Dilema

23 Nov

Sudah 4 bulan rupanya, aku membiarkan rumahku yang satu ini terbengkalai begitu saja-sama halnya dengan wattpadku hehe. Salahku yang akhir-akhir ini otakku kembali mentok. Yah walaupun ada beberapa draft yang kubiarkan tanpa ada minat untuk menyelesaikannya. Bukannya aku tak bisa, hanya saja-kau tahu kan rasa malas seringkali menghadangku-aku mudah sekali teralihkan. Dan alasan kali ini adalah ada yang ingin sekali kutulis, tapi nyatanya hingga hari ini aku belum menemukan apa yang ingin kutulis. Otakku blank dan aku tak punya plot sama sekali. Semalam aku sempat membaca karya penulis-aku takkan menyebut nama hehe-yang bekerja di penerbit tersebut. Menurutku gaya tulisannya sedikit lebay, dia menceritakan tokoh-tokohnya seperti orang-orang yang naif, yah walaupun tak bisa kupungkiri orang-orang seperti itu ada di dunia nyata. Selain itu gaya bahasa terlalu gaul, aku tak menyukainya.
Lupakan saja dia, toh aku sudah cukup dibuat gila oleh pikiranku sendiri. Aku sangat kesal karena aku belum juga mendapatkan ide untuk kutuangkan dalam tulisanku. Ini membuatku sangat marah pada diriku sendiri. Apa yang harus kulakukan? Tidak bisakah otakku ini memberiku sebuah plot bagus? Ini membuatku gila! Apa aku harus menyerah? Tidak, aku tak bisa melakukan itu. Aku ingin mencobanya kali ini. Aku sudah memikirkan banyak hal yang membuatku kembali harus memungut keinginan itu setelah aku membuangnya di tong sampah beberapa minggu yang lalu.
Disaat aku sedang dibuat gila oleh diriku sendiri, seorang teman terus mencecarku dengan panggilannya. Aku mencoba mengatakan untuk tidak menghubungiku yang jarang online, tapi omonganku diindahkannya. Aku bukan termasuk orang yang suka menjelaskan apa yang kukatakan untuk kedua kalinya, lantas saja hal itu membuatku semakin kesal. Aku tak peduli jika dikatakan sombong atau apapun itu. Aku hanya terlalu berterus terang, aku akan mengatakan tidak suka jika memang aku tidak suka. Lantas itu menjadi kesalahanku? Baiklah, katakan saja itu salahku. Toh aku sudah cukup pusing dengan diriku. Aku tak mau menambah beban pada otakku agar ia berpikir keras diluar jalur yang tidak seharusnya ia pikirkan. Jadi tolong biarkan otakku ini bekerja.

Iklan

Unspoken

23 Jul

Malam ini sepertinya suasana hatinya sedang tak begitu baik. Wajahnya dengan sangat jelas memperlihatkan kebosanan. Lihat saja yang dilakukannya. Ia hanya tidur – tiduran di atas ranjang berukuran single-nya.
Sesekali ia berguling ke sisi kanan maupun kirinya, lalu merapatkan selimut tipisnya agar tetap membungkus tubuhnya. Sementara kedua tangannya bermain – main dengan ponselnya, berselancar di dunia maya.
Ia menatap ke arahku. Aku sendiri tak mengerti apa yang ada di pikirannya kini. Suasana hatinya sedang buruk dan yang bisa kulakukan untuknya hanyalah mendendangkan beberapa lagu untuknya.
Sekalipun aku tahu apa yang kulakukan itu mungkin saja tak sepenuhnya bisa membuatnya lebih baik, tapi aku tetap melakukannya. Kumainkan beberapa lagu lembut yang sepertinya sesuai dengan mood-nya saat ini.
Walau aku tak sepenuhnya mengerti arti dari lagu – lagu berbahasa asing yang kumainkan untuknya itu, tapi setidaknya aku melakukannya sesuai keinginannya. Dan ia menyukainya. Aku bersyukur akan hal itu.
Ponselnya ia letakkan begitu saja disampingnya. Ia memilih menatapku. Menatapku dengan tatapan kosong sementara pikirannya terbang entah kemana. Aku tak bisa menebak isi pikirannya, tapi kemudian ia bergumam pelan, “Aku bosan.”
Aku mengerjap, terus memperhatikannya yang kini tengah menatap langit – langit kamarnya yang bercatkan biru muda. Ia menghelakan napasnya berulangkali. Bahkan ia juga menghembuskannya dengan kasar melalui mulutnya.
Aku menunggunya. Menunggunya mengeluarkan suaranya, berbicara padaku sekali lagi. Mungkin ia bisa menceritakan kepenatan di hatinya itu padaku seperti yang biasa dilakukannya bila ia benar – benar tak kuasa menahannya lebih lama di dalam hatinya.
Sudah beberapa lagu yang telah kumainkan untuk mengusir penatnya dan itu tak membantu sama sekali. Biasanya ia tak seperti ini. Jika sudah kumainkan lagu – lagu kesukaannya, ia akan segera membaik. Entah apa yang terjadi padanya sekarang, ia sepertinya benar – benar tak tertolong.
“Bete!” keluhnya sekali lagi, sebelum akhirnya menyibakkan selimutnya dan bangkit dari tempat tidurnya, meninggalkanku seorang diri di kamarnya.
Aku hanya bisa menatap punggungnya yang menghilang ke balik pintu. Walau begitu aku tetap mendendangkan lagu – lagu hingga akhirnya lima menit kemudian ia kembali, menghampiriku.
“Aku lupa mematikan winamp-nya.” katanya pelan sebelum akhirnya menekan tombol close pada aplikasi pemutar lagunya dan mematikan laptopnya.

Spell for Love

18 Jul

“Minggu depan kau pergi ke acara reuni tidak?” tanya Lee Donghae untuk ke sekian kalinya mengajukan pertanyaan yang sama, melalui seberang telepon.
“–hei, Monkey! Apa kau mendengarkanku!?” teriaknya lagi kemudian, sudah tak sabar.
“Damn you, Fishy! Kau bisa membuatku tuli, kau tahu!”
Lee Hyuk Jae mengumpat seraya berteriak dengan sama tidak sabarnya pada sahabatnya itu. Suaranya membuatnya tersentak kaget hingga ia harus menjauhkan ponselnya beberapa senti dari telinganya.
Bukannya ia tak mendengarkan semua ucapan Lee Donghae tadi, hanya saja saat ini pikirannya benar – benar tengah terfokuskan pada berkas – berkas laporan yang berserakan di atas mejanya yang harus segera diselesaikannya. Apa Lee Donghae tak sadar diri kalau panggilan teleponnya itu mengganggu pekerjaannya?
Ia dengar Lee Donghae berulang kali membicarakan perihal reuni akbar sekolah dasarnya. Tapi ia belum tahu apakah minggu depan ia bisa memiliki waktu senggang, mengingat ia baru setahun dinobatkan sebagai manajer perencanaan oleh Ayahnya yang terbilang ketat dalam berbisnis sekalipun terhadap putranya sendiri.
“Jadi kau akan datang atau tidak?” kali ini suara Lee Donghae kembali melembut, seolah – seolah ia tengah berbicara dengan kekasihnya. “Apa kau tahu Kim Yoo Rin juga akan datang? Kau masih ingat dia, bukan? Dia benar – benar berbeda sekarang. Dan yang terpenting adalah… dia belum menikah!”
Mendengar Lee Donghae menyebut nama Kim Yoo Rin, ingatan masa kecil Lee Hyuk Jae tiba – tiba berkelebatan dalam otaknya. Satu persatu kenangan masa kecilnya berputar bagaikan menonton sebuah film. Banyak kenangan yang tak mengenakan antara dirinya dan gadis teman sekelasnya itu.
“Hei, cepol berjalan!” ledek Lee Hyuk Jae saat mendapati Kim Yoo Rin menggulung rambutnya menjadi 2 bagian berbentuk cepolan tinggi di kepalanya begitu gadis itu baru saja datang, melewati bangkunya dan duduk dikursinya dimana teman sebangkunya sudah lebih dulu datang. “Putri duyung bercepol? Hahaha… mana ada putri duyung dicepol?”
Lee Hyuk Jae tahu benar teman sekelasnya itu begitu menyukai dongeng putri duyung yang kerapkali diceritakannya pada teman sebangkunya, Gong Hee Jin, yang membuatnya bosan tiap kali mendengar mereka berdua bercerita yang tak ada habis – habisnya. Oleh sebab itu untuk menghentikannya berdongeng, Lee Hyuk Jae sering menjadikannya bahan ejekan dengan memberinya gelar putri duyung, entah itu putri duyung yang tersesat, putri duyung yang tertukar, putri duyung ingusan dan sekarang ia menyebutnya putri duyung bercepol.
Sayangnya, sekalipun ia sudah melontarkan berbagai macam ejekan untuk gadis itu, nyatanya itu tak menghentikannya bergosip. Bahkan tak jarang Kim Yoo Rin dan Gong Hee Jin hanya terdiam mengabaikan kata – katanya dan semakin menggebu jika membicarakan kisah puteri – puteri dari negeri Disney tersebut.
“Aku tidak terlalu suka akhir kisah dari putri duyung. Dia menjadi buih di lautan karena pangeran tak mencintainya,” cerita Kim Yoo Rin pada Gong Hee Jin seraya memamerkan ekspresi sedihnya yang segera diamini oleh teman sebangkunya itu tanpa menghiraukan ejekan Lee Hyuk Jae yang duduk di belakangnya.
“Putri Duyung bercepol, kau tak perlu mengkhawatirkan nasibmu sendiri. Kau takkan menjadi buih, tapi cepolan raksasa. Ya, kan, Donghae hahaha…”
Lee Donghae yang duduk di sebelah Lee Hyuk Jae hanya berusaha menahan tawanya, berulangkali menyikutkan sikunya padanya, mengingatkannya agar tak terus – menerus mengganggu Kim Yoo Rin. Sahabatnya itu cemas jika saja Kim Yoo Rin akan melemparinya lagi dengan buku tulisnya yang mungkin bisa lebih parah dari buku, mungkin tasnya yang berat, yang tak bisa dibayangkannya.
Lee Hyuk Jae mulai merasakan perubahan ekspresi wajah Kim Yoo Rin yang menoleh ke arahnya begitu ia melontarkan ejekannya. Sepertinya gadis itu siap untuk balas memaki – makinya dan ia hanya memasang senyuman termanisnya, berpura – pura tak mengerti.
Kim Yoo Rin melotot ke arahnya, membuka mulutnya seraya berkata, “Kau, Lee Hyuk Jae, manusia jelek, kukutuk kau akan menjadi budakku suatu saat nanti.”
“Hei, Hyukkie, berjanjilah kau akan datang bersamaku ke acara reuni minggu depan.”
kata – kata Lee Donghae membuyarkan lamunan Lee Hyuk Jae seketika. Segala ingatan tentang masa kanak – kanaknya tak lagi bercokol dalam otaknya. Bahkan beberapa kali pertanyaan Lee Donghae hanya ditimpalinya dengan sebuah gumaman. Ia tak terlalu mendengarkan kata – katanya, jadi cara tercepat menjawabnya hanyalah bergumam yang berarti ‘Ya’.
“Bagus! Kalau begitu aku akan menjemputmu di Apartmentmu minggu depan. Bye.”
Klik. Sambungan telepon pun segera terputus. Lee Hyuk Jae baru saja menyadari ucapan Lee Donghae tadi begitu sahabatnya itu menutup teleponnya sepihak, beranggapan bahwa ia setuju untuk datang minggu depan.
Astaga, Fishy idiot itu salah paham! Ia belum memutuskannya! Bagaimana ini!?
Lee Hyuk Jae masih menggenggam ponselnya erat. Bahkan ponsel itu dipelototinya dengan jengkel seolah emosinya itu mungkin bisa terhubung langsung pada Lee Donghae melalui telepati agar lelaki itu kembali menghubunginya. Tapi sayangnya itu tak berhasil dan ia hanya bisa menghela napas berat sebelum akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar.

★★★

Pekerjaan kantor Lee Hyuk Jae masih menumpuk saat Lee Donghae berulang kali menghubunginya, mengingatkannya untuk pulang cepat sebelum pukul 4 sore. Hal itu membuat Lee Hyuk Jae jengah hingga mau tak mau ia terpaksa menghentikan pekerjaannya saat jarum jam baru saja menunjuk ke angka 2.
Sebenarnya masih dua jam lagi sebelum Lee Donghae datang ke rumahnya. Tapi daripada ia terus menerus kesal mendengar ponselnya tak henti – hentinya berbunyi saat Lee Donghae terus menghubunginya karena ia tak segera mengangkatnya, ia lebih baik pulang dan bersiap – siap sekarang juga.
Tak lupa Lee Hyuk Jae meninggalkan pesan pada sekretarisnya, Lee Ji Eun untuk mengabarkannya bila Ayahnya mencarinya. Ia tahu pasti Ayahnya itu seringkali mengunjungi kantornya setiap sabtu untuk mengevaluasi kembali pekerjaannya.
Terdengar kekanak – kanakan memang. Tapi seperti itulah Ayahnya. Alasannya adalah agar Ayahnya itu tak ragu melepas jabatannya untuknya kelak di tahun depan. Oleh sebab itulah ia dipaksa kembali ke korea dan melepaskan pekerjaannya sebagai penari sekaligus koreografer profesional di Jepang.
Lee Hyuk Jae baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh tubuh masih setengah basah dan handuk yang melilit pinggangnya saat tiba – tiba saja terdengar bunyi klik di pintunya yang menandakan seseorang telah memasukkan kode rumahnya untuk membuka pintunya. Hanya keluarga, asisten rumah tangga dan Lee Donghae-lah yang mengetahui kode rumahnya.
Ia sudah tahu pasti jika yang datang adalah Lee Donghae. Dan benar saja, sahabatnya itu langsung menyapanya begitu melihatnya berdiri di ruang TV seraya menyuruhnya untuk cepat – cepat berpakaian agar mereka bisa segera pergi.
Tak perlu waktu lama bagi Lee Hyuk Jae untuk berdandan. Walau sebenarnya mereka masih punya waktu 1 jam lagi sebelum acaranya dimulai pada pukul 5 sore, tapi Lee Donghae menyarankan agar mereka lebih baik datang satu jam lebih awal.
“Memangnya kenapa kita harus datang sejam lebih awal?” tanya Lee Hyuk Jae penasaran.
“Itu karena aku ditunjuk sebagai MC.”
Lee Hyuk Jae hanya bisa mengernyitkan dahinya tak percaya. Sebelumnya Lee Donghae tak pernah mengatakan hal itu padanya. Tapi sudahlah, itu juga tak terlalu penting baginya untuk mengetahuinya. Setidaknya dalam rencananya semula, ia tak ingin berlama – lama di acara tersebut dan bisa mencari alasan untuk pergi, apalagi harus menunggui Lee Donghae.
“Kau tak bawa mobil?” tanya Lee Hyuk Jae saat menyadari Lee Donghae hanya berjalan mengikutinya di belakangnya menuju mobilnya yang terparkir.
“Tidak.” ujar Lee Donghae yang menggeleng cepat. “Jadi kau harus menungguiku hingga acara selesai, oke?”
Sialan! Lee Hyuk Jae hanya bisa mengumpat di dalam hatinya. Entah sepertinya Lee Donghae bisa membaca pikirannya atau bagaimana. Sahabatnya itu biasanya tak pernah membuang waktunya untuk tebar pesona dengan memamerkan mobil mewahnya bila datang ke sebuah acara bersamanya, dimana ia selalu dipaksanya untuk ikut mobilnya dan berakhir pulang dengan naik taksi bila manusia idiot itu berhasil mendapatkan teman kencan pada saat pulangnya. Padahal kemarin di telepon mereka sepakat untuk membawa mobil masing – masing, tapi ternyata lagi – lagi Lee Donghae menggunakan akal bulusnya.
Lee Hyuk Jae sesekali menggerutu kesal saat ia tengah mengemudikan mobil sedan berwarna hitamnya ke daerah Itaewon, lebih tepatnya ke sekolah dasar mereka dulu, bersama Lee Donghae yang duduk santai di kursi penumpang sembari sesekali bersiul riang. Sementara dalam otaknya, Lee Hyuk Jae ingin sekali menendang makhluk itu ke jalanan saat itu juga karena berhasil menipunya untuk kesekian kalinya.
Beruntung tak perlu waktu lama bagi mereka untuk bisa sampai di Itaewon yang hanya memakan waktu setengah jam perjalanan. Jadi Lee Hyuk Jae tak perlu berlama – lama mendengarkan celotehannya mengenai gadis – gadis yang tengah dikencaninya.
“Kita sudah sampai!” seru Lee Donghae yang segera bergegas turun dari mobil Lee Hyuk Jae. “Kau parkirkan saja dulu mobilmu. Aku akan menunggumu di dalam.”
Astaga, dia sudah seperti bosku saja! Awas kau Lee Donghae! Aku akan membuat perhitungan nanti!
Lee Hyuk Jae segera mencari tempat parkir yang kosong. Saat menemukannya, ia pun tak perlu membuang – buang waktu lagi. Namun saat ia hendak berbelok, dimana ia akan memarkirkan mobilnya di sebelah kiri, sebuah volvo mungil berwarna merah juga hendak menyerobot masuk ke parkiran kosong yang telah diincarnya.
Kaca jendela mobil tersebut diturunkan seluruhnya dan si pengemudi yang ternyata seorang wanita melongokkan kepalanya seraya berteriak, “Hei, aku dulu yang akan masuk!”
Lee Hyuk Jae tak ingin mengalah, lalu buru – buru menurunkan kaca jendela mobilnya juga dan melongokkan kepalanya ke luar jendela sembari berkata, “Maaf, tapi aku dulu yang menemukannya!”
Akhirnya karena jarak mobil Lee Hyuk Jae yang lebih dekat dari lahan kosong tempat parkir tersebut, mau tak mau si wanita pemilik volvo merah itu terpaksa mengalah dan memundurkan mobilnya. Lagipula seorang sekuriti tiba – tiba muncul di areal parkir itu, yang tentu saja tak akan tinggal diam dan mungkin saja akan menggelandang mereka berdua ke pos keamanan jika tak ada salah satu dari mereka yang mengalah.
Tentunya Lee Hyuk Jae bisa segera bernapas lega saat wanita itu mengalah dan pergi mencari tempat parkir lainnya. Ia pun segera berjalan memasuki gedung sekolahnya, mencari Lee Donghae di suatu tempat.
“Hyukkie, aku disini!” panggil Lee Donghae saat menyadari kemunculan Lee Hyuk Jae yang tengah celingukan seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
Lee Donghae sedang berbicara dengan seorang gadis berambut panjang bercatkan coklat terang. Gadis yang cantik, namun sedikit bergaya tomboy dengan dress mini berwarna merah dipadukan boot hitam selutut. Gadis itu lalu meneriakkan sebuah nama seraya melambaikan tangannya ke arah belakang punggung Lee Hyuk Jae.
“Yoo Rin!”
Tunggu dulu, siapa nama yang dipanggilnya itu? Yoo Rin? Aku harap itu bukan Kim Yoo Rin, teman sekelasnya yang sering dipanggilnya putri duyung. Tapi bukankah ada banyak Yoo Rin di angkatannya dulu?
Lee Hyuk Jae segera memutar kepalanya dengan gerakan melambat seperti dalam film Matrix. Ia hanya sedikit cemas atau lebih tepatnya dikatakan gugup. Sudah sekian lama ia tak pernah bertemu dengan teman – teman sekolah dasarnya, kecuali Lee Donghae yang selalu berkeliaran di sekitarnya, yang sudah 17 tahun lamanya, terutama bertemu Kim Yoo Rin.
Dan Lee Hyuk Jae pun dibuat terkejut oleh seorang gadis cantik berambut hitam panjang yang sedikit bergombang, berpenampilan feminin dengan dress terusan selutut tanpa lengan berwarna jingga yang dipadu padankan high heels berwarna senada dan lipstik nude yang memoles bibir tipisnya, tengah berjalan mendekat. Ia mengenali wajah gadis itu sebagai gadis pemilik volvo merah yang ingin menyerobot tempat parkirnya.
Gadis itu berjalan melewati Lee Hyuk Jae yang menatapnya intens. Aroma parfumnya yang lembut dan manis dengan segera menggelitik hidungnya, membuatnya ingin menghujamkan kepalanya di bahunya untuk memeluknya. Dengan cepat otaknya buru – buru mengusir pikiran bodoh yang baru saja terlintas di kepalanya tersebut dan segera membuang mukanya ke arah lain, seakan – akan ia baru saja terbebas dari mantra sihir akan pesona gadis itu.
“Lee Hyuk Jae, kenapa kau berdiri saja disitu?” seru Lee Donghae yang membuatnya segera menoleh ke arahnya.
“Lee Hyuk Jae?” celetuk gadis cantik berambut hitam panjang tersebut.
Lee Hyuk Jae hanya memasang senyum simpul di wajahnya, berusaha memamerkan sikap ramahnya seraya membungkukkan badannya sekilas. Sementara Lee Donghae segera melingkarkan tangan kirinya di bahu Lee Hyuk Jae seraya mengiyakan ucapan gadis itu.
“Oh, musuh kita datang juga rupanya, Yoo Rin.” ucap gadis berambut coklat. “Kau masih ingat padaku, Lee Hyuk Jae? Aku Gong Hee Jin dan ini Kim Yoo Rin.”
“Oh astaga, kalian putri – putri dari negeri dongeng rupanya! Putri Duyung bercepol dan Putri Es Balok.” ledek Lee Hyuk Jae yang berpura – pura terkejut walau sebenarnya ia sudah bisa menebaknya sejak awal jika itu adalah mereka.
Walaupun wajah Kim Yoo Rin dan Gong Hee Jin banyak berubah, tapi ada sisi dari wajah kanak – kanak mereka yang masih tertinggal, terutama Kim Yoo Rin yang memiliki mata bulat. Bukan hanya itu, lesung pipi sebelah kanannya saat tersenyum membalas sapaan Gong Hee Jin dan Lee Donghae tadi yang membuatnya segera mengenalinya.
“Beraninya kau masih memanggil kami seperti itu!”
“Hee Jin,” sergah Kim Yoo Rin seraya menarik lengan Gong Hee Jin dan menyunggingkan senyum. “Dia hanya bercanda.”
“Aku tahu. Untung saja kau sekarang tampan Lee Hyuk Jae, sehingga kami tak bisa memukulimu habis – habisan.”
“Sudah, kalian jangan mempermasalahkan saja masa lalu. Hee Jin, sudah waktunya kita check sound. Sebentar lagi acara akan dimulai.”
Lee Donghae dan Gong Hee Jin segera meninggalkan Lee Hyuk Jae bersama Kim Yoo Rin. Ia sepertinya berpartner dengan Gong Hee Jin sebagai pembawa acara untuk reuni akbar yang akan berlangsung cukup lama itu.
Lee Hyuk Jae mulai mengajak bicara Kim Yoo Rin. Ia memulai pembicaraan mereka dengan meminta maaf mengenai apa yang telah terjadi di antara mereka dulu dan Kim Yoo Rin hanya tersenyum sembari berkata jika dirinya tak pernah mempermasalahkannya lagi sekarang.
Gadis itu masih tetap sama, tak banyak berubah, selalu ramah, bersikap baik dan riang. Bahkan saat beberapa teman datang menghampiri dan menyapa mereka berdua, senyuman di bibirnya tak pernah lepas. Hingga tanpa sadar Lee Hyuk Jae sesekali menatapnya lekat.
Hingga akhir acara, semuanya berlangsung dengan lancar dan cukup meriah. Acaranya diisi dengan beberapa permainan seru yang membuat sebagian dari mereka yang hadir menunjukkan kebolehan masing – masing di atas panggung, termasuk Lee Hyuk Jae yang menari dengan lincahnya.
Sejak duduk di sekolah menengah pertama, ia memang gemar menari yang hingga kini masih ditekuninya sesekali di akhir pekan bersama teman – temannya Bboy-nya dulu, sebelum ia direkrut oleh sebuah manajemen tari yang membawanya ke Jepang 11 tahun lalu. Jadi bila ia didaulat untuk menunjukkan bakatnya, maka menarilah jawabannya.
Lee Donghae yang terlalu malas untuk pulang ke Apartmentnya sendiri, memilih menginap di rumah Lee Hyuk Jae hingga keesokan harinya sembari menghabiskan malam bersama dengan minum – minum berdua dan membicarkan hal – hal seputar acara reuni yang tadi mereka datangi. Lee Hyuk Jae tak pernah keberatan akan hal itu, mengingat sudah lamanya mereka berteman. Lagipula tak jarang ia juga melakukan hal yang sama.

★★★

“Pesan dari siapa itu?” tanya Lee Donghae yang kebetulan siang itu sedang mampir di kantor Lee Hyuk Jae setelah hampir beberapa bulan tak bertemu karena sibuk dengan pekerjaan masing – masing, menyipit curiga saat mendapati Lee Hyuk Jae yang menyingkir darinya saat menerima sebuah pesan singkat di ponselnya seraya tersenyum penuh arti. “Apa itu Yoo Rin? Hubunganmu semakin membaik semenjak acara reuni waktu itu rupanya.”
Memang benar hubungan Lee Hyuk Jae dan Kim Yoo Rin semakin membaik, bahkan bisa dikatakan sudah akrab sekarang. Mereka juga kerapkali bertemu, entah itu hanya untuk sekedar ngopi – ngopi, makan siang, atau jalan – jalan bersama.
Selain itu Lee Hyuk Jae juga sering menemuinya di kantornya, membawakan makan siang atau apapun itu yang bisa dijadikannya alasan untuk sekedar melihatnya. Bahkan sesekali Kim Yoo Rin meminta tolong pada Lee Hyuk Jae untuk melakukan hal kecil seperti membantunya memasang lampu di Apartmentnya dan hal kecil lainnya yang tak bisa ditolaknya.
“Kau sudah diperbudak.”
Sekalipun kata sindiran yang seringkali dilontarkan Lee Donghae itu memang terdengar benar adanya, Lee Hyuk Jae tak mengindahkannya. Baginya, asalkan ia bisa melakukan apapun untuk membantunya, ia sudah senang. Hingga akhirnya Lee Hyuk Jae menyadari satu hal, yaitu ‘kutukan Kim Yoo Rin dulu mulai bekerja padanya’.
Walau begitu Kim Yoo Rin tak benar – benar memperbudaknya. Gadis itu juga sering melakukan hal kecil yang membuat hati Lee Hyuk Jae berbunga – bunga, seperti membuatkan bekal makan siang yang diantarnya ke kantor Lee Hyuk Jae, mengundangnya makan malam di Apartmentnya, hingga mengajaknya menikmati es krim di pinggir jalan saat udara sedang panas – panasnya. Hal itu tentu saja membuat Lee Hyuk Jae menaruh harapan tinggi jika gadis itu juga menyukainya.
“Maaf sudah membuatmu menunggu lama.”
“Tidak apa – apa. Aku juga baru saja datang.” sahut Lee Hyuk Jae berbohong yang sebenarnya sudah menunggu sekitar sepuluh menit.
Lee Hyuk Jae sengaja mengajak Kim Yoo Rin untuk makan malam bersama hari ini. Ia sudah merencanakan sesuatu dimana ia akan menyatakan cintanya pada gadis itu. Harapannya yang teramat besar adalah agar cintanya diterima olehnya.
Begitu Kim Yoo Rin datang, Lee Hyuk Jae segera memesankan menu spesial yang disediakan oleh restoran Perancis ‘Bon Apetit yang merupakan restoran langganannya itu. Beruntung gadis itu tak pemilih soal makanan sehingga Lee Hyuk Jae tak perlu bingung memilihkan menu untuknya.
Dan disaat mereka berdua tengah menikmati makan malam mereka berdua, ponsel Kim Yoo Rin berdering pelan. Gadis itu pun segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas tangannya, melihat nama si penelepon yang tertera di layarnya sekilas sebelum akhirnya menggeser layar sentuh ponselnya untuk menjawabnya.
“Sudah sampai? Iya baiklah.” jawabnya singkat sebelum kemudian segera menutup panggilan teleponnya dan kembali melahap makanannya.
Lee Hyuk Jae sudah membuka mulutnya, hendak menanyakan siapa penelepon barusan. Tapi kemudian ia mengurungkan niatnya dan kembali mengatupkan mulutnya rapat.
“Aku ingin mengenalkan seseorang padamu,” bisik Kim Yoo Rin seraya menatap Lee Hyuk Jae sekilas dan kembali menatap piringnya.
“Siapa?”
Belum sempat Lee Hyuk Jae mendapatkan jawaban yang diinginkannya dari Kim Yoo Rin, gadis itu sudah lebih dulu melambaikan tangannya ke belakang punggungnya. Lee Hyuk Jae pun dengan spontan memutar kepalanya, mengikuti pandangan mata Kim Yoo Rin.
“Perkenalkan ini tunanganku, Choi Siwon. Dia baru saja kembali dari Macau setelah meninggalkanku berbulan – bulan untuk bekerja disana.” celoteh Kim Yoo Rin yang segera bangkit berdiri lalu merangkulkan sebelah tangannya pada pinggang Pria tampan bertubuh tinggi dan atletis yang sudah berdiri di depan meja mereka berdua dimana aura wajah gadis itu berubah menjadi lebih berseri – seri. “Oppa, perkenalkan ini temanku semasa SD, Lee Hyuk Jae.”
Kaki Lee Hyuk Jae tiba – tiba seolah melemas seakan – akan tulang – tulangnya baru saja dikeluarkan secara paksa dari tubuhnya. Hatinya remuk redam seketika. Ia patah hati. Benar – benar patah hati.
Lee Hyuk Jae tak pernah mengetahui sebelumnya jika Kim Yoo Rin telah memiliki tunangan yang sebentar lagi akan dinikahinya. Gadis itu bahkan tak pernah memajang foto mereka berdua di Apartmentnya yang seringkali dikunjunginya.
Selain itu Kim Yoo Rin juga tak pernah sekalipun membahas kehidupan asmaranya, kecuali masalah pekerjaan yang menurutnya membutuhkan pendapatnya. Lagipula gadis itu juga jarang mendapatkan panggilan telepon dari pria lain saat mereka tengah bersamaOleh sebab itu ia tak pernah tahu.
Salahnya yang tak pernah menanyakan hal itu pada Kim Yoo Rin. Salahnya juga yang tak peka terhadap cara gadis itu dalam memperlakukannya maupun dalam mengartikan hubungan mereka beberapa bulan belakangan ini. Dan disaat semuanya sudah terlambat, Lee Hyuk Jae hanya bisa terluka.
Ada sesuatu yang akhirnya Lee Hyuk Jae sadari kini. Sebuah dongeng putri duyung yang begitu disukai Kim Yoo Rin sejak kecil, sepertinya lebih cocok diperankan olehnya. Ia mencintai sang putri cantik yang tak membalas cintanya. Hingga akhirnya ia harus menerima takdirnya untuk menjadi buih di tengah lautan.

Ficlet: Shadow

12 Jul

Tepat pukul 7 malam, ia pulang ke
rumahnya. Tanpa perlu tergesa, ia
melangkahkan kakinya pelan menaiki tiap
anak tangga menuju kamarnya.
Awalnya ia tak berniat untuk pulang ke
rumah setelah apa yang terjadi antara
dirinya dan Ibunya siang tadi. Hanya
saja ia benar – benar tak memiliki tempat
tujuan untuk melarikan diri. Hingga
akhirnya ia memilih menyingkirkan
egonya dan menekan lukanya sekali lagi.
Setidaknya ia merasa sedikit lega karena
tak mendapati seorang pun anggota
keluarganya di rumah begitu ia pulang.
Walau begitu ia masih tetap bisa
merasakan hawa panas tiap kali
menginjakkan kakinya ke rumahnya.
Ia membuka dengan perlahan kenop pintu
kamarnya yang sempat dibiarkannya
terbuka begitu saja saat ia pergi dengan
penuh amarah siang tadi. Kalau saja ia
punya tempat lain untuk bersembunyi
selain kamarnya, tentu ia takkan
kembali ke rumah.
“Kau sudah kembali?” tanya seseorang
dimana suaranya cukup
mengejutkannya.
“Sedang apa kau disitu?” ia balik
bertanya.
Seorang gadis berambut coklat lurus
sebahu berdiri di hadapan sebuah cermin,
tak menjawabnya. Tapi kemudian ia
membalikkan badannya untuk
menatapnya. Sebuah senyuman
menyeringai dalam sekejap terukir di
wajahnya.
“Untuk apa kau kembali?” pertanyaan
sarkastik terlontar dari bibirnya.
“Bukankah kau sudah kuberi kesempatan
untuk melarikan diri?”
ia terdiam, menundukkan wajahnya
dalam, tak tahu bagaimana harus
menjawab pertanyaannya. Memang benar
ia mempunyai kesempatan untuk pergi.
Tapi, ia tak memiliki apapun untuk bisa
bertahan seorang diri di luar sana.
“Jadi kau mengakui kekalahanmu?” lagi
pertanyaan mengejeknya terdengar.
“Tidak. ini baru awalnya. Aku… akan
bertahan. Sekalipun dunia menentangku,
aku akan terus berdiri.”
Gadis itu tersenyum padanya.
Memperlihatkan sekali lagi keberaniannya
yang selama ini disimpannya. Ia pun
membalas senyuman gadis dalam cermin
tersebut. Ya, gadis itu tak lain adalah
dirinya sendiri.

New Year Package

31 Des

Bagaimana sih para single fighter alias jomblo menghabiskan malam tahun baru? Jawabannya tentu berkumpul bersama teman yang juga satu spesies dengannya. Menyedihkan sekali memang terdengarnya, tapi itu jauh lebih baik daripada menghabiskan kesendirian dirumah tanpa kekasih dengan menonton film romantis yang hanya membuat hati tambah merana. Biarpun begitu, kita tidak mesti harus terburu – buru mencari pasangan, bukan? Menikmati hidup jauh lebih menyenangkan daripada sekedar berburu seorang pria untuk dijadikan kekasih. Toh jika waktunya sudah tepat, Tuhan pasti akan segera mengirimkannya langsung pada kita. Bahkan dikirimkan secara kilat dan datang di depan pintu rumah. Memangnya dia paket yang dikirim pak pos! Eh, tapi bisa juga dikatakan seperti itu sih! Bukankah begitu?
Kesha yang sedang melamun sembari mendengarkan mp3 di ipodnya, tiba – tiba terkesiap mendapati ponselnya yang berdering. Ia melepaskan earphone ditelinganya dan segera bangkit dari sofa untuk mengambil ponselnya, yang diletakkan di atas meja, yang tak jauh dari tempatnya duduk. Dilihatnya layar ponselnya, ternyata sahabatnya, Lisa yang menghubunginya.
“Halo. Sha, malam tahun baru kita jalan – jalan, yuk!” seru Lisa to the point sebelum Kesha sempat membuka mulutnya.
“Mau kemana?” tanya Kesha datar.
“Kemana saja,” pungkasnya. “Yang terpenting judulnya jalan – jalan. Siapa tahu saja kita menemukan pria tampan tergeletak dijalan hehe…”
“Kau kira dompet haha…” Kesha ikut tertawa mendengarnya.
“Baiklah, besok jam 8 malam aku akan menjemputmu dirumahmu. Dah.”
Lisa segera menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Kesha terlebih dahulu. Gadis itu memang selalu berbuat seenaknya. Mereka bersahabat karib semenjak SMA. Meskipun sekarang mereka kuliah di Universitas yang berbeda, mereka sering bersama. Bahkan saling mengunjungi Universitas masing – masing walau hanya untuk sekedar makan siang bersama. Mereka memiliki banyak kesamaan. Mulai dari zodiak, golongan darah, grup kpop kesukaan dan juga sama – sama single fighter. Beruntunglah tipe pria kesukaan mereka tidaklah sama. Namun Kesha tidaklah seperti Lisa yang selalu tergesa – gesa dalam bertindak. Ia adalah gadis yang penuh pertimbangan dan ceria, sementara Lisa terbilang ceroboh dan moody. Oleh sebab itu, mereka saling melengkapi satu sama lain.

***

Kesha menatap pantulan dirinya didepan cermin, memastikan kalau pakaian yang dikenakannya sudah oke. Ia juga mengenakan make up yang simpel dan natural di wajahnya. Lalu ia tersenyum sendiri dan bergumam pelan. “Cantik”, pujinya pada diri sendiri. Tak lupa ia membawa tas selempang kecil berwarna biru kesayangannya. Dilihatnya jam dinding yang tergantung di dinding kamarnya, hampir menunjukkan pukul delapan malam. Lisa belum juga menampakkan batang hidungnya. Kesha mulai cemas, khawatir jika Lisa membatalkan janjinya dengan seenaknya lagi. Kalau itu terjadi, Kesha benar – benar akan membuat perhitungan dengannya nanti.
Apa Lisa sudah lupa ancamannya dulu masih berlaku jika dia mengulangi perbuatannya itu? Sebenarnya ancamannya tidaklah berat, Lisa hanya perlu memberikan album koleksi TVXQ yang menjadi favoritnya pada Kesha. Tentu saja itu tidak mungkin, mengingat betapa Lisa sangat menyukainya.
“Oh, maaf aku terlambat.” sapa Lisa yang langsung masuk ke kamar Kesha, “Jalanan macet sekali. Banyak orang – orang menyebalkan yang menghalangi jalanku agar bisa sampai kemari.”
“Siapa maksudmu?” tanya Kesha tak mengerti.
“Siapa lagi kalau bukan pasangan kekasih yang sedang pamer kemesraan, yang berboncengan dengan motor!” kesal Lisa.
Tawa Kesha langsung membahana begitu mendengar ucapan Lisa yang sedang kesal hanya gara – gara cemburu melihat orang – orang yang memadu kasih. Lisa dan Kesha memang dua sahabat yang sedang menjomblo. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama – sama hingga awalnya teman – temannya yang lain mengira kalau mereka memiliki kelainan.
Lisa mengemudikan motornya, sementara Kesha diboncengnya dibelakang. Disusurinya jalanan kota Bandung yang ramai. Banyak sekali kendaraan yang berlalu lalang, baik itu mobil maupun motor. Kesha memperhatikan sekelilingnya. Sebagian dari pengendara motor itu adalah pasangan kekasih. Kemudian Lisa menghentikan motornya disuatu kafe kecil, kafe yang biasa ia dan Kesha datangi.
“Ck, kalau cuma kesini, seharusnya kau bilang dari tadi.” sungut Kesha.
“Haha.. Kalau aku bilang, kau tidak akan mau pergi.” sahut Lisa sembari mengunci motornya. “Tenang saja dia tidak bekerja hari ini. Katanya dia pulang ke Jakarta.”
“Kau tidak bohong?” tanya Kesha.
“Iya, jangan khawatir.” Lisa terkekeh. “Dia kan salah satu fan – mu, seharusnya kau memperlakukannya dengan baik.”
“Aku kan hanya menganggapnya teman.” gumam Kesha pelan. “Memangnya ada acara apa disini?”
“Lindo band perform malam ini.”
“Ah, aku tidak peduli. Kalau Panic at the Disco perform, itu aku peduli,” celoteh Kesha.
Kesha dan Lisa memasuki kafe ‘de Bisteak dengan santainya. Suara hingar bingar langsung menyeruak jelas. Bahkan suaranya memekakan telinga. Kafe ini benar – benar bising dan ramai sekali oleh pengunjung. Karena memang sudah terkenal dikalangan anak – anak muda dengan harganya yang terjangkau untuk kalangan pelajar.
Keduanya lalu duduk dibangku yang sebelumnya sudah mereka pesan terlebih dahulu. Lisa yang reservasi tempatnya. Ia tahu betul jika tidak reservasi sebelumnya, mereka tidak akan kebagian kursi kosong.Karena setiap ada band yang manggung di kafe ini, kursinya selalu penuh akan pengunjung.
“Untunglah acaranya belum mulai,” celetuk Lisa bernapas lega.
“Selesainya sampai jam berapa?”
“Kau ini, belum juga dimulai, sudah menanyakan selesainya.”
“Kau kan tahu kalau aku tidak suka band indie.”
“Sudah, jangan berisik! Mau dimulai nih!”
Benar saja, tak berapa lama acaranya segera dimulai. MC muncul dan berdiri didepan dengan berceloteh panjang lebar membuka acara spesial di malam tahun baru ini. Kesha yang memang tak begitu menyukai acara musik indie, memasang tampang masam di wajahnya. Ia tak habis pikir kenapa Lisa begitu menyukai band – band indie, yang menurut Kesha hanya menyanyikan lagu termehek – mehek. Berbanding terbalik dengannya yang menyukai band – band cadas alias rock.
Selama dua setengah jam Kesha berjuang melawan rasa bosan dan suntuknya mendengar Lindo band, yang merupakan band favorit Lisa, dan juga band – band indie lainnya bernyanyi. Ia bahkan tak menyimak penampilan mereka sama sekali. Berusaha menyibukkan diri dengan ponselnya, bermain game, online dan browsing.
“Kenapa wajahmu seperti itu?” Lisa terkejut mendapati wajah Kesha yang muram dan bete.
“Apa sudah selesai? Rasanya aku mau pingsan kalau lama – lama disini,” keluh Kesha.
“Maaf. Ya baiklah, ayo kita pergi ke tempat selanjutnya!” Lisa berseru dan segera mengajak Kesha untuk beranjak pergi.
Lisa lalu menarik Kesha pergi sebelum sahabatnya itu lebih menderita lagi. Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Ia membawa Kesha ke Dago. Jalanan di Dago begitu ramai dan sesak oleh manusia yang juga ingin menikmati malam tahun baru. Biasanya selalu ada pesta kembang api tepat jam dua belas malam.
Wajah Kesha sudah kembali segar dan ceria. Ia selalu merasa excited setiap kali melihat kembang api. Tak jarang ia selalu bersorak kegirangan jika kembang api mulai bertebaran dilangit. Kalau sudah begitu, Kesha tampak seperti anak – anak saja. Lisa tahu betul kalau Kesha sedang bete, ia pasti akan bermain kembang api di teras rumahnya.
“Apa masih lama? Sudah jam dua belas belum?” tanya Kesha tak sabar.
“Belum, masih jam 11.50.”
“Ah lama sekali.”
Kesha tak mempedulikan sekitarnya yang penuh sesak. Ia hanya ingin menikmati pesta kembang api dimalam tahun baru ini. Sementara Lisa tampak tengah mengomel pelan karena cemburu melihat banyaknya pasangan kekasih yang bergandengan mesra.
“Gandeng tanganku saja,” sahut Kesha sembari tertawa pelan.
“Tidak mau! Aku maunya menggandeng tangan pria tampan.” omel Lisa.
Akhirnya waktu menunjukkan pukul 12 malam. Tak berapa lama suara letusan kembang api yang diiringi gemerlapnya warna – warni cahayanya berhamburan dilangit.
“Kyaaa… Lis, kembang apinya sudah mulai!” teriak Kesha seraya menarik tangan Lisa. “Ayo Lis, kita ke barisan depan!”
Tak cukup satu kembang api yang mewarnai langit. Tapi juga berkali – kali. Membuat Kesha terperangah mengaguminya.
“Waaa… Indahnya! Cantik sekali! Benar – benar cantik!”
Kesha menggenggam tangan Lisa tanpa melepasnya sedikitpun. Ia juga terus mendongakkan kepalanya sambil terus mengagumi kembang api yang berkerlap – kerlip dengan indahnya.
“Cantik sekali ya, Lis!” ujar Kesha tanpa mendapati sedikitpun jawaban dari Lisa.
Karena Lisa tak juga menjawab, Kesha pun menoleh kebelakang. Dan betapa terkejutnya ia setelah mengetahui kalau orang yang dibelakangnya bukanlah Lisa, melainkan seorang lelaki. Kesha mengerjapkan matanya, tertegun dalam diam. Suara kembang api masih menggelegar di udara. Tangannya juga masih menggenggam tangan lelaki itu. Kemudian laki – laki itu tersenyum, Kesha pun langsung terkesiap dan buru – buru melepaskan genggaman tangannya. Wajahnya mungkin tampak aneh karena menahan malu. Sementara laki – laki itu terus memandanginya dengan tersenyum manis padanya. Buru – buru ia beranjak pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Lidahnya terlalu kelu karena malu untuk mengatakan maaf.

***

“Renooo!” teriak Lisa saat melihat Reno sedang beres – beres.
Reno segera menoleh ke arah Lisa begitu mendengar namanya dipanggil. Senyumnya langsung mengembang cerah. Dia lalu melihat ke arah Kesha yang berdiri dibelakang Kesha. Kesha pun tersenyum dan segera menyapa Reno.
“Hei, sudah lama aku tidak melihat kalian!” seru Reno. “Sudah seminggu ya!”
“Iya, apa kau merindukan kami?” canda Lisa.
Kesha dan Lisa duduk ditempat biasa. Lisa memesan tenderloin steak yang menjadi favoritnya. Sementara Kesha hanya minum ice lemon tea, karena perutnya masih kenyang sehabis makan malam tadi. Reno menemani dua gadis itu mengobrol sebentar, sebelum akhirnya ia kembali bekerja.
“No,” seorang lelaki menepuk bahu Reno yang sedang membersihkan meja.
“Abang, kau sudah datang,” ujar Reno saat melihat laki – laki itu.
Kesha melihat ke arah lelaki yang sedang berbicara dengan Reno. Sepertinya ia pernah melihatnya, tapi entah dimana. Kesha sedang berusaha mengingatnya. Tiba – tiba ia teringat.
“Astaga!”, pekik Kesha.
“Ada apa?!” Lisa terkejut.
“Bukan apa – apa,” sahut Kesha berusaha untuk tetap tenang.
Reno yang sedang mengobrol dengan lelaki itu tiba – tiba menoleh ke arah Kesha dan Lisa. Sesekali wajahnya tampak tersenyum. Kesha yang melihat mereka segera menundukkan wajahnya begitu mendapati dirinya bertatap muka dengan lelaki itu. Lalu Reno dan lelaki itu berjalan ke arah meja Kesha dan Lisa. Sial, saat itu juga Kesha menjadi ketar – ketir. Wajah Kesha mulai cemas.
“Hei, aku ingin mengenalkan kalian pada kakak sepupuku.” ucap Reno.
Lisa yang awalnya sedang asik makan, segera menghentikan makannya. Sementara Kesha pura – pura sibuk dengan ponselnya. Ia benar – benar berharap lelaki itu tak mengenalinya.
“Aditya? Kau Aditya, basis Lindo band kan!”, teriak Lisa penuh semangat. “Jadi kau kakak sepupu Reno.”
Kesha segera menoleh ke arah Lisa. Ia sedikit terkejut dan heran. Apa yang Lisa katakan sebenarnya? Benarkah itu kalau dia Basis Lindo band? Dan dia sepupu Reno! Benar – benar sial!
“Hai,” laki – laki itu tersenyum, “Kau mengenaliku?”
“Tentu saja itu, bang. Lisa itu penggemar berat bandmu,” celetuk Reno. “Sedangkan Kesha, hmm.. dia antifan – mu haha…”
“Ck, awas kau, Reno! Aku akan menghajarnya nanti.” gerutu Kesha didalam hatinya.
Kesha tidak berani menatap wajah lelaki bernama Aditya itu. Ia benar – benar malu. Ia terus berdoa agar lelaki ini tidak ingat padanya.
“Sepertinya aku pernah melihatmu,” ujar Aditya pada Kesha yang sedang berusaha menutupi rasa gugupnya.
Aditya mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Namun sepertinya Kesha enggan menjabat uluran tangannya. Tapi dengan terpaksa diulurkannya tangannya untuk bersalaman dengan lelaki itu.
“Eh? Kalian pernah bertemu dimana memangnya?”, tanya Reno penasaran.
“Di Dago. Saat pesta kembang api.” sahut Aditya. “Benar kan?”
Kesha berusaha bersikap biasa walau sebenarnya ia gugup setengah mati. Ia mengumpat dalam hati. Bagaimana lelaki ini bisa mengingat wajahnya diantara begitu banyaknya lautan manusia pada hari itu? Sungguh sial!
“Ah, benarkah! Maaf aku lupa,” Kesha menjawab dengan datar.
“Tidak apa – apa. Baiklah, sebentar lagi aku dan teman – teman harus tampil. Senang bisa mengenal kalian,” Aditya berbicara sembari menyunggingkan senyumnya sebelum akhirnya dia pergi untuk segera bergabung bersama teman – temannya.

***

Lisa benar – benar teman yang menyebalkan menurut Kesha. Dia jelas – jelas sudah tahu kalau Kesha tidak begitu suka menonton band indie, tapi ia selalu memaksanya. Apalagi kalau yang perform itu Lindo band. Sudah berkali – kali pula Kesha menolak ajakan Lisa. Namun berkali – kali pula ia berhasil membujuknya. Ia pintar sekali membujuk Kesha, hanya dengan mengiming – ngimingi sebuah merchandise TVXQ ataupun JYJ. Apabila dengan merchandise itupun Kesha menolak, Lisa mengancam akan memutuskan persahabatan mereka.
Sebenarnya Kesha selalu berusaha keras untuk menolak ajakan Lisa karena ia tidak ingin bertemu dengan Aditya. Ia benar – benar malu bertemu dengannya. Lelaki itu sungguh menyebalkan. Setiap kali ia bertemu dengannya, Aditya seringkali menanyakan apakan Kesha sudah mengingatnya atau belum. Kalau sudah begitu, ia pasti akan melarikan diri dengan alasan ke kamar kecil demi menghindarinya. Sementara itu Aditya malah tertawa melihat tingkah Kesha.
Ponsel Kesha berdering. Dilihatnya layar ponselnya yang ternyata panggilan dari Reno. Tanpa menunggu lama, Kesha pun segera mengangkatnya.
“Halo,” Kesha menyahut begitu mengangkat panggilan telepon Reno.
“Halo. Sha, aku ingin bertemu denganmu. Apa kau ada waktu?” suara Reno dari seberang telepon.
“Ya baiklah. Dimana?”
Kesha pun menemui Reno ditempat mereka janji bertemu. Entah apa yang ingin dibicarakan Reno dengan Kesha. Mereka bertemu dan mengobrol cukup lama. Setelah lama mengobrol, Kesha pulang diantar Reno.
“Thanks ya, Sha. Nanti malam kita bertemu disana.”
“Iya, see ya.”
Malamnya, Kesha, yang sudah berjanji menemani Lisa menonton Lindo band, sudah berdandan rapi. Lisa yang datang menjemput Kesha sampai terperangah. Dia heran melihat Kesha yang sudah siap untuk berangkat. Biasanya Kesha seringkali ogah – ogahan dan belum berpakaian rapi saat dia datang untuk menjemputnya. Tapi kali ini benar – benar berbeda.
“Ini aneh sekali,” Lisa mengerutkan alisnya. “Apa kau sedang kemasukan setan? Tumben kau sudah rapi.”
“Memangnya tidak boleh? Aku hanya tidak ingin membuatmu menunggu terlalu lama. Ayo pergi!” Kesha tersenyum simpul dan segera keluar dar kamarnya diikuti Lisa yang berjalan dibelakangnya.
Kesha dan Lisa segera berangkat menuju kafe. Tidak perlu memakan waktu yang cukup lama untuk segera sampai ke tempat itu. Hanya 15 menit perjalanan, akhirnya mereka pun sampai. Ternyata acaranya belum mulai. Kedua gadis itu segera duduk di kursi kosong paling depan. Lisa memang selalu mencari tempat yang strategis agar bisa menikmati penampilan band favoritnya dengan leluasa.
“Hai,” sapa Aditya pada Kesha dan Lisa, yang kemudian duduk disebelah Kesha.
“Hai juga,” balas Lisa menyapa Adit, sedangkan Kesha hanya tersenyum kaku.
“Sudah ingat belum? Jangan kabur lagi ya, ” bisik Adit pelan ditelinga Kesha.
Jantung Kesha menjadi tak beraturan. Berdegup kencang. Ia juga merasa gugup dan gelisah. Sampai – sampai ia lupa untuk bernapas. Ia bahkan tidak berani melihat ke arah Adit yang duduk disebelahnya. Lisa menatap Kesha penuh curiga dan kemudian tersenyum menggodainya.
“Baiklah, aku akan kembali bergabung bersama kalian setelah selesai perform.” sahut Adit yang segera beranjak pergi.
Beberapa menit kemudian acara pun segera dimulai. Reno yang sebelumnya sedang dibelakang untuk melakukan sesuatu, kini ikut bergabung bersama Kesha dan Lisa. Dia duduk disebelah Lisa. Hari ini dia libur bekerja dan datang sebagai pengunjung.
“Lagu ini khusus dipersembahkan untuk seorang gadis cantik yang memakai kemeja biru kotak – kotak, yang bernama Lisa. Dari pengagum rahasianya. Here you are, Aku Terjatuh.” seru Dimas, vokalis Lindo band.
Lisa yang mendengar ucapan sang vokalis langsung terkesiap kaget. Ia terheran – heran mengetahui lagu favoritnya dinyanyikan karena special request seseorang. Setelah lagu itu selesai dinyanyikan, barulah Lisa mengetahui kalau itu adalah request Reno untuk menyatakan cinta padanya. Sebelumnya Kesha mengambilkan Sebuah cake coklat dari dapur kafe dan membawanya ke hadapan Lisa. Akhirnya Lisa mengerti kalau Kesha bekerja sama dengan Reno. Lalu Reno mengatakan kebenarannya bahwa gadis yang disukainya adalah Lisa, bukan Kesha.
“Jadi kau bersekongkol dengan Reno, Sha?” Kesha hanya tertawa mendengar pertanyaan Lisa.
Selama ini Lisa salah paham menilai perasaan Reno. Sebenarnya Kesha sudah mengetahui hal itu sejak lama, namun ia tetap bungkam. Reno pulalah yang meminta agar Kesha merahasiakan hal itu dari Lisa. Reno ingin Lisa tetap mengira kalau dirinya menyukai Kesha. Setelah mendengar pernyataan Reno, Lisa pun menerima cintanya karena sebenarnya Lisa sudah menyukai Reno sejak lama.
“Baiklah, ini lagu berikutnya. Lagu ini adalah lagu ciptaan Aditya, basis kami. Walaupun lagu ini belum rampung, tapi kami ingin mempersembahkan lagu ini kepada kalian semua. Lagu ini adalah kisah nyata Adit,” Dimas, sang vokalis kembali berbicara sembari tertawa kecil. “Judulnya Firework in your eyes.”
Dimas mulai menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Suaranya yang sedikit berat membuat lagu tersebut terdengar enak ditelinga. Mungkin juga karena musiknya yang terdengar slow rock. Kesha yang mendengarnya ikut menikmati. Namun ia merasa ada yang aneh dari lirik lagu itu.

Kulihat sinar matamu yang indah saat menatap langit
Tak kau sadari, kau genggam erat tangan ini
Kau terus tersenyum gembira seperti gadis kecil
Tanpa kusadari kau menarikku kedalam matamu
Mata yang memancarkan keindahan
Firework in your eyes
I think i’ve crushed on you

Kesha melihat ke arah Aditya yang tampak serius memainkan bass – nya. Mata mereka bertemu dan Aditya tersenyum penuh arti. Buru – buru Kesha memalingkan wajahnya dari Aditya. Ia merasa malu melihat lelaki itu.
Setelah bandnya selesai tampil, Aditya segera menghampiri Kesha, Lisa dan Reno untuk bergabung bersama. Sementara teman – temannya yang lain membereskan peralatan mereka sebelum akhirnya pergi dari tempat ini. Adit segera duduk disamping Kesha
“Bang, lagunya bagus!” celetuk Reno. “Sepertinya aku tahu siapa gadis itu haha..!”
“Sstt.. Nanti dia kabur lagi karena malu haha..” ujar Aditya tertawa.
Wajah Kesha sepertinya sudah memanas menahan malu. Namun, ia berusaha tetap tenang dan bersikap sewajarnya. Akan tetapi Aditya malah tersenyum senang. Kemudian Lisa ikut menimpali dan menggoda Kesha, itu semakin membuat Kesha gerah.
“Lis, aku pulang dulu!” Kesha segera bangkit dari tempat duduknya. “Masih banyak tugas kuliah yang harus kukerjakan malam ini.”
“Aku antar ya?” Aditya menawarkan diri.
“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri,” Kesha segera membalikkan badannya, namun Aditya segera mencekal pergelangan tangan Kesha.
“Aku akan mengantarmu,” sahut Aditya yang langsung menggenggam erat tangan Kesha dan menariknya keluar.
Karena banyak orang, Kesha tidak berani melepaskan genggaman tangan Aditya. Ia tidak ingin membuat malu Aditya dan juga dirinya sendiri. Barulah setelah mereka sampai diluar kafe, Kesha melepaskan genggaman tangan Aditya.
“Lepas!” seru Kesha. “Aku bisa pulang sendiri.”
Aditya menatap mata Kesha. Lalu tersenyum lebar padanya. Kesha yang melihatnya menjadi semakin kesal. Kesha merasa sedang dijadikan bahan lelucon olehnya.
“Jangan tertawa! Apa kau sedang menyindirku? Berhentilah membuatku malu. Iya, aku ingat! Jadi jangan berbuat begini terus padaku, kau mengerti?”
“Berbuat apa?”
“Jangan berpura – pura bodoh. Kau benar – benar menyebalkan, kau tahu! Aku tidak menyukaimu.”
“Tapi aku menyukaimu.” timpal Aditya.
Kesha terdiam membisu. Ia tak mengatakan apa – apa. Lidahnya kelu. Bahkan ia tak berani menatap lelaki didepannya itu. Jantungnya kembali berdetak cepat. Rasanya suara detakannya bisa terdengar jelas hingga radius 2 meter.
Malam itu langit sedang cerah. Bintang – bintang bertaburan dan berkelip – kelip dengan indahnya. Sebuah perasaan baru muncul dihati kedua insan muda yang dipertemukan tanpa sengaja oleh Tuhan. Paket ini tidaklah dikirim ke depan pintu rumah, melainkan ke depan pintu hati. Paket cinta yang Tuhan kirimkan untuk Kesha di awal tahun yang baru ini. Dan segalanya baru akan dimulai.

[ONESHOT] TVXQ – JJ

16 Jun

jj

Kim Tae In sedang berjalan pulang menuju rumahnya setelah seharian bekerja. Jalannya tampak gontai dan langkahnya agak berat. Begitu hampir sampai di depan rumahnya, Tae In pun segera melepas sepatu hak tingginya, yang seharian menyiksanya. Kemudian dia masuk ke dalam rumahnya. “Eomma, aku pulang!”, ucap Tae In pelan. “Oh kamu sudah pulang. Ayo cepat bersihkan dirimu, lalu makan malam dulu”, sahut Ibu Tae In yang langsung keluar dari kamarnya begitu mendapati Tae In pulang kerja. “Aku malas makan, Eomma. Aku mau mandi dan langsung tidur saja”, jawabnya. “Eh, tidak biasanya kamu malas makan”, ujar Ibu Tae In. “Aku sedang tidak mood, Eomma”, Tae In menyahut dan langsung masuk ke kamarnya.
Ditaruhnya tasnya diatas meja belajarnya. Dibukanya Cardigan yang dipakainya dan ditaruh diatas punggung kursi. Lalu saat hendak membuka lemari pakaiannya, Tae In terkejut bukan main mendapati Kim Jaejoong sedang berbaring diatas tempat tidurnya dengan menatap Tae In tanpa berkata apa-apa. “Yah~kamu mengagetkanku saja! Aku pikir hantu!”, teriak Tae In. “Aku capek menunggumu sejak tadi”, sahut Jaejoong. “Tidak bisakah kamu menunggu diluar, kenapa harus dikamarku! Lagipula aku tidak menyuruhmu untuk datang kemari!”, omel Tae In. “Lalu sms yang aku terima kemarin lusa itu apa yang isinya miss you?”, ujar Jaejoong pura-pura tak mengerti. “Yang mana? Aku tidak merasa mengirim sms”, Tae In mengelak dan memasang tampang polos. Jaejoong beranjak dari tidurnya dan berdiri disebelah Tae In, lalu berbisik, “Kamu itu benar-benar tidak pandai berbohong”. “Aku tidak bohong. Sudahlah, aku mau mandi dan tidur. Sebaiknya kamu cepat pulang sebelum Manajermu mencarimu. Lagipula aku khawatir sasaeng fansmu akan mengikutimu sampai kemari, lalu membunuhku”, ujar Tae In yang langsung keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi, Tae In kembali masuk ke kamarnya. Dia mendapati Jaejoong yang sudah tidak ada dikamarnya. Tae In segera keluar kamar untuk mencari Jaejoong. “Eomma, apa dia benar-benar sudah pulang?”, tanya Tae In pada ibunya. Sementara itu ibu Tae In hanya diam saja tak menjawab pertanyaan anaknya itu. “Kamu mencariku ternyata hahaha..”, ujar Jaejoong yang tiba-tiba muncul dihadapannya sambil membawa segelas air minum. “Tidak, aku tidak mencarimu”, elak Tae In. “Noona memang selalu berbohong. Padahal dia selalu berkata kalau dia rindu padamu, Hyung”, celetuk Tae Jun, adik Tae In. “Anak kecil tahu apa! Cepat tidur sana, ini sudah hampir jam 10 malam!”, teriak Tae In.
***
Jaejoong mengajak Tae In keluar untuk menghirup udara malam. Sudah hampir setengah tahun mereka tidak bertemu karena tuntutan pekerjaan Jaejoong yang padat sebagai kpop idol. Tae In tidak pernah ingin bertemu Jaejoong, karena khawatir pertemuan mereka terekspos wartawan. Tae In lebih senang hanya dengan mengetahui kalau Jaejoong baik-baik saja. Namun Jaejoong tidak berpikir seperti itu, dia rela diam-diam kabur saat libur hanya untuk mendatangi Tae In.
“Apa benar-benar tidak ada yang mengenalimu saat kamu keluar?”, tanya Tae In cemas. “Aku rasa tidak ada”, sahut Jaejoong. “Jawabanmu sangat tidak meyakinkan”, komentar Tae In. “Jawabanku sudah benar”, ucap Jaejoong.
Kaki Tae In sebenarnya masih terasa capek setelah bekerja seharian pekerjaan mondar-mandir dikantor. Tapi karena Jaejoong mengajaknya jalan-jalan, dia tak kuasa menolaknya. Apalagi sangat jarang baginya untuk bisa bertemu dengannya. Jaejoong menghentikan langkahnya dan berkata, “Kita makan dulu. Kamu belum makan malam bukan?”. “Aku sedang malas makan. Itu~kita makan ramen saja!”, seru Tae In seraya menunjuk pedagang mie di pinggir jalan. “Malas makan apanya, bilang saja kamu lapar!”, sindir Jaejoong. “Iya aku lapar, Eomma. Ayo kita makan ramen!”, rengek Tae In. “Ya baiklah!”, Jaejoong setuju. “Eomma baik sekali haha..”. “Berhenti memanggilku begitu!”, sungut Jaejoong, sementara itu Tae In hanya tertawa.
Mereka pun menghampiri pedagang ramen yang hanya berjualan dimalam hari itu. Tae In memesan cola untuk dirinya sendiri, sedangkan Jaejoong memesan teh. Awalnya Jaejoong ingin memesan soju, tetapi Tae In melarangnya. “Kamu ingin minum cola-ku?”, tanya Tae In pada Jaejoong. “Kamu meledekku, hah!”, seru Jaejoong. “Hahaha..tenang saja, kamu tidak akan pingsan lagi”, ledek Tae In. “Aish~jauhkan minuman itu dariku!”, teriaknya. Tae In hanya tertawa melihat ekspresi Jaejoong yang ketakutan dengan Cola. Jaejoong memang mempunyai phobia terhadap Cola. Dulu dia pernah mengikuti kompetisi minum Coca Cola, tetapi dia jatuh pingsan setelah meminumnya. Sejak saat itu dia jadi phobia terhadap Cola.
“Hah hah hah.. Kenapa ramenku pedas sekali!?”, teriak Tae In begitu memakan ramen yang ada dihadapannya. Jaejoong yang melihat Tae In kepedasan hanya tertawa saja. “Kamu yang menukarnya ya! Sialan! Aku kan tidak suka pedas! Kamu ingin membunuhku, hah!”, sewot Tae In. “Hahaha.. Ini tidak pedas”, ujar Jaejoong yang langsung menukar kembali ramennya. “Kamu itu maniak pedas, sedangkan aku tidak, dasar bodoh!”, omel Tae In.
Selesai makan ramen, Jaejoong kembali mengantar Tae In pulang kerumahnya. Mereka berjalan kaki menuju rumah Tae In yang letaknya tak terlalu jauh. “Apa kakimu sakit?”, tanya Jaejoong. “Tidak, aku baik-baik saja”, jawab Tae In. “Kamu berbohong lagi”, kata Jaejoong. “Hehehe..sebenarnya sedikit capek saja. Kalau begitu gendong aku sampai rumah”, pinta Tae In. “Aish, tubuhmu itu berat”, sindir Jaejoong. “Tidak, aku ini langsing. Jadi tentu saja ringan!”, protes Tae In. Tae In merengek minta digendong sambil berupaya naik ke atas punggung Jaejoong. Akhirnya Jaejoong pun mengalah, “Ya baiklah, cepat naik!”. Kemudian Jaejoong menggendong Tae In ke punggungnya. Tae In tertawa senang bisa membodohi Jaejoong. “Kamu benar-benar berat, kamu tahu!”, omel Jaejoong. “Jangan berisik, cepat jalan!”, perintah Tae In. Jaejoong hanya mendengus kesal. “Joongie~”, gumam Tae In pelan. “Hmm~ apa?”. “Bernyanyilah untukku”. “Eh? Sekarang?”. “Tidak, tahun depan! Tentu saja sekarang!”. “Kamu harus membayarku dulu! Aku ini idol paling tampan se-korea dengan suara paling indah, kamu tahu!”. “Kamu ini narsis sekali! Aku mengantuk, aku ingin kamu bernyanyi agar aku cepat tidur haha..”. “Enak saja! Kamu menyuruhku bernyanyi hanya untuk meninabobokanmu!”. “Kamu ini benar-benar cerewet seperti ibu-ibu! Ya sudah jangan bernyanyi! Suara Junsu masih lebih bagus darimu!”. Kemudian tiba-tiba Jaejoong bernyanyi. Dia menyanyikan lagu soundtrack drama yang pernah dibintanginya, lagu yang menjadi lagu favorit Tae In, I’ll Protect You. Tae In segera ikut terhanyut begitu mendengar suara Jaejoong yang lembut. Dia terdiam mendengarkan baik-baik saat Jaejoong bernyanyi. “Kyaaa~bagus sekali! Aku suka!”, seru Tae In sambil bertepuk tangan begitu Jaejoong selesai bernyanyi. “Tentu saja! Itulah sebabnya aku menjadi idola nomor satumu”, sahut Jaejoong tertawa. “Biasa, narsismu kambuh!”, ujar Tae In mencela Jaejoong. “Tae In-ah, terima kasih kamu selalu mengerti aku selama ini. Punggungku ini akan selalu kusediakan untukmu, kapanpun kamu mau. Dan aku ingin selalu bernyanyi untukmu, kapanpun kamu memintanya”.

Mission Unbelievable Chapter 3

12 Jun

donghae_and_eunhyuk_bicycle_shirts-7706

Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, Eunhyuk mulai terlihat cemas. Waktu menunjukkan pukul 03.00 pm dan Hana belum juga datang. Eunhyuk cemas kalau gadis itu tidak akan datang. Dia tampak mondar-mandir di depan gedung Lotte World sambil sesekali melihat ke arah jalan, memastikan kedatangan Hana. Tak berapa lama yang ditunggu pun datang dengan tergesa-gesa. Eunhyuk tersenyum saat melihat gadis itu dari kejauhan. Gadis itu hanya melambaikan tangannya saat melihat Eunhyuk yang tersenyum ke arahnya.
“Eunhyuk-ssi, maaf aku datang terlambat. Apa kau sudah menunggu lama?”, ujar Hana begitu tiba didepan Eunhyuk dengan napas tersengal-sengal. “Tidak apa-apa. Aku juga baru saja datang”, sahut Eunhyuk tersenyum dan sedikit berbohong karena sebetulnya dia sudah menunggu Hana sejak 30 menit lalu, bahkan dia sempat bersembunyi saat melihat kedatangan Donghae dan Haneul 5 menit lalu. Eunhyuk lalu menyodorkan jam tangan milik Hana yang ada padanya. “Ah, terima kasih. Aku pikir aku telah menghilangkannya hehe..”, sahut Hana. Eunhyuk tersenyum dan berkata, “Kau terburu-buru sekali kemarin, hingga meninggalkannya begitu saja!”. Hana tersenyum lagi, “Iya, aku benar-benar lupa!”. Eunhyuk hanya tersenyum sambil menatap wajah Hana dan berpikir, “Gadis kecil ini manis sekali”. “Umm~Eunhyuk-ssi, apa kita tidak akan masuk ke dalam dan bersenang-senang?”, tanya Hana berusaha mengusir kecanggungan diantara mereka. “Ah~ya, ayo kita masuk!”, ajak Eunhyuk kemudian. Sebelumnya mereka membeli tiket masuk terlebih dahulu. Setelah tiket ditangan, mereka pun masuk ke dalam. Karena hari ini akhir pekan, suasana di dalam arena pun sangat ramai. Setiap pengunjung datang bersama dengan pasangannya masing-masing. Namun ada juga yang datang sekeluarga dengan anak-anak mereka.
“Umm~pagi tadi Haneul berkata padaku kalau dia juga akan kemari bersama Donghae-ssi, apa kau tahu itu?”, tanya Hana tiba-tiba. “Benarkah? Aku tidak tahu itu, Donghae tidak memberitahuku”, sahut Eunhyuk berbohong, padahal sebenarnya dia sudah tahu akan hal itu pagi tadi. “Oh~begitu”, ucap Hana singkat. “Memangnya kenapa?”, ujar Eunhyuk balik bertanya. “Tidak apa-apa. Hanya saja kalau kau tahu sebelumnya mungkin kita bisa berangkat bersama”, jawab Hana. “Bagaimana kalau kita hubungi mereka agar bisa menemukan mereka dengan mudah? Karena tempat ini begitu luas akan lebih sulit kalau mencarinya. Aku akan menghubungi Donghae”, usul Eunhyuk. Hana segera menyetujuinya, namun dia berkata agar tidak memberitahu keberadaannya pada Haneul. Eunhyuk mengiyakan, lalu dia langsung menghubungi Donghae dan menanyakan keberadaannya. Donghae memberitahu kalau dia dan Haneul sedang makan es krim di Amusement Park Magic Island and Adventure. Eunhyuk dan Hana pun segera menuju ke tempat itu.
“Donghae-ssi, terima kasih sudah mengajakku kemari. Aku senang sekali”, ujar Haneul yang terus memamerkan senyuman manisnya sambil sesekali memakan es krimnya. “Iya, aku juga senang bisa berjalan-jalan denganmu. Umm~Haneul-ssi…”, ucap Donghae menggantungkan kalimatnya. “Ah~ya, Donghae-ssi?”, tanya Haneul tak mengerti. Donghae memberi tanda dengan menunjuk bibirnya sendiri dan berkata, “Itu~di bibirmu. Sini, biar aku ber…”. “Kalau makan es krim yang benar, jangan belepotan seperti itu! Kau jorok sekali!”, kata Hana yang tiba-tiba muncul disamping Haneul sambil menempelkan tisu di bibir Haneul dengan agak menekannya. “Aish, apa-apaan ini! Kau!”, pekik Haneul saat melihat Hana di depannya yang tersenyum lebar. “Hai..Donghae-ssi, senang bertemu kembali denganmu. Dan kau, apa kau merindukanku, gadis tengik!?”, ujar Hana tersenyum. “Hai Hana-ssi. Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi. Duduklah, mari bergabung dengan kami”, sahut Donghae mengiyakan. Haneul tersenyum dan menyapa Eunhyuk, lalu dia menatap sengit pada Hana. Saat Hana hendak duduk disamping Eunhyuk yang juga berhadapan dengan Haneul, tiba-tiba Haneul malah memegang tangan Hana. “Aku ingin ke toilet. Bisa kau temani aku sebentar Hana-ya? Donghae-ssi Eunhyuk-ssi, kami tinggal dulu sebentar ya!”, ucap Haneul yang langsung menarik tangan Hana. “Aku permisi dulu sebentar ya, Eunhyuk-ssi Donghae-ssi!”, ujar Hana seraya tersenyum kepada kedua pria itu.
Haneul membawa Hana ke tempat yang agak jauh dari pandangan kedua pria itu. “Sialan, kau benar-benar mengganggu tadi! Padahal Donghae-ssi hampir saja mengusap bibirku yang penuh es krim! Apa kau tidak bisa melihat situasi terlebih dahulu dan muncul begitu saja!”, omel Haneul. “Hahaha aku rasa aku datang disaat yang tepat!”, sahut Hana. “Bukkk~”, Haneul memukul kepala Hana. “Hei, sakit, bodoh!”, sewot Hana. “Rasakan! Aku sedang berusaha mendapatkannya, tapi kau mengganggu saja, gadis tengik!”. “Aku sudah tahu rencana busukmu! Kau ingin mendapatkan kecupannya, dasar menjijikkan, otak mesum!”. “Biar saja! Yang penting aku bisa mendapatkannya!”. “Donghae-ssi sepertinya sedang sial karena bertemu denganmu! Sudahlah ayo kita kembali ke tempat mereka! Tidak enak membuat mereka menunggu!”.
Eunhyuk dan Donghae terlihat sedang asyik mengobrol sambil sesekali tertawa bersama. Mereka tampak akur bagaikan saudara kembar. “Maaf membuat kalian menunggu!”, ujar Haneul pada Donghae dan Eunhyuk. “Oh tidak apa-apa”, sahut Eunhyuk. “Hei, bagaimana kalau kita naik kereta gantung?”, celetuk Donghae tiba-tiba. “Ah ide bagus, ayo!”, ucap Haneul. “Kereta gantung? Apakah aman?”, tanya Hana agak khawatir. “Apa kau takut ketinggian?”, Eunhyuk balik bertanya. Hana hanya mengangguk pelan. “Tidak apa-apa, itu aman. Kau tenang saja, selama ada Eunhyuk disampingmu, kau aman. Tapi berhati-hatilah padanya sedikit. Mungkin dia akan memelukmu atau bahkan lebih, mengingat banyaknya koleksi blue film-nya, mungkin dia akan mempraktekkannya hahaha..!”, kata Donghae membuka aib Eunhyuk. “Apa!?”, ujar Hana dan Haneul bersamaan dengan tampang terkejut, lalu saling berpandangan. “Bukkk..”, Eunhyuk memukul kepala Donghae. Donghae mengaduh kesakitan sambil tertawa dan mengusap-usap kepalanya. “Itu tidak benar! Jangan percaya pada ucapannya! Aku bukan pria semacam itu!”, Eunhyuk membela diri. Hana menatap mata Eunhyuk, dia melihatnya berkata jujur. “Kau berkata sembarangan, Donghae-ssi. Aku tidak percaya itu hahaha..”, ucap Hana seraya tertawa demi mencairkan suasana. Eunhyuk hanya tersenyum mendengar ucapan Hana. “Ayo kita kesana sekarang!”, teriak Haneul bersemangat.
Ternyata antrian untuk menaiki kereta gantung cukup panjang. Mereka pun harus sabar mengantri. Sambil menunggu, Eunhyuk pun pergi membeli cemilan dan minuman untuk dimakan nanti. Donghae mengusulkan agar menaiki kereta yang terpisah, katanya takut kelebihan beban, padahal itu hanya alasan saja. Sebelumnya mereka telah merencanakan agar bisa berkencan berdua dengan pasangan masing-masing. Akhirnya setelah mengantri selama 30 menit, mereka pun mendapatkan giliran masuk ke kereta gantung tersebut. Haneul dan Donghae sudah terlebih dahulu masuk ke keretanya, kemudian giliran Hana dan Eunhyuk.
“Wah, pemandangannya indah sekali! Kota Seoul tampak kecil jika dilihat dari atas sini!”, seru Hana. Eunhyuk hanya mengangguk dan mengiyakan sambil tersenyum melihat Hana yang tampak senang. Lalu tiba-tiba kereta itu pun bergerak maju. “Keretanya bergerak! Apa ini aman? Sungguh tidak apa-apa bukan? Kapan kita akan turun?”, ujar Hana yang mulai ketakutan. “Tidak apa-apa, ini aman. Kau tidak usah khawatir. Kau duduk saja!”, sahut Eunhyuk. “Kepalaku jadi pusing saat melihat ke bawah”, ucap Hana yang tertatih-tatih saat ingin duduk. Tiba-tiba saja keretanya bergoyang dan membuat Hana kehilangan keseimbangan. “Hati-ha…” Brukk! Mereka berdua kehilangan keseimbangan dan terjatuh di lantai kereta. Tangan Eunhyuk menahan kepala Hana, akan tetapi karena tak sengaja bibir mereka bertemu. Dalam beberapa detik pula mata mereka bertatapan. Setelah menyadari terjadinya kecelakaan kecil itu, mereka segera bangkit berdiri dan duduk berhadapan, bukan bersebelahan. Wajah mereka tampak memerah hingga mereka tak sanggup berkata apa-apa.

posted by Iyagi

%d blogger menyukai ini: