Arsip | Fiction RSS feed for this section

Spell for Love

18 Jul

“Minggu depan kau pergi ke acara reuni tidak?” tanya Lee Donghae untuk ke sekian kalinya mengajukan pertanyaan yang sama, melalui seberang telepon.
“–hei, Monkey! Apa kau mendengarkanku!?” teriaknya lagi kemudian, sudah tak sabar.
“Damn you, Fishy! Kau bisa membuatku tuli, kau tahu!”
Lee Hyuk Jae mengumpat seraya berteriak dengan sama tidak sabarnya pada sahabatnya itu. Suaranya membuatnya tersentak kaget hingga ia harus menjauhkan ponselnya beberapa senti dari telinganya.
Bukannya ia tak mendengarkan semua ucapan Lee Donghae tadi, hanya saja saat ini pikirannya benar – benar tengah terfokuskan pada berkas – berkas laporan yang berserakan di atas mejanya yang harus segera diselesaikannya. Apa Lee Donghae tak sadar diri kalau panggilan teleponnya itu mengganggu pekerjaannya?
Ia dengar Lee Donghae berulang kali membicarakan perihal reuni akbar sekolah dasarnya. Tapi ia belum tahu apakah minggu depan ia bisa memiliki waktu senggang, mengingat ia baru setahun dinobatkan sebagai manajer perencanaan oleh Ayahnya yang terbilang ketat dalam berbisnis sekalipun terhadap putranya sendiri.
“Jadi kau akan datang atau tidak?” kali ini suara Lee Donghae kembali melembut, seolah – seolah ia tengah berbicara dengan kekasihnya. “Apa kau tahu Kim Yoo Rin juga akan datang? Kau masih ingat dia, bukan? Dia benar – benar berbeda sekarang. Dan yang terpenting adalah… dia belum menikah!”
Mendengar Lee Donghae menyebut nama Kim Yoo Rin, ingatan masa kecil Lee Hyuk Jae tiba – tiba berkelebatan dalam otaknya. Satu persatu kenangan masa kecilnya berputar bagaikan menonton sebuah film. Banyak kenangan yang tak mengenakan antara dirinya dan gadis teman sekelasnya itu.
“Hei, cepol berjalan!” ledek Lee Hyuk Jae saat mendapati Kim Yoo Rin menggulung rambutnya menjadi 2 bagian berbentuk cepolan tinggi di kepalanya begitu gadis itu baru saja datang, melewati bangkunya dan duduk dikursinya dimana teman sebangkunya sudah lebih dulu datang. “Putri duyung bercepol? Hahaha… mana ada putri duyung dicepol?”
Lee Hyuk Jae tahu benar teman sekelasnya itu begitu menyukai dongeng putri duyung yang kerapkali diceritakannya pada teman sebangkunya, Gong Hee Jin, yang membuatnya bosan tiap kali mendengar mereka berdua bercerita yang tak ada habis – habisnya. Oleh sebab itu untuk menghentikannya berdongeng, Lee Hyuk Jae sering menjadikannya bahan ejekan dengan memberinya gelar putri duyung, entah itu putri duyung yang tersesat, putri duyung yang tertukar, putri duyung ingusan dan sekarang ia menyebutnya putri duyung bercepol.
Sayangnya, sekalipun ia sudah melontarkan berbagai macam ejekan untuk gadis itu, nyatanya itu tak menghentikannya bergosip. Bahkan tak jarang Kim Yoo Rin dan Gong Hee Jin hanya terdiam mengabaikan kata – katanya dan semakin menggebu jika membicarakan kisah puteri – puteri dari negeri Disney tersebut.
“Aku tidak terlalu suka akhir kisah dari putri duyung. Dia menjadi buih di lautan karena pangeran tak mencintainya,” cerita Kim Yoo Rin pada Gong Hee Jin seraya memamerkan ekspresi sedihnya yang segera diamini oleh teman sebangkunya itu tanpa menghiraukan ejekan Lee Hyuk Jae yang duduk di belakangnya.
“Putri Duyung bercepol, kau tak perlu mengkhawatirkan nasibmu sendiri. Kau takkan menjadi buih, tapi cepolan raksasa. Ya, kan, Donghae hahaha…”
Lee Donghae yang duduk di sebelah Lee Hyuk Jae hanya berusaha menahan tawanya, berulangkali menyikutkan sikunya padanya, mengingatkannya agar tak terus – menerus mengganggu Kim Yoo Rin. Sahabatnya itu cemas jika saja Kim Yoo Rin akan melemparinya lagi dengan buku tulisnya yang mungkin bisa lebih parah dari buku, mungkin tasnya yang berat, yang tak bisa dibayangkannya.
Lee Hyuk Jae mulai merasakan perubahan ekspresi wajah Kim Yoo Rin yang menoleh ke arahnya begitu ia melontarkan ejekannya. Sepertinya gadis itu siap untuk balas memaki – makinya dan ia hanya memasang senyuman termanisnya, berpura – pura tak mengerti.
Kim Yoo Rin melotot ke arahnya, membuka mulutnya seraya berkata, “Kau, Lee Hyuk Jae, manusia jelek, kukutuk kau akan menjadi budakku suatu saat nanti.”
“Hei, Hyukkie, berjanjilah kau akan datang bersamaku ke acara reuni minggu depan.”
kata – kata Lee Donghae membuyarkan lamunan Lee Hyuk Jae seketika. Segala ingatan tentang masa kanak – kanaknya tak lagi bercokol dalam otaknya. Bahkan beberapa kali pertanyaan Lee Donghae hanya ditimpalinya dengan sebuah gumaman. Ia tak terlalu mendengarkan kata – katanya, jadi cara tercepat menjawabnya hanyalah bergumam yang berarti ‘Ya’.
“Bagus! Kalau begitu aku akan menjemputmu di Apartmentmu minggu depan. Bye.”
Klik. Sambungan telepon pun segera terputus. Lee Hyuk Jae baru saja menyadari ucapan Lee Donghae tadi begitu sahabatnya itu menutup teleponnya sepihak, beranggapan bahwa ia setuju untuk datang minggu depan.
Astaga, Fishy idiot itu salah paham! Ia belum memutuskannya! Bagaimana ini!?
Lee Hyuk Jae masih menggenggam ponselnya erat. Bahkan ponsel itu dipelototinya dengan jengkel seolah emosinya itu mungkin bisa terhubung langsung pada Lee Donghae melalui telepati agar lelaki itu kembali menghubunginya. Tapi sayangnya itu tak berhasil dan ia hanya bisa menghela napas berat sebelum akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar.

★★★

Pekerjaan kantor Lee Hyuk Jae masih menumpuk saat Lee Donghae berulang kali menghubunginya, mengingatkannya untuk pulang cepat sebelum pukul 4 sore. Hal itu membuat Lee Hyuk Jae jengah hingga mau tak mau ia terpaksa menghentikan pekerjaannya saat jarum jam baru saja menunjuk ke angka 2.
Sebenarnya masih dua jam lagi sebelum Lee Donghae datang ke rumahnya. Tapi daripada ia terus menerus kesal mendengar ponselnya tak henti – hentinya berbunyi saat Lee Donghae terus menghubunginya karena ia tak segera mengangkatnya, ia lebih baik pulang dan bersiap – siap sekarang juga.
Tak lupa Lee Hyuk Jae meninggalkan pesan pada sekretarisnya, Lee Ji Eun untuk mengabarkannya bila Ayahnya mencarinya. Ia tahu pasti Ayahnya itu seringkali mengunjungi kantornya setiap sabtu untuk mengevaluasi kembali pekerjaannya.
Terdengar kekanak – kanakan memang. Tapi seperti itulah Ayahnya. Alasannya adalah agar Ayahnya itu tak ragu melepas jabatannya untuknya kelak di tahun depan. Oleh sebab itulah ia dipaksa kembali ke korea dan melepaskan pekerjaannya sebagai penari sekaligus koreografer profesional di Jepang.
Lee Hyuk Jae baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh tubuh masih setengah basah dan handuk yang melilit pinggangnya saat tiba – tiba saja terdengar bunyi klik di pintunya yang menandakan seseorang telah memasukkan kode rumahnya untuk membuka pintunya. Hanya keluarga, asisten rumah tangga dan Lee Donghae-lah yang mengetahui kode rumahnya.
Ia sudah tahu pasti jika yang datang adalah Lee Donghae. Dan benar saja, sahabatnya itu langsung menyapanya begitu melihatnya berdiri di ruang TV seraya menyuruhnya untuk cepat – cepat berpakaian agar mereka bisa segera pergi.
Tak perlu waktu lama bagi Lee Hyuk Jae untuk berdandan. Walau sebenarnya mereka masih punya waktu 1 jam lagi sebelum acaranya dimulai pada pukul 5 sore, tapi Lee Donghae menyarankan agar mereka lebih baik datang satu jam lebih awal.
“Memangnya kenapa kita harus datang sejam lebih awal?” tanya Lee Hyuk Jae penasaran.
“Itu karena aku ditunjuk sebagai MC.”
Lee Hyuk Jae hanya bisa mengernyitkan dahinya tak percaya. Sebelumnya Lee Donghae tak pernah mengatakan hal itu padanya. Tapi sudahlah, itu juga tak terlalu penting baginya untuk mengetahuinya. Setidaknya dalam rencananya semula, ia tak ingin berlama – lama di acara tersebut dan bisa mencari alasan untuk pergi, apalagi harus menunggui Lee Donghae.
“Kau tak bawa mobil?” tanya Lee Hyuk Jae saat menyadari Lee Donghae hanya berjalan mengikutinya di belakangnya menuju mobilnya yang terparkir.
“Tidak.” ujar Lee Donghae yang menggeleng cepat. “Jadi kau harus menungguiku hingga acara selesai, oke?”
Sialan! Lee Hyuk Jae hanya bisa mengumpat di dalam hatinya. Entah sepertinya Lee Donghae bisa membaca pikirannya atau bagaimana. Sahabatnya itu biasanya tak pernah membuang waktunya untuk tebar pesona dengan memamerkan mobil mewahnya bila datang ke sebuah acara bersamanya, dimana ia selalu dipaksanya untuk ikut mobilnya dan berakhir pulang dengan naik taksi bila manusia idiot itu berhasil mendapatkan teman kencan pada saat pulangnya. Padahal kemarin di telepon mereka sepakat untuk membawa mobil masing – masing, tapi ternyata lagi – lagi Lee Donghae menggunakan akal bulusnya.
Lee Hyuk Jae sesekali menggerutu kesal saat ia tengah mengemudikan mobil sedan berwarna hitamnya ke daerah Itaewon, lebih tepatnya ke sekolah dasar mereka dulu, bersama Lee Donghae yang duduk santai di kursi penumpang sembari sesekali bersiul riang. Sementara dalam otaknya, Lee Hyuk Jae ingin sekali menendang makhluk itu ke jalanan saat itu juga karena berhasil menipunya untuk kesekian kalinya.
Beruntung tak perlu waktu lama bagi mereka untuk bisa sampai di Itaewon yang hanya memakan waktu setengah jam perjalanan. Jadi Lee Hyuk Jae tak perlu berlama – lama mendengarkan celotehannya mengenai gadis – gadis yang tengah dikencaninya.
“Kita sudah sampai!” seru Lee Donghae yang segera bergegas turun dari mobil Lee Hyuk Jae. “Kau parkirkan saja dulu mobilmu. Aku akan menunggumu di dalam.”
Astaga, dia sudah seperti bosku saja! Awas kau Lee Donghae! Aku akan membuat perhitungan nanti!
Lee Hyuk Jae segera mencari tempat parkir yang kosong. Saat menemukannya, ia pun tak perlu membuang – buang waktu lagi. Namun saat ia hendak berbelok, dimana ia akan memarkirkan mobilnya di sebelah kiri, sebuah volvo mungil berwarna merah juga hendak menyerobot masuk ke parkiran kosong yang telah diincarnya.
Kaca jendela mobil tersebut diturunkan seluruhnya dan si pengemudi yang ternyata seorang wanita melongokkan kepalanya seraya berteriak, “Hei, aku dulu yang akan masuk!”
Lee Hyuk Jae tak ingin mengalah, lalu buru – buru menurunkan kaca jendela mobilnya juga dan melongokkan kepalanya ke luar jendela sembari berkata, “Maaf, tapi aku dulu yang menemukannya!”
Akhirnya karena jarak mobil Lee Hyuk Jae yang lebih dekat dari lahan kosong tempat parkir tersebut, mau tak mau si wanita pemilik volvo merah itu terpaksa mengalah dan memundurkan mobilnya. Lagipula seorang sekuriti tiba – tiba muncul di areal parkir itu, yang tentu saja tak akan tinggal diam dan mungkin saja akan menggelandang mereka berdua ke pos keamanan jika tak ada salah satu dari mereka yang mengalah.
Tentunya Lee Hyuk Jae bisa segera bernapas lega saat wanita itu mengalah dan pergi mencari tempat parkir lainnya. Ia pun segera berjalan memasuki gedung sekolahnya, mencari Lee Donghae di suatu tempat.
“Hyukkie, aku disini!” panggil Lee Donghae saat menyadari kemunculan Lee Hyuk Jae yang tengah celingukan seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
Lee Donghae sedang berbicara dengan seorang gadis berambut panjang bercatkan coklat terang. Gadis yang cantik, namun sedikit bergaya tomboy dengan dress mini berwarna merah dipadukan boot hitam selutut. Gadis itu lalu meneriakkan sebuah nama seraya melambaikan tangannya ke arah belakang punggung Lee Hyuk Jae.
“Yoo Rin!”
Tunggu dulu, siapa nama yang dipanggilnya itu? Yoo Rin? Aku harap itu bukan Kim Yoo Rin, teman sekelasnya yang sering dipanggilnya putri duyung. Tapi bukankah ada banyak Yoo Rin di angkatannya dulu?
Lee Hyuk Jae segera memutar kepalanya dengan gerakan melambat seperti dalam film Matrix. Ia hanya sedikit cemas atau lebih tepatnya dikatakan gugup. Sudah sekian lama ia tak pernah bertemu dengan teman – teman sekolah dasarnya, kecuali Lee Donghae yang selalu berkeliaran di sekitarnya, yang sudah 17 tahun lamanya, terutama bertemu Kim Yoo Rin.
Dan Lee Hyuk Jae pun dibuat terkejut oleh seorang gadis cantik berambut hitam panjang yang sedikit bergombang, berpenampilan feminin dengan dress terusan selutut tanpa lengan berwarna jingga yang dipadu padankan high heels berwarna senada dan lipstik nude yang memoles bibir tipisnya, tengah berjalan mendekat. Ia mengenali wajah gadis itu sebagai gadis pemilik volvo merah yang ingin menyerobot tempat parkirnya.
Gadis itu berjalan melewati Lee Hyuk Jae yang menatapnya intens. Aroma parfumnya yang lembut dan manis dengan segera menggelitik hidungnya, membuatnya ingin menghujamkan kepalanya di bahunya untuk memeluknya. Dengan cepat otaknya buru – buru mengusir pikiran bodoh yang baru saja terlintas di kepalanya tersebut dan segera membuang mukanya ke arah lain, seakan – akan ia baru saja terbebas dari mantra sihir akan pesona gadis itu.
“Lee Hyuk Jae, kenapa kau berdiri saja disitu?” seru Lee Donghae yang membuatnya segera menoleh ke arahnya.
“Lee Hyuk Jae?” celetuk gadis cantik berambut hitam panjang tersebut.
Lee Hyuk Jae hanya memasang senyum simpul di wajahnya, berusaha memamerkan sikap ramahnya seraya membungkukkan badannya sekilas. Sementara Lee Donghae segera melingkarkan tangan kirinya di bahu Lee Hyuk Jae seraya mengiyakan ucapan gadis itu.
“Oh, musuh kita datang juga rupanya, Yoo Rin.” ucap gadis berambut coklat. “Kau masih ingat padaku, Lee Hyuk Jae? Aku Gong Hee Jin dan ini Kim Yoo Rin.”
“Oh astaga, kalian putri – putri dari negeri dongeng rupanya! Putri Duyung bercepol dan Putri Es Balok.” ledek Lee Hyuk Jae yang berpura – pura terkejut walau sebenarnya ia sudah bisa menebaknya sejak awal jika itu adalah mereka.
Walaupun wajah Kim Yoo Rin dan Gong Hee Jin banyak berubah, tapi ada sisi dari wajah kanak – kanak mereka yang masih tertinggal, terutama Kim Yoo Rin yang memiliki mata bulat. Bukan hanya itu, lesung pipi sebelah kanannya saat tersenyum membalas sapaan Gong Hee Jin dan Lee Donghae tadi yang membuatnya segera mengenalinya.
“Beraninya kau masih memanggil kami seperti itu!”
“Hee Jin,” sergah Kim Yoo Rin seraya menarik lengan Gong Hee Jin dan menyunggingkan senyum. “Dia hanya bercanda.”
“Aku tahu. Untung saja kau sekarang tampan Lee Hyuk Jae, sehingga kami tak bisa memukulimu habis – habisan.”
“Sudah, kalian jangan mempermasalahkan saja masa lalu. Hee Jin, sudah waktunya kita check sound. Sebentar lagi acara akan dimulai.”
Lee Donghae dan Gong Hee Jin segera meninggalkan Lee Hyuk Jae bersama Kim Yoo Rin. Ia sepertinya berpartner dengan Gong Hee Jin sebagai pembawa acara untuk reuni akbar yang akan berlangsung cukup lama itu.
Lee Hyuk Jae mulai mengajak bicara Kim Yoo Rin. Ia memulai pembicaraan mereka dengan meminta maaf mengenai apa yang telah terjadi di antara mereka dulu dan Kim Yoo Rin hanya tersenyum sembari berkata jika dirinya tak pernah mempermasalahkannya lagi sekarang.
Gadis itu masih tetap sama, tak banyak berubah, selalu ramah, bersikap baik dan riang. Bahkan saat beberapa teman datang menghampiri dan menyapa mereka berdua, senyuman di bibirnya tak pernah lepas. Hingga tanpa sadar Lee Hyuk Jae sesekali menatapnya lekat.
Hingga akhir acara, semuanya berlangsung dengan lancar dan cukup meriah. Acaranya diisi dengan beberapa permainan seru yang membuat sebagian dari mereka yang hadir menunjukkan kebolehan masing – masing di atas panggung, termasuk Lee Hyuk Jae yang menari dengan lincahnya.
Sejak duduk di sekolah menengah pertama, ia memang gemar menari yang hingga kini masih ditekuninya sesekali di akhir pekan bersama teman – temannya Bboy-nya dulu, sebelum ia direkrut oleh sebuah manajemen tari yang membawanya ke Jepang 11 tahun lalu. Jadi bila ia didaulat untuk menunjukkan bakatnya, maka menarilah jawabannya.
Lee Donghae yang terlalu malas untuk pulang ke Apartmentnya sendiri, memilih menginap di rumah Lee Hyuk Jae hingga keesokan harinya sembari menghabiskan malam bersama dengan minum – minum berdua dan membicarkan hal – hal seputar acara reuni yang tadi mereka datangi. Lee Hyuk Jae tak pernah keberatan akan hal itu, mengingat sudah lamanya mereka berteman. Lagipula tak jarang ia juga melakukan hal yang sama.

★★★

“Pesan dari siapa itu?” tanya Lee Donghae yang kebetulan siang itu sedang mampir di kantor Lee Hyuk Jae setelah hampir beberapa bulan tak bertemu karena sibuk dengan pekerjaan masing – masing, menyipit curiga saat mendapati Lee Hyuk Jae yang menyingkir darinya saat menerima sebuah pesan singkat di ponselnya seraya tersenyum penuh arti. “Apa itu Yoo Rin? Hubunganmu semakin membaik semenjak acara reuni waktu itu rupanya.”
Memang benar hubungan Lee Hyuk Jae dan Kim Yoo Rin semakin membaik, bahkan bisa dikatakan sudah akrab sekarang. Mereka juga kerapkali bertemu, entah itu hanya untuk sekedar ngopi – ngopi, makan siang, atau jalan – jalan bersama.
Selain itu Lee Hyuk Jae juga sering menemuinya di kantornya, membawakan makan siang atau apapun itu yang bisa dijadikannya alasan untuk sekedar melihatnya. Bahkan sesekali Kim Yoo Rin meminta tolong pada Lee Hyuk Jae untuk melakukan hal kecil seperti membantunya memasang lampu di Apartmentnya dan hal kecil lainnya yang tak bisa ditolaknya.
“Kau sudah diperbudak.”
Sekalipun kata sindiran yang seringkali dilontarkan Lee Donghae itu memang terdengar benar adanya, Lee Hyuk Jae tak mengindahkannya. Baginya, asalkan ia bisa melakukan apapun untuk membantunya, ia sudah senang. Hingga akhirnya Lee Hyuk Jae menyadari satu hal, yaitu ‘kutukan Kim Yoo Rin dulu mulai bekerja padanya’.
Walau begitu Kim Yoo Rin tak benar – benar memperbudaknya. Gadis itu juga sering melakukan hal kecil yang membuat hati Lee Hyuk Jae berbunga – bunga, seperti membuatkan bekal makan siang yang diantarnya ke kantor Lee Hyuk Jae, mengundangnya makan malam di Apartmentnya, hingga mengajaknya menikmati es krim di pinggir jalan saat udara sedang panas – panasnya. Hal itu tentu saja membuat Lee Hyuk Jae menaruh harapan tinggi jika gadis itu juga menyukainya.
“Maaf sudah membuatmu menunggu lama.”
“Tidak apa – apa. Aku juga baru saja datang.” sahut Lee Hyuk Jae berbohong yang sebenarnya sudah menunggu sekitar sepuluh menit.
Lee Hyuk Jae sengaja mengajak Kim Yoo Rin untuk makan malam bersama hari ini. Ia sudah merencanakan sesuatu dimana ia akan menyatakan cintanya pada gadis itu. Harapannya yang teramat besar adalah agar cintanya diterima olehnya.
Begitu Kim Yoo Rin datang, Lee Hyuk Jae segera memesankan menu spesial yang disediakan oleh restoran Perancis ‘Bon Apetit yang merupakan restoran langganannya itu. Beruntung gadis itu tak pemilih soal makanan sehingga Lee Hyuk Jae tak perlu bingung memilihkan menu untuknya.
Dan disaat mereka berdua tengah menikmati makan malam mereka berdua, ponsel Kim Yoo Rin berdering pelan. Gadis itu pun segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas tangannya, melihat nama si penelepon yang tertera di layarnya sekilas sebelum akhirnya menggeser layar sentuh ponselnya untuk menjawabnya.
“Sudah sampai? Iya baiklah.” jawabnya singkat sebelum kemudian segera menutup panggilan teleponnya dan kembali melahap makanannya.
Lee Hyuk Jae sudah membuka mulutnya, hendak menanyakan siapa penelepon barusan. Tapi kemudian ia mengurungkan niatnya dan kembali mengatupkan mulutnya rapat.
“Aku ingin mengenalkan seseorang padamu,” bisik Kim Yoo Rin seraya menatap Lee Hyuk Jae sekilas dan kembali menatap piringnya.
“Siapa?”
Belum sempat Lee Hyuk Jae mendapatkan jawaban yang diinginkannya dari Kim Yoo Rin, gadis itu sudah lebih dulu melambaikan tangannya ke belakang punggungnya. Lee Hyuk Jae pun dengan spontan memutar kepalanya, mengikuti pandangan mata Kim Yoo Rin.
“Perkenalkan ini tunanganku, Choi Siwon. Dia baru saja kembali dari Macau setelah meninggalkanku berbulan – bulan untuk bekerja disana.” celoteh Kim Yoo Rin yang segera bangkit berdiri lalu merangkulkan sebelah tangannya pada pinggang Pria tampan bertubuh tinggi dan atletis yang sudah berdiri di depan meja mereka berdua dimana aura wajah gadis itu berubah menjadi lebih berseri – seri. “Oppa, perkenalkan ini temanku semasa SD, Lee Hyuk Jae.”
Kaki Lee Hyuk Jae tiba – tiba seolah melemas seakan – akan tulang – tulangnya baru saja dikeluarkan secara paksa dari tubuhnya. Hatinya remuk redam seketika. Ia patah hati. Benar – benar patah hati.
Lee Hyuk Jae tak pernah mengetahui sebelumnya jika Kim Yoo Rin telah memiliki tunangan yang sebentar lagi akan dinikahinya. Gadis itu bahkan tak pernah memajang foto mereka berdua di Apartmentnya yang seringkali dikunjunginya.
Selain itu Kim Yoo Rin juga tak pernah sekalipun membahas kehidupan asmaranya, kecuali masalah pekerjaan yang menurutnya membutuhkan pendapatnya. Lagipula gadis itu juga jarang mendapatkan panggilan telepon dari pria lain saat mereka tengah bersamaOleh sebab itu ia tak pernah tahu.
Salahnya yang tak pernah menanyakan hal itu pada Kim Yoo Rin. Salahnya juga yang tak peka terhadap cara gadis itu dalam memperlakukannya maupun dalam mengartikan hubungan mereka beberapa bulan belakangan ini. Dan disaat semuanya sudah terlambat, Lee Hyuk Jae hanya bisa terluka.
Ada sesuatu yang akhirnya Lee Hyuk Jae sadari kini. Sebuah dongeng putri duyung yang begitu disukai Kim Yoo Rin sejak kecil, sepertinya lebih cocok diperankan olehnya. Ia mencintai sang putri cantik yang tak membalas cintanya. Hingga akhirnya ia harus menerima takdirnya untuk menjadi buih di tengah lautan.

Iklan

Mission Unbelievable Chapter 2

29 Mei

donghae_and_eunhyuk_bicycle_shirts-7706

Minggu pukul 7 pagi Ha Na masih bergumul dengan selimut dan gulingnya. Dia selalu ingin bangun siang tiap hari minggu. Namun, Ha Neul seringkali mengusik kesenangannya di akhir pekannya, sehingga ia tidak pernah bisa menikmati akhir pekannya sesuai keinginannya. Biasanya pagi-pagi Ha Neul sudah menerobos masuk kamar Ha Na, lalu menariknya dari tempat tidur dan mengajaknya jalan-jalan dan hanya sekedar joging ditaman. Walau sebenarnya niatnya adalah cuci mata untuk melihat para pria yang juga sedang berolahraga. Dan Ha Na tak pernah bisa menolak ajakan paksa dari sahabatnya itu.

Ponsel Ha Na tiba-tiba saja berdering. Dia meraba-raba meja kecil disampingnya, dimana dia meletakkan ponselnya. Matanya masih sedikit terpejam saat dijawabnya panggilan telponnya. “Halo..”, jawab Ha Na lirih dengan mata yang masih mengantuk dan seperti sulit untuk dibuka. “Ha Na-ya, hari ini aku akan berkencan dengan Donghae!”, teriak Ha Neul dari ujung telpon dengan nada yang sangat girangnya. “Pagi-pagi kau menelponku hanya untuk mengatakan itu! Aku masih mengantuk, jangan ganggu aku! Tapi cepat sekali aksimu, kau benar-benar berusaha keras!”, ucap Ha Na yang langsung membelalakkan matanya begitu mendengar Ha Neul mengoceh. “Tentu. Kau jangan iri kalau aku akan segera mendapatkannya lebih cepat darimu ya! Kau pasti kalah hahaha..!”, seru Ha Neul memamerkan diri dan tertawa. “Aish, kau ini! Tenang saja, aku juga tidak akan kalah! Aku juga pasti akan mendapatkan Eunhyuk! Sudahlah, tutup telponnya, aku mau tidur lagi!”, omel Ha Na. “Kau datanglah ke Lotte World jam 3 sore ini. Aku akan memperlihatkan kemesraan kami berdua padamu hahaha..”, ujar Ha Neul lagi yang tak lepas dari tawanya. “Aish, kau menjijikan sekali, aku malas! Memangnya aku tidak punya pekerjaan lain selain menonton kalian! Kau berisik sekali, aku tutup telponnya!”, teriak Ha Na yang langsung memutuskan pembicaraan dan menaruh kembali ponselnya diatas meja. Ha Na merasa kecolongan start dari Ha Neul. Anak itu ternyata jauh lebih gesit. Ha Na hendak memejamkan matanya kembali untuk tidur. Namun baru saja Ha Na memejamkan matanya beberapa detik, lagi-lagi ponselnya berdering. Ha Na kesal karena Ha Neul terus saja mengganggunya. “Halo. Apa lagi? Kau ingin menyuruhku untuk datang kesana dan menonton kalian yang sedang bermesraan, hah!? Aku ingin tidur lagi, jangan ganggu aku!”, Ha Na mengomel panjang lebar. “Halo. Apa ini Kim Ha Na?”, tanya seorang pria di ujung telpon yang terdengar sedikit tertawa. Ha Na terdiam dan berpikir, “Astaga, ini suara pria. Aku pikir Ha Neul. Memalukan sekali”. “Ah, iya. Kau siapa?”, jawab Ha Na yang sedang menahan malu, walau tak terlihat oleh pria diseberang telpon itu. “Aku eunhyuk. Apa kau masih ingat?” “Ah ya, Eunhyuk-ssi. Aku minta maaf tadi, aku pikir Ha Neul menelponku lagi hehehe..”, ucap Ha Na berusaha untuk menjelaskan. “Tidak apa-apa. Aku mengerti”, sahut Eunhyuk yang terdengar tertawa disela-sela ucapannya. “Iya. Ada apa, Eunhyuk-ssi?”, tanya Ha Na kemudian. “Apa kau tidak kehilangan sesuatu? Kemarin kau meninggalkan jam tanganmu, apa kau tidak ingat?”, jawab Eunhyuk. “Jam tangan?! Ah iya, aku kehilangan jamku! Apa tertinggal ditempat karaoke?”, Ha Na bertanya. “Iya, aku menemukannya tergeletak dimeja saat kau sudah pulang. Apa kau ingin aku untuk mengantarkannya kerumahmu?”, Eunhyuk menawarkan diri. “Ah tidak perlu. Kita bertemu diluar saja, bagaimana?” “Baiklah. Bagaimana kalau kita bertemu di Lotte World sore ini jam 3?”, usul Eunhyuk. “Iya baiklah kalau begitu. Kita bertemu disana saja”, jawab Ha Na. “Oke, aku akan menunggumu di depan gedung!”, ucap Eunhyuk. “Ne”, sahut Ha Na singkat. “Sampai  ketemu nanti sore ya! Bye..”, ucapnya. “Bye..”, balas Ha Na mengakhiri pembicaraan. Eunhyuk pun langsung menutup telponnya. Ha Na tampak tersenyum dan berteriak riang, “Ini benar-benar suatu kebetulan yang menguntungkan bagiku! Senangnya! Ha Neul, aku akan datang! Kau lihat saja, aku akan merusak acaramu nanti! Memangnya kau saja yang bisa hahaha..!”. Karena begitu girangnya Ha Na pun segera mengirimi Ha Neul pesan singkat yang berisi “Ha Neul-ah, aku juga akan pergi berkencan dengan Eunhyuk hahaha..”. Dan dengan cepat Ha Na mendapat balasan pesan dari Ha Neul. Dia menanyakan tempatnya, namun Ha Na hanya menjawab “Itu rahasia, aku takut kau hanya akan mengganggu hahaha..”. Ha Neul membalas pesan Ha Na lagi dengan isi, “Kau gadis tengik, aku tidak akan kalah darimu! Kita lihat saja nanti hahaha..!”. Ha Na tidak membalas pesan Ha Neul lagi, dia hanya tertawa dan segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.

* * *

setelah menutup telponnya, Eunhyuk tersenyum sendiri sambil menatap jam tangan yang sedan dipegangnya. lalu tiba-tiba Donghae masuk ke kamar dan memrgokinya yang sedang bertingkah aneh. “Kenapa kau senyum-senyum sendiri seperti itu? apa itu jam tangan milik Ha Na?”, tanya Donghae heran pada Eunhyuk. Eunhyuk hanya menjawab dengan anggukan dan tersenyum. “Apa kau benar-benar tidak ingin ikut denganku nanti sore? Kau ajak saja Ha Na pergi bersamamu, kita Double Date haha..”, ujar Donghae. “Aku akan pergi kesana bersamanya”, ucap Eunhyuk pelan. “Kesana kemana? Maksudmu ke Lotte World juga? Kau benar-benar sudah mengajak Ha Na rupanya! Hahaha…baiklah!”, Donghae tertawa. “Kita bertemu disana saja! Kau pura-puralah ini suatu kebetulan hahaha…”, ucap Eunhyuk ikut tertawa. “”Ya baiklah aku mengerti!”, sahut Donghae.

Posted by Iyagi

Mission Unbelievable Chapter 1

26 Mei

 

 

donghae_and_eunhyuk_bicycle_shirts-7706

Kim Ha Na dan Park Ha Neul, dua sahabat karib sejak kecil, sedang menikmati malam minggu mereka dg berkaraoke bersama. Mereka selalu pergi berdua sambil sesekali mengadu peruntungan mereka untuk menemukan pria tampan saat sedang berjalan-jalan. Mereka seperti dua orang gadis aneh yang selalu berbuat gila dan onar dimanapun tanpa mengenal tempat. Mereka bersekolah di sekolah khusus wanita, sehingga pria tampan ibarat guci antik bagi mereka. Tak jarang seorang pria sebayanya dari sekolah asrama pria selalu lari ketakutan karena diperebutkan oleh mereka berdua. Karena mereka kerap kali berlomba untuk mendapatkan kekasih dan sialnya pria yang dijadikan rebutan seringkali pria yang sama.
“Hei, kali ini giliranmu yang membayar!”, ujar Ha Neul. “Ya baiklah, tak usah khawatir!”, sahut Ha Na. “Aku mau ke toilet dulu sebentar. Aku akan menyusulmu diruang biasa”, ucap Ha Neul yang langsung berlalu pergi, sementara Ha Na reservasi tempat. Dan ternyata ruangan yang biasa mereka tempati sudah dipesan oleh orang lain. Pegawai karaoke tersebut tidak mungkin memindahkan tamu yang sudah menyewa tempat itu lebih dulu dari mereka. Mau tak mau Ha Na harus menerimanya, lalu memesan ruangan lain yang masih tersedia. Ha Na segera keruangan tersebut. Sambil menunggu Ha Neul datang, dia pun bernyanyi-nyanyi sendiri. Ha Na sudah menyanyikan 2 buah lagu kesukaannya, tapi Ha Neul tak kunjung datang. Padahal Ha Na sudah mengiriminya sms kalau ruangannya bernomor 201, bukan ruang yang biasa mereka tempati yang bernomor 213. Akhirnya karena tak sabar menunggu, Ha Na pun menyusulnya ke toilet. Ha Na mencarinya ke dalam toilet, tapi ternyata Ha Neul tak ada. Di telponnya Ha Neul, namun dia tidak juga menjawab panggilan Ha Na. Ha Na bingung, dia khawatir Ha Neul menghilang atau pergi begitu saja. Ha Na berjalan melewati ruang 213 dan dia mendengar suara Ha Neul yang sedang bernyanyi sambil sesekali tertawa riang. Tanpa pikir panjang, Ha Na pun masuk ke ruangan itu.
“Park Ha Neul!!! Bagaimana bisa kau berada disini! Aku menunggumu disana dan mencarimu kemana-mana!”, teriak Ha Na begitu melihat Ha Neul yang sedang bernyanyi-nyanyi. “Oh,kau sudah datang!”, sapa Ha Neul dengan santainya.
Ha Na tak menyadari ada dua pria yang sedari tadi memperhatikan mereka.
“Ehem..”, salah satu dari pria itu berdehem pelan.
Ha Na menoleh, dilihatnya dua orang pria sedang duduk memperhatikan dirinya dan Ha Neul berdebat seraya tersenyum manis padanya. Ha Na tampak kikuk dan diapun balas tersenyum pada mereka. Lalu tanpa pikir panjang Ha Na segera menarik tangan Ha Neul untuk membawanya keluar ruangan.
“Ayo ikut aku!”, ucap Ha Na pada Ha Neul. “Aku akan segera kembali! Tunggu ya!”, ujar Ha Neul dengan penuh semangat ke arah kedua pria itu. Sementara itu keduanya hanya tersenyum dan saling memandang dengan heran tanpa berkata apa-apa.
“Kau mengganggu saja!”, omel Ha Neul. Ha Na memukul kepala Ha Neul dan Ha Neul pun mengusap-usap kepalanya. “Ya baiklah, ayo kita kejar mereka bersama-sama!”, ujar Ha Neul lagi. “Bodoh, seenaknya saja kau meninggalkanku disana dan bersenang-senang sendiri disini! Kau sengaja tak mengangkat telpon dan kau juga tak membaca pesanku, hah!”, omel Ha Na. Sementara itu Ha Na malah tertawa senang dan berkata, “Tapi sekarang kau sudah menemukanku, jadi ayo kita kembali ke ruangan mereka!” “Siapa mereka? Aku suka yang berjaket biru!”, ucap Ha Na. “Apa!? Tidak! Kenapa kali ini sama lagi!?”, protes Ha Neul. “Ah sial, kenapa selalu begini!”, pekik Ha Na. “Pokoknya dia milikku!”, seru Ha Neul. “Kita suit saja untuk menentukannya, bagaimana?”, usul Ha Na. “Ya baiklah, ayo!”, sahut Ha Neul.
“Rock Scissor Paper!”, ucap mereka bersamaan. “Yeah aku menang!”, teriak Ha Neul dengan girangnya. “Yah, kita ulangi sekali lagi?”, pinta Ha Na. “Tidak mau! Yang bernama Lee Donghae itu milikku, kau Lee Hyukjae saja! Jangan ganggu dia, ingat itu!”, ancam Ha Neul. “Jadi nama mereka Lee Donghae dan Lee Hyukjae. Ya baiklah, huh!”, sahut Ha Na agak lesu. “Ayo kita masuk lagi ke ruangan mereka! Kali ini kita harus bisa dapatkan mereka, oke!”, seru Ha Neul bersemangat. “Tapi ruangan yang sudah kita pesan?!”, tanya Ha Na. “Biarkan saja! Kita fokus ke target kita dan mulai jalankan misi kita seperti biasa!”, sahut Ha Neul seraya tertawa. “Baiklah, ayo semangat!”, ujar Ha Na menimpali.
Lalu Ha Na dan Ha Neul pun kembali masuk ke ruangan tersebut. Dilihatnya kedua pria itu sedang bernyanyi. Mereka menyanyikan lagu Oppa-Oppa sambil menari. Ha Na dan Ha Neul hanya bengong melihat mereka bernyanyi dan menari.
“Prok Prok Prok.. Daebak! Keren!”, teriak Ha Na n Ha Neul serempak sambil bertepuk tangan begitu mereka selesai bernyanyi. Kedua pria itu hanya tersenyum simpul saat dipuji. Lalu mereka saling berpandangan dengan heran. Sementara itu Ha Na dan Ha Neul tersenyum manis pada mereka.
“Umm~ kenalkan ini sahabatku Ha Na!”, seru Ha Neul. Lalu Ha Na mengulurkan tangannya pada Donghae. Diapun menyambutnya dan menyebutkan namanya. Setelah itu Ha Na mengulurkan tangannya pada Lee Hyukjae, Ha Na sempat terpana pada tariannya tadi. Lee Hyukjae tersenyum pada Ha Na dan berkata, “Aku Lee Hyukjae, panggil saja Eunhyuk.” “Apa kalian murid SMA?”, tanya Donghae. Ha Neul mengiyakan dan balik bertanya, “Bagaimana dengan kalian?” “Kami mahasiswa tingkat akhir”, Eunhyuk yang menjawabnya. “Berarti kalian kira-kira berusia 24 tahun?”, Ha Neul bertanya lagi. “Kami 28 tahun”, sahut Donghae. “Apa kalian tidak lulus-lulus? Kalian pasti sudah menikah?”, giliran Ha Na yang bertanya. Mereka berdua hanya tertawa, lalu Donghae berkata, “Tidak, kami belum menikah.” “Kalau begitu menikah saja denganku, Donghae-ssi”, celetuk Ha Neul dengan tersenyum lebar. “Dia sedang tidak waras, tolong maafkan dia”, sahut Ha Na menimpali. Kedua pria itu tertawa kembali saat mendengar ucapan spontan Ha Na, sedangkan Ha Na hanya memasang tampang bodoh.
Dua gadis bodoh itu benar-benar menikmati malam mereka dengan bersenang-senang rupanya. Mereka tidak mempermasalahkan umur Donghae dan Eunhyuk yang sudah ahjussi, karena Ha Na dan Ha Neul menyukai mereka. Bahkan Ha Na dan Ha Neul sedang berupaya menjalankan misi mereka untuk mengencani Donghae dan Eunhyuk.

posted by Iyagi

%d blogger menyukai ini: