Dilema

23 Nov

Sudah 4 bulan rupanya, aku membiarkan rumahku yang satu ini terbengkalai begitu saja-sama halnya dengan wattpadku hehe. Salahku yang akhir-akhir ini otakku kembali mentok. Yah walaupun ada beberapa draft yang kubiarkan tanpa ada minat untuk menyelesaikannya. Bukannya aku tak bisa, hanya saja-kau tahu kan rasa malas seringkali menghadangku-aku mudah sekali teralihkan. Dan alasan kali ini adalah ada yang ingin sekali kutulis, tapi nyatanya hingga hari ini aku belum menemukan apa yang ingin kutulis. Otakku blank dan aku tak punya plot sama sekali. Semalam aku sempat membaca karya penulis-aku takkan menyebut nama hehe-yang bekerja di penerbit tersebut. Menurutku gaya tulisannya sedikit lebay, dia menceritakan tokoh-tokohnya seperti orang-orang yang naif, yah walaupun tak bisa kupungkiri orang-orang seperti itu ada di dunia nyata. Selain itu gaya bahasa terlalu gaul, aku tak menyukainya.
Lupakan saja dia, toh aku sudah cukup dibuat gila oleh pikiranku sendiri. Aku sangat kesal karena aku belum juga mendapatkan ide untuk kutuangkan dalam tulisanku. Ini membuatku sangat marah pada diriku sendiri. Apa yang harus kulakukan? Tidak bisakah otakku ini memberiku sebuah plot bagus? Ini membuatku gila! Apa aku harus menyerah? Tidak, aku tak bisa melakukan itu. Aku ingin mencobanya kali ini. Aku sudah memikirkan banyak hal yang membuatku kembali harus memungut keinginan itu setelah aku membuangnya di tong sampah beberapa minggu yang lalu.
Disaat aku sedang dibuat gila oleh diriku sendiri, seorang teman terus mencecarku dengan panggilannya. Aku mencoba mengatakan untuk tidak menghubungiku yang jarang online, tapi omonganku diindahkannya. Aku bukan termasuk orang yang suka menjelaskan apa yang kukatakan untuk kedua kalinya, lantas saja hal itu membuatku semakin kesal. Aku tak peduli jika dikatakan sombong atau apapun itu. Aku hanya terlalu berterus terang, aku akan mengatakan tidak suka jika memang aku tidak suka. Lantas itu menjadi kesalahanku? Baiklah, katakan saja itu salahku. Toh aku sudah cukup pusing dengan diriku. Aku tak mau menambah beban pada otakku agar ia berpikir keras diluar jalur yang tidak seharusnya ia pikirkan. Jadi tolong biarkan otakku ini bekerja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: