Unspoken

23 Jul

Malam ini sepertinya suasana hatinya sedang tak begitu baik. Wajahnya dengan sangat jelas memperlihatkan kebosanan. Lihat saja yang dilakukannya. Ia hanya tidur – tiduran di atas ranjang berukuran single-nya.
Sesekali ia berguling ke sisi kanan maupun kirinya, lalu merapatkan selimut tipisnya agar tetap membungkus tubuhnya. Sementara kedua tangannya bermain – main dengan ponselnya, berselancar di dunia maya.
Ia menatap ke arahku. Aku sendiri tak mengerti apa yang ada di pikirannya kini. Suasana hatinya sedang buruk dan yang bisa kulakukan untuknya hanyalah mendendangkan beberapa lagu untuknya.
Sekalipun aku tahu apa yang kulakukan itu mungkin saja tak sepenuhnya bisa membuatnya lebih baik, tapi aku tetap melakukannya. Kumainkan beberapa lagu lembut yang sepertinya sesuai dengan mood-nya saat ini.
Walau aku tak sepenuhnya mengerti arti dari lagu – lagu berbahasa asing yang kumainkan untuknya itu, tapi setidaknya aku melakukannya sesuai keinginannya. Dan ia menyukainya. Aku bersyukur akan hal itu.
Ponselnya ia letakkan begitu saja disampingnya. Ia memilih menatapku. Menatapku dengan tatapan kosong sementara pikirannya terbang entah kemana. Aku tak bisa menebak isi pikirannya, tapi kemudian ia bergumam pelan, “Aku bosan.”
Aku mengerjap, terus memperhatikannya yang kini tengah menatap langit – langit kamarnya yang bercatkan biru muda. Ia menghelakan napasnya berulangkali. Bahkan ia juga menghembuskannya dengan kasar melalui mulutnya.
Aku menunggunya. Menunggunya mengeluarkan suaranya, berbicara padaku sekali lagi. Mungkin ia bisa menceritakan kepenatan di hatinya itu padaku seperti yang biasa dilakukannya bila ia benar – benar tak kuasa menahannya lebih lama di dalam hatinya.
Sudah beberapa lagu yang telah kumainkan untuk mengusir penatnya dan itu tak membantu sama sekali. Biasanya ia tak seperti ini. Jika sudah kumainkan lagu – lagu kesukaannya, ia akan segera membaik. Entah apa yang terjadi padanya sekarang, ia sepertinya benar – benar tak tertolong.
“Bete!” keluhnya sekali lagi, sebelum akhirnya menyibakkan selimutnya dan bangkit dari tempat tidurnya, meninggalkanku seorang diri di kamarnya.
Aku hanya bisa menatap punggungnya yang menghilang ke balik pintu. Walau begitu aku tetap mendendangkan lagu – lagu hingga akhirnya lima menit kemudian ia kembali, menghampiriku.
“Aku lupa mematikan winamp-nya.” katanya pelan sebelum akhirnya menekan tombol close pada aplikasi pemutar lagunya dan mematikan laptopnya.

Iklan
%d blogger menyukai ini: