New Year Package

31 Des

Bagaimana sih para single fighter alias jomblo menghabiskan malam tahun baru? Jawabannya tentu berkumpul bersama teman yang juga satu spesies dengannya. Menyedihkan sekali memang terdengarnya, tapi itu jauh lebih baik daripada menghabiskan kesendirian dirumah tanpa kekasih dengan menonton film romantis yang hanya membuat hati tambah merana. Biarpun begitu, kita tidak mesti harus terburu – buru mencari pasangan, bukan? Menikmati hidup jauh lebih menyenangkan daripada sekedar berburu seorang pria untuk dijadikan kekasih. Toh jika waktunya sudah tepat, Tuhan pasti akan segera mengirimkannya langsung pada kita. Bahkan dikirimkan secara kilat dan datang di depan pintu rumah. Memangnya dia paket yang dikirim pak pos! Eh, tapi bisa juga dikatakan seperti itu sih! Bukankah begitu?
Kesha yang sedang melamun sembari mendengarkan mp3 di ipodnya, tiba – tiba terkesiap mendapati ponselnya yang berdering. Ia melepaskan earphone ditelinganya dan segera bangkit dari sofa untuk mengambil ponselnya, yang diletakkan di atas meja, yang tak jauh dari tempatnya duduk. Dilihatnya layar ponselnya, ternyata sahabatnya, Lisa yang menghubunginya.
“Halo. Sha, malam tahun baru kita jalan – jalan, yuk!” seru Lisa to the point sebelum Kesha sempat membuka mulutnya.
“Mau kemana?” tanya Kesha datar.
“Kemana saja,” pungkasnya. “Yang terpenting judulnya jalan – jalan. Siapa tahu saja kita menemukan pria tampan tergeletak dijalan hehe…”
“Kau kira dompet haha…” Kesha ikut tertawa mendengarnya.
“Baiklah, besok jam 8 malam aku akan menjemputmu dirumahmu. Dah.”
Lisa segera menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Kesha terlebih dahulu. Gadis itu memang selalu berbuat seenaknya. Mereka bersahabat karib semenjak SMA. Meskipun sekarang mereka kuliah di Universitas yang berbeda, mereka sering bersama. Bahkan saling mengunjungi Universitas masing – masing walau hanya untuk sekedar makan siang bersama. Mereka memiliki banyak kesamaan. Mulai dari zodiak, golongan darah, grup kpop kesukaan dan juga sama – sama single fighter. Beruntunglah tipe pria kesukaan mereka tidaklah sama. Namun Kesha tidaklah seperti Lisa yang selalu tergesa – gesa dalam bertindak. Ia adalah gadis yang penuh pertimbangan dan ceria, sementara Lisa terbilang ceroboh dan moody. Oleh sebab itu, mereka saling melengkapi satu sama lain.

***

Kesha menatap pantulan dirinya didepan cermin, memastikan kalau pakaian yang dikenakannya sudah oke. Ia juga mengenakan make up yang simpel dan natural di wajahnya. Lalu ia tersenyum sendiri dan bergumam pelan. “Cantik”, pujinya pada diri sendiri. Tak lupa ia membawa tas selempang kecil berwarna biru kesayangannya. Dilihatnya jam dinding yang tergantung di dinding kamarnya, hampir menunjukkan pukul delapan malam. Lisa belum juga menampakkan batang hidungnya. Kesha mulai cemas, khawatir jika Lisa membatalkan janjinya dengan seenaknya lagi. Kalau itu terjadi, Kesha benar – benar akan membuat perhitungan dengannya nanti.
Apa Lisa sudah lupa ancamannya dulu masih berlaku jika dia mengulangi perbuatannya itu? Sebenarnya ancamannya tidaklah berat, Lisa hanya perlu memberikan album koleksi TVXQ yang menjadi favoritnya pada Kesha. Tentu saja itu tidak mungkin, mengingat betapa Lisa sangat menyukainya.
“Oh, maaf aku terlambat.” sapa Lisa yang langsung masuk ke kamar Kesha, “Jalanan macet sekali. Banyak orang – orang menyebalkan yang menghalangi jalanku agar bisa sampai kemari.”
“Siapa maksudmu?” tanya Kesha tak mengerti.
“Siapa lagi kalau bukan pasangan kekasih yang sedang pamer kemesraan, yang berboncengan dengan motor!” kesal Lisa.
Tawa Kesha langsung membahana begitu mendengar ucapan Lisa yang sedang kesal hanya gara – gara cemburu melihat orang – orang yang memadu kasih. Lisa dan Kesha memang dua sahabat yang sedang menjomblo. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama – sama hingga awalnya teman – temannya yang lain mengira kalau mereka memiliki kelainan.
Lisa mengemudikan motornya, sementara Kesha diboncengnya dibelakang. Disusurinya jalanan kota Bandung yang ramai. Banyak sekali kendaraan yang berlalu lalang, baik itu mobil maupun motor. Kesha memperhatikan sekelilingnya. Sebagian dari pengendara motor itu adalah pasangan kekasih. Kemudian Lisa menghentikan motornya disuatu kafe kecil, kafe yang biasa ia dan Kesha datangi.
“Ck, kalau cuma kesini, seharusnya kau bilang dari tadi.” sungut Kesha.
“Haha.. Kalau aku bilang, kau tidak akan mau pergi.” sahut Lisa sembari mengunci motornya. “Tenang saja dia tidak bekerja hari ini. Katanya dia pulang ke Jakarta.”
“Kau tidak bohong?” tanya Kesha.
“Iya, jangan khawatir.” Lisa terkekeh. “Dia kan salah satu fan – mu, seharusnya kau memperlakukannya dengan baik.”
“Aku kan hanya menganggapnya teman.” gumam Kesha pelan. “Memangnya ada acara apa disini?”
“Lindo band perform malam ini.”
“Ah, aku tidak peduli. Kalau Panic at the Disco perform, itu aku peduli,” celoteh Kesha.
Kesha dan Lisa memasuki kafe ‘de Bisteak dengan santainya. Suara hingar bingar langsung menyeruak jelas. Bahkan suaranya memekakan telinga. Kafe ini benar – benar bising dan ramai sekali oleh pengunjung. Karena memang sudah terkenal dikalangan anak – anak muda dengan harganya yang terjangkau untuk kalangan pelajar.
Keduanya lalu duduk dibangku yang sebelumnya sudah mereka pesan terlebih dahulu. Lisa yang reservasi tempatnya. Ia tahu betul jika tidak reservasi sebelumnya, mereka tidak akan kebagian kursi kosong.Karena setiap ada band yang manggung di kafe ini, kursinya selalu penuh akan pengunjung.
“Untunglah acaranya belum mulai,” celetuk Lisa bernapas lega.
“Selesainya sampai jam berapa?”
“Kau ini, belum juga dimulai, sudah menanyakan selesainya.”
“Kau kan tahu kalau aku tidak suka band indie.”
“Sudah, jangan berisik! Mau dimulai nih!”
Benar saja, tak berapa lama acaranya segera dimulai. MC muncul dan berdiri didepan dengan berceloteh panjang lebar membuka acara spesial di malam tahun baru ini. Kesha yang memang tak begitu menyukai acara musik indie, memasang tampang masam di wajahnya. Ia tak habis pikir kenapa Lisa begitu menyukai band – band indie, yang menurut Kesha hanya menyanyikan lagu termehek – mehek. Berbanding terbalik dengannya yang menyukai band – band cadas alias rock.
Selama dua setengah jam Kesha berjuang melawan rasa bosan dan suntuknya mendengar Lindo band, yang merupakan band favorit Lisa, dan juga band – band indie lainnya bernyanyi. Ia bahkan tak menyimak penampilan mereka sama sekali. Berusaha menyibukkan diri dengan ponselnya, bermain game, online dan browsing.
“Kenapa wajahmu seperti itu?” Lisa terkejut mendapati wajah Kesha yang muram dan bete.
“Apa sudah selesai? Rasanya aku mau pingsan kalau lama – lama disini,” keluh Kesha.
“Maaf. Ya baiklah, ayo kita pergi ke tempat selanjutnya!” Lisa berseru dan segera mengajak Kesha untuk beranjak pergi.
Lisa lalu menarik Kesha pergi sebelum sahabatnya itu lebih menderita lagi. Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Ia membawa Kesha ke Dago. Jalanan di Dago begitu ramai dan sesak oleh manusia yang juga ingin menikmati malam tahun baru. Biasanya selalu ada pesta kembang api tepat jam dua belas malam.
Wajah Kesha sudah kembali segar dan ceria. Ia selalu merasa excited setiap kali melihat kembang api. Tak jarang ia selalu bersorak kegirangan jika kembang api mulai bertebaran dilangit. Kalau sudah begitu, Kesha tampak seperti anak – anak saja. Lisa tahu betul kalau Kesha sedang bete, ia pasti akan bermain kembang api di teras rumahnya.
“Apa masih lama? Sudah jam dua belas belum?” tanya Kesha tak sabar.
“Belum, masih jam 11.50.”
“Ah lama sekali.”
Kesha tak mempedulikan sekitarnya yang penuh sesak. Ia hanya ingin menikmati pesta kembang api dimalam tahun baru ini. Sementara Lisa tampak tengah mengomel pelan karena cemburu melihat banyaknya pasangan kekasih yang bergandengan mesra.
“Gandeng tanganku saja,” sahut Kesha sembari tertawa pelan.
“Tidak mau! Aku maunya menggandeng tangan pria tampan.” omel Lisa.
Akhirnya waktu menunjukkan pukul 12 malam. Tak berapa lama suara letusan kembang api yang diiringi gemerlapnya warna – warni cahayanya berhamburan dilangit.
“Kyaaa… Lis, kembang apinya sudah mulai!” teriak Kesha seraya menarik tangan Lisa. “Ayo Lis, kita ke barisan depan!”
Tak cukup satu kembang api yang mewarnai langit. Tapi juga berkali – kali. Membuat Kesha terperangah mengaguminya.
“Waaa… Indahnya! Cantik sekali! Benar – benar cantik!”
Kesha menggenggam tangan Lisa tanpa melepasnya sedikitpun. Ia juga terus mendongakkan kepalanya sambil terus mengagumi kembang api yang berkerlap – kerlip dengan indahnya.
“Cantik sekali ya, Lis!” ujar Kesha tanpa mendapati sedikitpun jawaban dari Lisa.
Karena Lisa tak juga menjawab, Kesha pun menoleh kebelakang. Dan betapa terkejutnya ia setelah mengetahui kalau orang yang dibelakangnya bukanlah Lisa, melainkan seorang lelaki. Kesha mengerjapkan matanya, tertegun dalam diam. Suara kembang api masih menggelegar di udara. Tangannya juga masih menggenggam tangan lelaki itu. Kemudian laki – laki itu tersenyum, Kesha pun langsung terkesiap dan buru – buru melepaskan genggaman tangannya. Wajahnya mungkin tampak aneh karena menahan malu. Sementara laki – laki itu terus memandanginya dengan tersenyum manis padanya. Buru – buru ia beranjak pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Lidahnya terlalu kelu karena malu untuk mengatakan maaf.

***

“Renooo!” teriak Lisa saat melihat Reno sedang beres – beres.
Reno segera menoleh ke arah Lisa begitu mendengar namanya dipanggil. Senyumnya langsung mengembang cerah. Dia lalu melihat ke arah Kesha yang berdiri dibelakang Kesha. Kesha pun tersenyum dan segera menyapa Reno.
“Hei, sudah lama aku tidak melihat kalian!” seru Reno. “Sudah seminggu ya!”
“Iya, apa kau merindukan kami?” canda Lisa.
Kesha dan Lisa duduk ditempat biasa. Lisa memesan tenderloin steak yang menjadi favoritnya. Sementara Kesha hanya minum ice lemon tea, karena perutnya masih kenyang sehabis makan malam tadi. Reno menemani dua gadis itu mengobrol sebentar, sebelum akhirnya ia kembali bekerja.
“No,” seorang lelaki menepuk bahu Reno yang sedang membersihkan meja.
“Abang, kau sudah datang,” ujar Reno saat melihat laki – laki itu.
Kesha melihat ke arah lelaki yang sedang berbicara dengan Reno. Sepertinya ia pernah melihatnya, tapi entah dimana. Kesha sedang berusaha mengingatnya. Tiba – tiba ia teringat.
“Astaga!”, pekik Kesha.
“Ada apa?!” Lisa terkejut.
“Bukan apa – apa,” sahut Kesha berusaha untuk tetap tenang.
Reno yang sedang mengobrol dengan lelaki itu tiba – tiba menoleh ke arah Kesha dan Lisa. Sesekali wajahnya tampak tersenyum. Kesha yang melihat mereka segera menundukkan wajahnya begitu mendapati dirinya bertatap muka dengan lelaki itu. Lalu Reno dan lelaki itu berjalan ke arah meja Kesha dan Lisa. Sial, saat itu juga Kesha menjadi ketar – ketir. Wajah Kesha mulai cemas.
“Hei, aku ingin mengenalkan kalian pada kakak sepupuku.” ucap Reno.
Lisa yang awalnya sedang asik makan, segera menghentikan makannya. Sementara Kesha pura – pura sibuk dengan ponselnya. Ia benar – benar berharap lelaki itu tak mengenalinya.
“Aditya? Kau Aditya, basis Lindo band kan!”, teriak Lisa penuh semangat. “Jadi kau kakak sepupu Reno.”
Kesha segera menoleh ke arah Lisa. Ia sedikit terkejut dan heran. Apa yang Lisa katakan sebenarnya? Benarkah itu kalau dia Basis Lindo band? Dan dia sepupu Reno! Benar – benar sial!
“Hai,” laki – laki itu tersenyum, “Kau mengenaliku?”
“Tentu saja itu, bang. Lisa itu penggemar berat bandmu,” celetuk Reno. “Sedangkan Kesha, hmm.. dia antifan – mu haha…”
“Ck, awas kau, Reno! Aku akan menghajarnya nanti.” gerutu Kesha didalam hatinya.
Kesha tidak berani menatap wajah lelaki bernama Aditya itu. Ia benar – benar malu. Ia terus berdoa agar lelaki ini tidak ingat padanya.
“Sepertinya aku pernah melihatmu,” ujar Aditya pada Kesha yang sedang berusaha menutupi rasa gugupnya.
Aditya mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Namun sepertinya Kesha enggan menjabat uluran tangannya. Tapi dengan terpaksa diulurkannya tangannya untuk bersalaman dengan lelaki itu.
“Eh? Kalian pernah bertemu dimana memangnya?”, tanya Reno penasaran.
“Di Dago. Saat pesta kembang api.” sahut Aditya. “Benar kan?”
Kesha berusaha bersikap biasa walau sebenarnya ia gugup setengah mati. Ia mengumpat dalam hati. Bagaimana lelaki ini bisa mengingat wajahnya diantara begitu banyaknya lautan manusia pada hari itu? Sungguh sial!
“Ah, benarkah! Maaf aku lupa,” Kesha menjawab dengan datar.
“Tidak apa – apa. Baiklah, sebentar lagi aku dan teman – teman harus tampil. Senang bisa mengenal kalian,” Aditya berbicara sembari menyunggingkan senyumnya sebelum akhirnya dia pergi untuk segera bergabung bersama teman – temannya.

***

Lisa benar – benar teman yang menyebalkan menurut Kesha. Dia jelas – jelas sudah tahu kalau Kesha tidak begitu suka menonton band indie, tapi ia selalu memaksanya. Apalagi kalau yang perform itu Lindo band. Sudah berkali – kali pula Kesha menolak ajakan Lisa. Namun berkali – kali pula ia berhasil membujuknya. Ia pintar sekali membujuk Kesha, hanya dengan mengiming – ngimingi sebuah merchandise TVXQ ataupun JYJ. Apabila dengan merchandise itupun Kesha menolak, Lisa mengancam akan memutuskan persahabatan mereka.
Sebenarnya Kesha selalu berusaha keras untuk menolak ajakan Lisa karena ia tidak ingin bertemu dengan Aditya. Ia benar – benar malu bertemu dengannya. Lelaki itu sungguh menyebalkan. Setiap kali ia bertemu dengannya, Aditya seringkali menanyakan apakan Kesha sudah mengingatnya atau belum. Kalau sudah begitu, ia pasti akan melarikan diri dengan alasan ke kamar kecil demi menghindarinya. Sementara itu Aditya malah tertawa melihat tingkah Kesha.
Ponsel Kesha berdering. Dilihatnya layar ponselnya yang ternyata panggilan dari Reno. Tanpa menunggu lama, Kesha pun segera mengangkatnya.
“Halo,” Kesha menyahut begitu mengangkat panggilan telepon Reno.
“Halo. Sha, aku ingin bertemu denganmu. Apa kau ada waktu?” suara Reno dari seberang telepon.
“Ya baiklah. Dimana?”
Kesha pun menemui Reno ditempat mereka janji bertemu. Entah apa yang ingin dibicarakan Reno dengan Kesha. Mereka bertemu dan mengobrol cukup lama. Setelah lama mengobrol, Kesha pulang diantar Reno.
“Thanks ya, Sha. Nanti malam kita bertemu disana.”
“Iya, see ya.”
Malamnya, Kesha, yang sudah berjanji menemani Lisa menonton Lindo band, sudah berdandan rapi. Lisa yang datang menjemput Kesha sampai terperangah. Dia heran melihat Kesha yang sudah siap untuk berangkat. Biasanya Kesha seringkali ogah – ogahan dan belum berpakaian rapi saat dia datang untuk menjemputnya. Tapi kali ini benar – benar berbeda.
“Ini aneh sekali,” Lisa mengerutkan alisnya. “Apa kau sedang kemasukan setan? Tumben kau sudah rapi.”
“Memangnya tidak boleh? Aku hanya tidak ingin membuatmu menunggu terlalu lama. Ayo pergi!” Kesha tersenyum simpul dan segera keluar dar kamarnya diikuti Lisa yang berjalan dibelakangnya.
Kesha dan Lisa segera berangkat menuju kafe. Tidak perlu memakan waktu yang cukup lama untuk segera sampai ke tempat itu. Hanya 15 menit perjalanan, akhirnya mereka pun sampai. Ternyata acaranya belum mulai. Kedua gadis itu segera duduk di kursi kosong paling depan. Lisa memang selalu mencari tempat yang strategis agar bisa menikmati penampilan band favoritnya dengan leluasa.
“Hai,” sapa Aditya pada Kesha dan Lisa, yang kemudian duduk disebelah Kesha.
“Hai juga,” balas Lisa menyapa Adit, sedangkan Kesha hanya tersenyum kaku.
“Sudah ingat belum? Jangan kabur lagi ya, ” bisik Adit pelan ditelinga Kesha.
Jantung Kesha menjadi tak beraturan. Berdegup kencang. Ia juga merasa gugup dan gelisah. Sampai – sampai ia lupa untuk bernapas. Ia bahkan tidak berani melihat ke arah Adit yang duduk disebelahnya. Lisa menatap Kesha penuh curiga dan kemudian tersenyum menggodainya.
“Baiklah, aku akan kembali bergabung bersama kalian setelah selesai perform.” sahut Adit yang segera beranjak pergi.
Beberapa menit kemudian acara pun segera dimulai. Reno yang sebelumnya sedang dibelakang untuk melakukan sesuatu, kini ikut bergabung bersama Kesha dan Lisa. Dia duduk disebelah Lisa. Hari ini dia libur bekerja dan datang sebagai pengunjung.
“Lagu ini khusus dipersembahkan untuk seorang gadis cantik yang memakai kemeja biru kotak – kotak, yang bernama Lisa. Dari pengagum rahasianya. Here you are, Aku Terjatuh.” seru Dimas, vokalis Lindo band.
Lisa yang mendengar ucapan sang vokalis langsung terkesiap kaget. Ia terheran – heran mengetahui lagu favoritnya dinyanyikan karena special request seseorang. Setelah lagu itu selesai dinyanyikan, barulah Lisa mengetahui kalau itu adalah request Reno untuk menyatakan cinta padanya. Sebelumnya Kesha mengambilkan Sebuah cake coklat dari dapur kafe dan membawanya ke hadapan Lisa. Akhirnya Lisa mengerti kalau Kesha bekerja sama dengan Reno. Lalu Reno mengatakan kebenarannya bahwa gadis yang disukainya adalah Lisa, bukan Kesha.
“Jadi kau bersekongkol dengan Reno, Sha?” Kesha hanya tertawa mendengar pertanyaan Lisa.
Selama ini Lisa salah paham menilai perasaan Reno. Sebenarnya Kesha sudah mengetahui hal itu sejak lama, namun ia tetap bungkam. Reno pulalah yang meminta agar Kesha merahasiakan hal itu dari Lisa. Reno ingin Lisa tetap mengira kalau dirinya menyukai Kesha. Setelah mendengar pernyataan Reno, Lisa pun menerima cintanya karena sebenarnya Lisa sudah menyukai Reno sejak lama.
“Baiklah, ini lagu berikutnya. Lagu ini adalah lagu ciptaan Aditya, basis kami. Walaupun lagu ini belum rampung, tapi kami ingin mempersembahkan lagu ini kepada kalian semua. Lagu ini adalah kisah nyata Adit,” Dimas, sang vokalis kembali berbicara sembari tertawa kecil. “Judulnya Firework in your eyes.”
Dimas mulai menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Suaranya yang sedikit berat membuat lagu tersebut terdengar enak ditelinga. Mungkin juga karena musiknya yang terdengar slow rock. Kesha yang mendengarnya ikut menikmati. Namun ia merasa ada yang aneh dari lirik lagu itu.

Kulihat sinar matamu yang indah saat menatap langit
Tak kau sadari, kau genggam erat tangan ini
Kau terus tersenyum gembira seperti gadis kecil
Tanpa kusadari kau menarikku kedalam matamu
Mata yang memancarkan keindahan
Firework in your eyes
I think i’ve crushed on you

Kesha melihat ke arah Aditya yang tampak serius memainkan bass – nya. Mata mereka bertemu dan Aditya tersenyum penuh arti. Buru – buru Kesha memalingkan wajahnya dari Aditya. Ia merasa malu melihat lelaki itu.
Setelah bandnya selesai tampil, Aditya segera menghampiri Kesha, Lisa dan Reno untuk bergabung bersama. Sementara teman – temannya yang lain membereskan peralatan mereka sebelum akhirnya pergi dari tempat ini. Adit segera duduk disamping Kesha
“Bang, lagunya bagus!” celetuk Reno. “Sepertinya aku tahu siapa gadis itu haha..!”
“Sstt.. Nanti dia kabur lagi karena malu haha..” ujar Aditya tertawa.
Wajah Kesha sepertinya sudah memanas menahan malu. Namun, ia berusaha tetap tenang dan bersikap sewajarnya. Akan tetapi Aditya malah tersenyum senang. Kemudian Lisa ikut menimpali dan menggoda Kesha, itu semakin membuat Kesha gerah.
“Lis, aku pulang dulu!” Kesha segera bangkit dari tempat duduknya. “Masih banyak tugas kuliah yang harus kukerjakan malam ini.”
“Aku antar ya?” Aditya menawarkan diri.
“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri,” Kesha segera membalikkan badannya, namun Aditya segera mencekal pergelangan tangan Kesha.
“Aku akan mengantarmu,” sahut Aditya yang langsung menggenggam erat tangan Kesha dan menariknya keluar.
Karena banyak orang, Kesha tidak berani melepaskan genggaman tangan Aditya. Ia tidak ingin membuat malu Aditya dan juga dirinya sendiri. Barulah setelah mereka sampai diluar kafe, Kesha melepaskan genggaman tangan Aditya.
“Lepas!” seru Kesha. “Aku bisa pulang sendiri.”
Aditya menatap mata Kesha. Lalu tersenyum lebar padanya. Kesha yang melihatnya menjadi semakin kesal. Kesha merasa sedang dijadikan bahan lelucon olehnya.
“Jangan tertawa! Apa kau sedang menyindirku? Berhentilah membuatku malu. Iya, aku ingat! Jadi jangan berbuat begini terus padaku, kau mengerti?”
“Berbuat apa?”
“Jangan berpura – pura bodoh. Kau benar – benar menyebalkan, kau tahu! Aku tidak menyukaimu.”
“Tapi aku menyukaimu.” timpal Aditya.
Kesha terdiam membisu. Ia tak mengatakan apa – apa. Lidahnya kelu. Bahkan ia tak berani menatap lelaki didepannya itu. Jantungnya kembali berdetak cepat. Rasanya suara detakannya bisa terdengar jelas hingga radius 2 meter.
Malam itu langit sedang cerah. Bintang – bintang bertaburan dan berkelip – kelip dengan indahnya. Sebuah perasaan baru muncul dihati kedua insan muda yang dipertemukan tanpa sengaja oleh Tuhan. Paket ini tidaklah dikirim ke depan pintu rumah, melainkan ke depan pintu hati. Paket cinta yang Tuhan kirimkan untuk Kesha di awal tahun yang baru ini. Dan segalanya baru akan dimulai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: