ke ruangan mereka!” “Siapa mereka? Aku suka yang berjaket biru!”, ucap Ha Na. “Apa!? Tidak! Kenapa kali ini sama lagi!?”, protes Ha Neul. “Ah sial, kenapa selalu begini!”, pekik Ha Na. “Pokoknya dia milikku!”, seru Ha Neul. “Kita suit saja untuk menentukannya, bagaimana?”, usul Ha Na. “Ya baiklah, ayo!”, sahut Ha Neul.
“Rock Scissor Paper!”, ucap mereka bersamaan. “Yeah aku menang!”, teriak Ha Neul dengan girangnya. “Yah, kita ulangi sekali lagi?”, pinta Ha Na. “Tidak mau! Yang bernama Lee Donghae itu milikku, kau Lee Hyukjae saja! Jangan ganggu dia, ingat itu!”, ancam Ha Neul. “Jadi nama mereka Lee Donghae dan Lee Hyukjae. Ya baiklah, huh!”, sahut Ha Na agak lesu. “Ayo kita masuk lagi ke ruangan mereka! Kali ini kita harus bisa dapatkan mereka, oke!”, seru Ha Neul bersemangat. “Tapi ruangan yang sudah kita pesan?!”, tanya Ha Na. “Biarkan saja! Kita fokus ke target kita dan mulai jalankan misi kita seperti biasa!”, sahut Ha Neul seraya tertawa. “Baiklah, ayo semangat!”, ujar Ha Na menimpali.
Lalu Ha Na dan Ha Neul pun kembali masuk ke ruangan tersebut. Dilihatnya kedua pria itu sedang bernyanyi. Mereka menyanyikan lagu Oppa-Oppa sambil menari. Ha Na dan Ha Neul hanya bengong melihat mereka bernyanyi dan menari.
“Prok Prok Prok.. Daebak! Keren!”, teriak Ha Na n Ha Neul serempak sambil bertepuk tangan begitu mereka selesai bernyanyi. Kedua pria itu hanya tersenyum simpul saat dipuji. Lalu mereka saling berpandangan dengan heran. Sementara itu Ha Na dan Ha Neul tersenyum manis pada mereka.
“Umm~ kenalkan ini sahabatku Ha Na!”, seru Ha Neul. Lalu Ha Na mengulurkan tangannya pada Donghae. Diapun menyambutnya dan menyebutkan namanya. Setelah itu Ha Na mengulurkan tangannya pada Lee Hyukjae, Ha Na sempat terpana pada tariannya tadi. Lee Hyukjae tersenyum pada Ha Na dan berkata, “Aku Lee Hyukjae, panggil saja Eunhyuk.” “Apa kalian murid SMA?”, tanya Donghae. Ha Neul mengiyakan dan balik bertanya, “Bagaimana dengan kalian?” “Kami mahasiswa tingkat akhir”, Eunhyuk yang menjawabnya. “Berarti kalian kira-kira berusia 24 tahun?”, Ha Neul bertanya lagi. “Kami 28 tahun”, sahut Donghae. “Apa kalian tidak lulus-lulus? Kalian pasti sudah menikah?”, giliran Ha Na yang bertanya. Mereka berdua hanya tertawa, lalu Donghae berkata, “Tidak, kami belum menikah.” “Kalau begitu menikah saja denganku, Donghae-ssi”, celetuk Ha Neul dengan tersenyum lebar. “Dia sedang tidak waras, tolong maafkan dia”, sahut Ha Na menimpali. Kedua pria itu tertawa kembali saat mendengar ucapan spontan Ha Na, sedangkan Ha Na hanya memasang tampang bodoh.
Dua gadis bodoh itu benar-benar menikmati malam mereka dengan bersenang-senang rupanya. Mereka tidak mempermasalahkan umur Donghae dan Eunhyuk yang sudah ahjussi, karena Ha Na dan Ha Neul menyukai mereka. Bahkan Ha Na dan Ha Neul sedang berupaya menjalankan misi mereka untuk mengencani Donghae dan Eunhyuk.

posted by Iyagi

%d blogger menyukai ini: